Jumat, 23 Januari 2015

UG Rumah Cerdas Generasi Bangsa


Universitas Gunadarma Rumah Cerdas

 Generasi Bangsa


Visi UG diantaranya adalah "Pada tahun 2017 menjadi perguruan tinggi swasta yang memberikan konstibusi signifikan bagi peningkatan daya saing bangsa"
Kalimat diatas membawa pengaruh yang signifikan pada kegiatan akademis dan kehidupan bermasyarakat  di dunia kampus UG.

UG adalah " rumah dan laboratorium " yang diharapkan mampu melahirkan generasi bangsa yang cerdas secara intelegensi dan emosi, mampu mewujudkan kecerdasan yang didefinisikan oleh Howard Gardner "Kecerdasan adalah kecakapan untuk memecahkan masalah yang dihadapinya, kecakapan untuk mengembangkan masalah baru untuk dikembangkan dan kecakapan untuk melakukan sesuatu yang bermanfaat dalam hidupnya."

Generasi muda yang bergabung menjadi bagian dari keluarga UG berasal dari berbagai latar belakang budaya, ekonomi, potensi  yang berbeda, mereka mempunyai cita-cita, mimpi dan harapan untuk masa depannya. UG yang mereka pilih, diharapkan mampu membuka pintu untuk mewujudkannya

UG ibarat sistem  keluarga, ada orangtua, anggota keluarga, pendidikan dan pengajaran, norma hidup yang akan ditransfer  pada generasi berikutnya  dan aturan yang harus dipahami dan dijalankan.

Sebagai mahasiswa, generasi-generasi muda akan tumbuh dan berkembang dengan bimbingan dosen sebagai "orangtua" di kampus yang mampu melihat dan menggali potensi terbaik dan mengembangkannnya hingga menjadi suatu keberdayaan. Mahasiswa dipacu untuk meningkatkan kualitas diri, ilmu pengetahuan serta keterampilan hingga mereka mampu mencapai titik optimal disertai dengan self control yang baik.

Dosen adalah orangtua dikampus yang bukan hanya akan mengajarkan ilmu pengetahuan tetapi juga transfer jiwa, mereka akan berperan dalam berbagai macam  model pengasuhan  apakah akan menjadi "orang tua yang otoritatif" yang memahami kelebihan dan kekurangan anak didiknya dengan memberikan komunikasi dua arah, diskusi yang bermutu hingga mahasiswa mampu untuk mengaktualisasikan dirinya dengan baik, percaya diri, matang dan mampu menyesuaikanmahasiswa  diri dengan baik, atau model "orangtua otoriter" yang mendidik dengan pola satu arah dan tidak menerima masukan dan menutup jalur diskusi hingga diharuskan hanya mengcopy-paste tanpa diberi kesempatan untuk mengembangkan diri, atau model "orangtua permisif" yang membiarkan begitu saja yang penting semua materi bisa disampikan dan tepat waktu

Sistem yang dijalankan di kampus dan dosen menjadi "Role Model" nyata. Menurut Ericcson usia remaja adalah masanya anak mencari identitas diri dan mencari figur ideal yang secara bertahap akan mengembangkan nilai-nilai ideal dalam kehidupannya. Ketika berhasil menemukan identitasnya meraka akan menjadi individu yang bekualitas. Kampus  adalah "rumah" dan lingkungan sosial dimana mereka mencari role model yang nyata. 

Individu yang cerdas dan berkualitas tidak hanya dengan mendapatkan nilai akademis yang memuaskan. Nilai akademis bukan satu-satunya yang menentukan keberhasilan ketika mahasiswa sebagai generasi muda terjun ke masyarakat, justru proses dan tanggung jawablah yang akan menentukannya. Bagaimana mereka menghargai kualitas dan potensi yang dimiliki hingga menjadi manusia yang berdaya, siap dengan perubahan yang cepat,beradaptasi dengan baik pada lingkungan dan menjadi pribadi-pribadi kreativ dan inovatif.

Ilmu tentang hidup yang didapat di kampus menjadi cahaya bagi perjalanan berikutnya, menghargai sesama manusia tidak hanya berdasarkan atas nilai-nilai kuantitatif tetapi juga nilai kualitatif dan kedalaman kecerdasan emosi. Menghargai dan gigih berjuang dsiertai dengan moral yang benar menjadi fondasi dan kekuatan untuk meraih tujuan hidup, bukan dengan jalan pintas dan kecurangan. Kegagalan tidak membuat frustasi dan mundur hingga takut untuk melangkah, justru bagaimana kegagalan itu menjadi pendorong untuk menemukan jalan keluar yang brilian hingga menuai kesuksesan. 

Keberagaman latar belakang, pribadi dan budaya yang berinteraksi di kehidupan kampus adalah  sebuah laboratorium bagi kehidupan sosial yang akan dijalani setelah mereka terjun pada kehidupan masyarakat sesungguhnya. Bagaimana mahasiswa sebagai generasi muda mampu mengatasi perbedaaan tersebut dengan mengembangkan kecerdasan intrapersonal dan interpersonal. Kecerdasan itu diasah dengan bekerjasama sebagai satu tim yang solid dalam kegiatan-kegiatan kemahasiswaan di kampus, bagaimana mereka menyatukan berbagai macam potensi dan opini untuk mencapai tujuan bersama. Perbedaan yang terjadi tidaklah menjadi sesuatu yang melemahkan tetapi menjadi peluang untuk melihat satu persoalan dari sisi yang berbeda. 

Kegiatan pendidikan dan target-target yang harus dicapai oleh mahasiswa UG diharapkan tidak menjadi beban yang akan menimbulkan konflik dan frustasi, justru dengan target-target tersebut melatih mahasiswa sebagai generasi muda untuk  smart mengatur jadwal kuliah dengan  kehidupan sosial, memanfaatkan sarana yang disediakan kampus dengan optimal, mengatasi rintangan  dengan langkah yang jelas dan terukur. Hal tersebut bukan sesuatu yang mudah dilakukan dan terjadi dalam waktu singkat, perlu latihan dan kebulatan tekad. Proses  pencapaian  target menjadi sarana bagi mahasiswa berlatih untuk survival, bertahan dan mampu mengatasi hambatan. Test, ujian dan evaluasi yang diselenggarakan adalah alat ukur dimana mahasiswa mengukur kemampuan dirinya secara kuantitatif, mengukur sejauh mana dia mampu memahami dan menyerap ilmu pengetahuan yang diberikan dan menjadi pijakan bagi langkah selanjutnya.

Mata kuliah softskills diselenggarakan oleh UG sebagai kemampuan  yang disertakan selain kemampuan hardsklills bagi seluruh mahasiswa UG. Dengan adanya matakuliah ini mahasiswa dilatih kecerdasan interpersonal dan intrapersonalnya. Kecerdasan yang diperlukan ketika mereka terjun sebagai bagian dari kehidupan sosial masyarakat. Matakuliah softskills diharapkan mampu mengasah keterampilan komunikasi, kecakapan hidup, dan keberadaan mereka di masyarakan lebih bermakna.  Etika pergaulan  dipelajari dan dipahami, sehingga mampu beradaptasi dengan baik sesuai dengan norma agama dan bangsa, menjadi generasi muda yang pintar secara intelegensi dan emosi. 

Keselarasan kehidupan manusia dengan alam menjadi hal yang tidak bisa dikesampingkan, mahasiswa UG diharapkan mengembangkan kecintaaan terhadap alam dan lingkungan, menghargai kehidupan, menjaga kelestariannya dengan mempertahankan keseimbangan ekosistem. Alam dan lingkungan akan berpengaruh pada daya pikir dan  keberlangsungan suatu bangsa. Pemimpin bangsa yang berhasil dan bijak salah satunya mampu mengoptimalkan potensi alam yng dimiliki tanpa merusak keseimbangannya... bukankah sekitar 5 atau 10 tahun ke depan mahasiswa UG adalah bagian dari generasi-generasi yang akan membuat keputusan penting bagi bangsa ini? Semoga

Proses yang dijalani mahasiswa UG sebagai generasi bangsa menjadi manusia yang cerdas dan berguna bagi diri, keluarga dan bangsanya  bukan suatu proses yang mudah, diperlukan kerjasama yang solid dari berbagai pihak yang terlibat, kegigihan dan kerja keras... tapi itu akan terbayar bila nanti mahasiswa-mahasiswa UG setelah lulus dan terjun dalam kehidupan masyarakat menjadi generasi berkualitas dan membawa bangsa ini menjadi pemain utama.






Tidak ada komentar:

Posting Komentar