Kasus Psikoterapi Eksistensial Humanistik, Person Centered Therapy, dan Logoterapi
Kasus Ariana
Ariana wanita muda berusia 23 tahun, ia adalah seorang mahasiswi kedokteran tingkat akhir di sebuah universitas negeri terkemuka. Ia adalah seorang yang cerdas dan pintar, terbukti tiap semester ia selalu mendapatkan IP di atas 3,5. Beberapa bulan terakhir Ariana menunjukkan perubahan yang signifikan, menjadi pemurung, menarik diri dari pergaulannya, menutup komunikasi dengan orangtua dan sering membolos dari kuliahnya dan akhirnya dia mengundurkan diri dan perkuliahannya. Hal ini tentu membuat kaget orangtua Ariana yang keduanya berprofesi sebagai dokter. Selama ini mereka menaruh harapan yang besar, Ariana akan mengikuti jejak mereka dan menjadi contoh bagi adik-adiknya. Kejutan tidak sampai disana secara tiba-tiba Ariana keluar dari rumah tinggal bersama neneknya dan memutuskan untuk mendaftarkan diri sebagai mahasiswa baru di sekolah kuliner. Hubungan dengan orang tua menjadi buruk.Ayah dan ibunya tetap memaksa Ariana untuk kembali ke bangku perkuliahan karena menurut mereka keahlian memasak itu tidaklah seprestise seorang dokter. Penolakan dari kedua belah pihak terus berlanjut, pertengkaran tak bisa dihindarkan. Disatu titik Ariana merasa semua orang terdekat menolaknya, pertengkaran, kecemasan, ketidakpastian membawa Ariana tingkat depresi yang berat dan akhirnya Ariana memutuskan untuk mendatangi seorang psikoterapis.
Ariana bercerita bahwa dia merasa lelah dalam hidupnya selama ini dia hanya menjalankan apa yang telah orangtuanya tentukan sejak kecil dan tidak boleh membantah, tiap kali Ariana ingin memberi pendapat ayahnya selalu berkata "Anak kecil tahu apa? orang tua itu lebih berpengalaman tahu yang terbaik untuk anaknya, kamu hanya cukup menurut apa yang Ayah katakan dan kamu akan berhasil. Aroma persaingan yang begitu ketat diterapkan di keluarga, sebagai nak sulung Ariana harus menjadi terbaik dalam bidang apapun dan kalau mengalami kekalahan Ayah dan Ibunya akan kecewa, tidak segan memarahinya dan menghukumnya dengan melontarkan kata-kata " kamu anak tidak berguna, masa yang begini saja kalah, lihat tuch si A sepupumu dia sukses tidak seperti kamu yang gagal" . Selama ini Ariana selalu berusaha melakukan apa yang orangtua katakan kalaupu dia sukses tidak pernah ada kata pujian, ayahnya selalu berkata "itu adalah kewajiban kamu". Ariana merasa kalau dia gagal dia akan membuat orangtuanya kecewa berat, dirinya menjadi tidak berguna dan dunia sekan menolaknya. Ariana iri bila melihat teman sebayanya bercengkrama atau melakukan kegiatan yang menyenangkan seperti nonton, belanja, naik gunung. Ariana diijinkan melakukan kegiatan tersebut karena menurut orangtuanya itu hanya menyia-nyiakan waktunya yang berharga, lebih baik digunakan untuk belajar. Akhirnya Ariana hanya sedikit mempunyai sahabat, tetapi ia selalu curiga bahwa mereka mau berteman dengannya karena kepintaran dan sosial ekonominya saja. Ariana merasa dia tidak dapat membina hubungan yang hangat dengan keluarga terdekat yaitu Ayah dan Ibu,saudaranya dan temanya. Hubungan hangat Ariana rasakan ketika menguinjungi neneknya yang mempunyai hobi memasak, percakapan mereka berdua di dapur, aroma masakan yang lezat selalu membuatnya nyaman. Sekali-kali Ariana mencoba resep baru dengan neneknya dan ternyata berhasil, bahkan neneknya memuji bahwa Ariana mempunyai bakat memasak seperti dirinya, kepekaan rasa dan intuisi yang tepat, bahkan sekali-kali neneknya mengatakan mungkin Ariana berbakat menjadi seorang chef.
Ariana berpikir apakah ia akan terus hidup seperti ini? Apakah dalam kehidupan 5 tahun dari sekarang ia akan terus menjalankan kehidupan yang dia tidak suka? atau apakah mungkin dia bisa menemukan kebahagian bila ia tidak mengikuti apa yang orangtuanya telah tetapkan? Apakah keputusannya untuk memilih keluar dari kuliah kedokterannya itu tepat? Apakah dia bisa menerima tekanan yang diberikan orangtua dan siap menerima ejekan, penolakan, cibiran bila langkah yang diambil untuk memasuki sekolah kuliner ternyata tidak bisa memberikan kesuksesan? Ariana cemas dan gelisah bisakah ia berdiri di kakinya sendiri?
Dari kasus Ariana kita coba lihat dari berbagai pendekatan
Terapi Eksistensial-Humanistik
Konselor atau terapis yang berorientasi eksitensial-humanistik akan mendekati Ariana dengan pandangan bahwa ia memiliki kesanggupan untuk memperluas kesadarannya dan memutuskan sendiri arah kehidupan masa depannya. Terapis akan meminta Ariana untuk menyadari bahwa dia tidak perlu terpaku dengan masa lalu tetapi dia bisa menjadi arsitek bagi hidupnya sendiri.Dia bisa membebaskan diri dari keinginan-keinginan orang lain dan menerima tanggung jawab yang dibuat untuk mengarahkan kehidupannya. Terapis penting untuk memahami dunia Ariana dan membangun hubungan yang otentik sebagai alat untuk meningkatkan pemahaman diri.
Kecemasan akan penolakan, keterasingan,ejekan dan cibiran adalah hal yang harus dihadapi Ariana dengan sehat, kecemasan adalah bagian yang vital dan realistis dan menuntun agar dapat menghadapi kondisi-kondisi tersebut dengan baik. Perasaan bersalah, takut mengecewakan akan berguna jika berlandaskan kesadaran atas penyia-nyiaan potensinya sendiri. Ariana harus menerima kenyataan bahwa dia akan sekali-kali mengalami kegagalan dalam hidupnya ataupun kesendirian bila ia tetap mempertahankan kecurigaan dalam hibungan sosial (Teman dan keluarga).
Terapis eksistensial akan membuat Ariana sadar akan potensi yang ia miliki dan belajar untuk menemukan keterpusatan nya sendiri dan dalam hidup dengan nilai-nilai yang dipilih dan diciptakannya sendiri. Terapis membuat proyek-proyek yang dapat mengeksplorasi daya dan potensi yang dimiliki, dengan demikian diharapkan Ariana dapat menjadi pribadi yang lebih berbobot dab belajar menghargai dirinya sendiri serta mengurangi ketergantungan pada orangtua atau orang lain dalam membuat keputusan dalam hidupnya.
Person-Centered Theraphy
Ariana telah menemukan apa yang paling diinginkan dalam hidupnya, dia telah mencoba untuk menemukan tujauan yang bermakna bagi dirinya, dia termotivasi untuk berubah meskipun ada kecemasan akan perubahan. Terapis akan menaruh kepercayaan pada kemampuan Ariana bahwa ia akan menemukan jalannya sendiri dan mempercayai dirinya bahwa ia di dalam dirinya memiliki sumber-sumber yang diperlukan bagi perkembangan pribadinya.
Ariana akan didorong secar bebas untuk berbicara tentang kecemasannya, perasaan gagal, ketakutan akan kesenderian, perasaan negatif ketika masuk dalam hubungan sosial. Terapis akan memberikan kepada Ariana kebebasan dan rasa aman untuk mengeksplorasi aspek-aspek yang mengancam dirinya dan menahan diri dari keinginan menghakimi dan mengkritik Ariana atas perasaan-perasaan negatif yang dimiliki. Terapis akan berusaha mengalami sepenuhnya pada saat sekarang bagaimana hidup dalam dunia Ariana.
Hubungan terapis yang otentik dengan Ariana berlandaskan keprihatinan, pengertian yang dalam dan penghargaan atas perasan-perasaannya, kehangatan dan penerimaan yang non posesif dan kesediaannya untuk mendorong Ariana mengeksplorasi segenap perasaanya selama pertemuan terapi. Terapis akan menberikan kepada Ariana sikap-sikap dasar pengertian dan penerimaan. Melalui pandangan positif dari terapis Ariana diharapkan mampu menanggalkan tuntutan-tuntutannya dari oranglain dan dapat mengeksplorasi secara penuh dirinya.
Ariana akan tumbuh secara pribadi dalam hubungan dengan terapis yang bersedia menunjukkan ketulusan, belajar untuk menerima dirinya sendiri dengan segal kelemahan dan kekurangan . Dia bisa mengeksplorasi perasaan dihakimi oleh orangtua dan dia akan memiliki kesempatan untuk mengungkapkan perasaanya karena tidak mampu memenuhi harapan orangtua dan dia bisa menunjukkan perasaan terluka karena tidak dicintai dan perasaan kesepiannya karena tidak memiliki hubungan sosial yang hangat. Dalam mengungkapka perasaannya Ariana tidak akan lagi merasa sendirian karena ia mengambil resiko membiarkan terapis memasuki dunianya. Melalui hubungan dengan terapis Ariana akan memiliki kesanggupan untuk mengerahkan kekuatan sendiri dalam membuat keputusan, Hubungan dengan terapis akan membebaskan Ariana dari cara-cara meniadakan dirinya. Berkat perhatian dan kepercayaan dari terapis , Ariana akan mampu meningkatkan kepercayaan akan kemampuan pada dirinya sendiri dan keyakinan untuk mengatasi masalah-masalah dalam hidupnya yang baru.
Logoterapi
Terapis akan mendorong Ariana untuk menemukan sendiri makna dalam hidupnya dan disadarkan bahwa pencarian makna itu hanya dapat dilakukan oleh dirinya sendiri dan tidak oleh orang lain. Ariana diajak untuk fokus pada kehidupannya yang sekaran dan masa yang kan datang danterlepas dari pengaruh masa lampau. Kegagalan ataupun keberhasilan akan memperkaya makna hidup dari soang Ariana. Kecemasan, ketidakpastian, kegagalan, keberhasilan menjadi motivasi untuk menemukan makna hidup.
Ariana disadarkan bahwa orangtua guru ataupu orang lain hanya mengarahkan tetapi keputusan akan kebermaknaan hidup ada di tangan Ariana sendiri. Hendaknya apaun keputusan Ariana sekarang meninggalkan kuliah kedokteran dan keinginan untuk mempelajari kuliner secara serius dalah bentuk dari kebebasan yang Ariana inginkan. Kebebasan itu harus dapat dipertanggungjawabkan tidak berdasarkan kemarahan ataupu keinginan untuk memberontak tetapi harus didasarkan pencarian makna hidup yang akan memuntun perkembangan..
Terapis akan mendorong Ariana untuk mencapai tanggung jawab pribadi. Tanggung jawab kitalah untuk menemukan cara kita sendiri dan tetap bertahan didalamnya. Kondisi- kondisi di luar diri Ariana harus dihadapi dengan tanggung jawab dan bebas menentukan maksud yang terdapat dalam setiap kondisi,
Perasaan cemas, ketakutan, kesepian. rasa bersalah dapat direspon dengan perbuatan yang mengungkapkan dengan jelas arti yang terdapat dalam kondisi itu. Semua pilihan akan menghadapkan kita pada tanggung jawab, hendaklah dalam memilih keputusan bagi diri Ariana dibimbing tidak berdasarkan insting-insting tetapi dibimbing untuk membuat keputusan itu dengan aktif.
Daftar Pustaka:
- Corey,G.(2009). Teori dan praktek konseling dan psikoterapi. Bandung: Refika Aditama.
- Feist,J.,Feist,G.I.(2014) Teori Kepribadian 2.Jakarta: Salemba Humanika.
- Pomerantz, A,M.(2013).Psikologi klinis ilmu pengetahuan, praktik dan budaya. Yogyakarta:Pustaka Pelajar.