Terima Kasih Guru...
Terima kasih untuk semua guru kehidupan yang hadir menemani dan memberi cahaya di sepanjang perjalanan. Selamat Hari Guru...
25 November ditetapkan sebagai Hari Guru Nasional. Mengingat hari itu ijinkan untuk mengucapkan terima kasih pada semua guru yang hadir dan menemani dan memberi cahaya di sepanjang perjalanan hidup.
Profesi guru bukan hal yang baru di keluarga, hampir 50 % kerabat dari pihak ayah atau ibu berprofesi sebagai guru. Hidup dilingkungan pendidik memang memberikan atmosfir yang berbeda. Apalagi dalam keluarga anak perempuan lebih baik mengambil peran menjadi seorang guru atau pegawai pemerintahan, dengan alasan wakyunya lebih fleksibel, bisa tetap berkarir tapi tidak pernah melalaikan kewajiban di keluarga.
Ditulisan ini, ijinkan saya untuk berbagi..kenapa kehadiran guru menjadi hal yang sangat penting membentuk saya yang sekarang
Sepanjang perjalanan, ada beberapa guru yang menorehkan jejak yang mendalam dan berkesan Belaiau adalah Pak T dan Pak S guru yang mendidik saya ketika masih di sekolah dasar.
Pak S adalah guru dengan penampilan yang santai, penuh senyum dan bahkan beberapa murid dan orang tua mengatakan Beliau seakan guru yang acuh dan tidak mau bertanggung jawab pada tugasnya. Mungkin hal itu didasari dengan tidak ketatnya peraturan di kelas Beliau nampaknya tidak terlalu berpedoman pada rencana pengajaran. Ketika di kelas Beliau mempersilakan muridnya untuk melakukan apa yang murid itu inginkan. Saya salah satunya,,,he,,.he,,, saya menyukai pelajaran membaca, menulis dan berhitung tapi pada saat itu saya sangat menyukai dunia seni...terutama menyanyi dan membaca puisi. Saya sangat bersemangat untuk menghapalkan lirik lagu dan nadanya, menghapal barisan puisi yang saya baca di majalah anak-anak. Ada kesenangan yang sulit saya lukiskan, ketika menyanyi atau membaca puisi saya merasa bisa berada di dunia yang "indah".
Ketika waktunya pelajaran berhitung atau menulis..biasanya saya akan mengikuti pelajaran yang diberikan terlebih dahulu dan bila sudah selesai saya akan mengacungkan tangan dan mengatakan "Pak, saya sudah selesai..bolehkan saya sekarang menyanyi"? atau kadang "Pak, saya baru menghapal puisi yang baru, bolehkah saya membacakannya di depan kelas?". Ha..ha..ha.. mungkin kedengarannya lucu ya dan mungkin mengganggu. Tapi Pak S cuma tersenyum, Beliau berkata.."Kalau sudah beres kamu boleh tampil di depan ". Pada saat itu buat saya sekolah menjadi tempat yang paling menyenangkan, saya bisa belajar dan menyalurkan hobi. Tiap hari pergi ke sekolah dengan semangat. Dengan bimbingan Pak S saya mencintai dunia seni, entahlah itu menggambar, musik, bernyanyi, bercerita atau belajar menulis dengan indah. Pak S tidak pernah membatasi dan melarang saya untuk melakukan apa yang saya suka..asalkan tugas saya sudah selesai. Tiap hari saya menyiapkan kegiatan yang berbeda, misalnya Senin adalah hari menyanyi, Selasa adalah hari membaca puisi, Rabu adalah hari saya bercerita tentang dongeng di depan kelas, Kamis bisa jadi itu adalaah hari menari. Ha..ha..ha..tiap hari saya sibuk membuat jadwal tampil dan mengerjakan tugas sekolah..dan itu sangat menyenangkan. Saya belajar untuk mengekspresikan diri, belajar untuk tampil dan berbicara di depan, saya belajar untuk menerima cemoohan..ha..ha..ha.. karena kadang sifat saya itu mengganggu yang lain bukan?wkwk.
Guru dan pendidik yang hadir dan membuat saya menjadi seorang yang menyenangi dunia menghitung dan menghapal adalah Pak T. Selain seorang pendidik, Beliau menjabat sebagai kepala sekolah. Rumah Pak T hanya berjarak 200 m dari rumah. Istri pak T membuka toko. Ibu biasanya belanja di sana dan saya kebagian tugas untuk berbelanja. Belanja menjadi hal yang menyenangkan dan menantang..ha..ha..ha.. kenapa demikian? ok..saya akan cerita..
Ayah dan Ibu adalah pegawai negeri, ada kalanya Beliau sibuk dengan urusan kantor, sehingga kami dididik dengan cukup "keras". Mereka selalu mengharapkan anak-anaknya bisa belajar dengan baik dan berhasil. Salah satu metode yang diterapkan adalah menghapal. Hampir tiap hari saya di suruh untuk belanja. Tiap belanja lebih dari 3 jenis, entah itu bumbu, makanan dan lain-lain yang harus dibeli. Peraturannya kami tidak boleh mencatat daftar belanjaan di kertas, tapi harus menghapalnya sampai hafal. Kadang menyebalkan..ha..ha..ha.. sebelum hapal belum boleh belanja. Ayah, Ibu dan Pak T seperti sebuah Tim. Kalau di rumah saya di suruh menghapal, begitu sampai toko saya harus mengulangnya, dan biasanya Pak T akan melayani saya belakangan. Selama menunggu saya komat-kamit menghafal daftar belanjaan takut salah, begitu giliran saya akan lega. Tapi tunggu dulu itu belum selesai, tugas berikutnya akan lebih menuntut otak saya bekerja keras. Kenapa? karena pelajaran matematika secara tidak langsung akan saya hadapi.
Pak T mempunyai kebiasaan, Beliau tidak pernah menggunakan kalkulator untuk menghitung berapa belanjaan yang saya harus bayar, tetapi menggunakan kertas dan saya yang harus menghitungnya. Contoh : Ibu menyuruh saya membeli telur 1/2 kg. Pak T akan bilang "Harga 1 kg telur adalah Rp 16.000,- karena kamu membeli 1/2 kg berapa yang harus kamu bayar?" setelah dijawab, Beliau akan menuliskannyanya di kertas. Itu semua berlaku untuk seluruh belanjaan saya, misalnya saya dikasih hadiah oleh ibu, boleh membeli coklat, karena 3 bersaudara saya diharuskan beli 3. Pak T akan bertanya, "Harga satu coklat 1500 kalau kamu beli tiga berapa yang harus dibayar"? ha..ha..ha..Setelah pembagian dan perkalian, nanti saya akan belajar penjumlahan kebawah. Pak T akan menuliskan harga semua belanjaan saya di atas kertas dengan di bikin kolom, setelah itu kita akan sama-sama menjumlahkannya, Pak T menuliskannya, saya yang menghitungnya. setelah beres semua, tugas saya masih ada satu lagi yaitu pengurangan. Misalnya total belanja saya adalah Rp 17500 dan saya di kasih uang oleh Ibu Rp 20.000,-. Maka Pak T akan bertanya berapa jumlah kembaliannya? dan saya akan menghitungnya kembali..ha..ha..ha..Saya tidak berani menolak, karena Beliau adalah guru saya..ha..ha..ha..
Kegiatan itu terus berulang dari kelas 1 sampai kelas 6. Dari kegiatan berbelanja, saya belajar memahami soal cerita matematika, melrasa bahwa belajar matematika adalah sesuatu menyenangkan, tidak menakutkan dan berguna dalam kehidupan. Saya memang tidak jago dan mahir dalam pelajaran matematika, tapi saya tetap menyenanginya sampai sekarang.
Beliau berdua, selain orangtua saya, adalah guru-guru dan pendidik jiwa yang mengajar dengan hati. Secara tidak langsung saya dibentuk, diperbaiki di bimbing dengan ditumbuhkan daya kreativitasnya. Saya tidak merasa belajar menjadi sesuatu yang menjadi beban. Mereka mengajar dengan suatu bentuk yang berbeda. Saya amat sangat bersyukur diberi kesempatan untuk menjadi murid Beliau di tahap perkembangan jiwa yang penting. Diberi kesempatan untuk berkembang, diajari tanggung jawab sosial dan moral.
Mereka berdua menjadi role model yang membuat saya mencintai profesi seorang pendidik. Walaupun dulu saya sempat menghindar dari profesi itu tapi akhirnya hati kecil saya mengatakan.."Jiwa saya ternyata ada di dunia pendidikan" entahlah saya mempunyai hobi sekolah..di dunia pendidikan saya menjadi seseorang yang bisa bernafas dengan mudah, menerima dan berbagi ilmu, sharing pengetahuan, berdiskusi dengan topik yang menarik, berdebat untuk saling memperbaiki dan bukan untuk menjatuhkan. Dunia pendidikan memiliki sejuta pesona..
Dengan pesona itulah, saya berani untuk memutar arah kehidupan. Uji nyali untuk kembali ke dunia pendidikan dan bercita-cita serta berharap suatu hari nanti saya bisa menjadi pendidik hati, pembentuk jiwa dan karakter, ilmu yang saya punya dan bagi akan menjadi penerang. Cinta dan kasih sayang yang saya terima dari semua guru yang hadir di kehidupan menjadi perpanjangan untuk kebaikan. Jalan ini masih sangat panjang...tapi bukan hal mustahil untuk di wujudkan. Terima kasih untuk semua guru...membantu saya mengetahui..dimana saya harusnya berada..
Selamat Hari Guru..
Daptar Pustaka:
Gambar di kutip dari
Anonim. Koleksi kado dan kartu ucapan selamat hari guru. (2014).www.melvister.com. Diunduh 30 November 2016 Jam 08.50 WIB.