Sistem Teknologi Informasi dalam Penelitian dan Pencegahan Pedofilia
A. Pengertian
Menurut Raymond (dalam Davidson, 2012),
pedofilia lebih banyak diidap oleh laki-laki daripada perempuan. Gangguan ini
seringkali terjadi komorbid dengan gangguan mood dan anxietas, penyalahgunaan
zat, dan tipe parafilia lainnya. Pedofilia
bisa heteroseksual ataupun homoseksual.
Meskipun sebagian besar pedofil
tidak melukai korbannya secara fisik, beberapa diantaranya sengaja
menakut-nakuti anak secara mental, misalnya membunuh hewan peliharaan anak atau
mengancam akan menyakiti senang mereka bila melapor pada orang tuanya. Kadang
pedofil senang membelai rambut si anak, atau memainkan alat kelamin anak,
mendorong si anak untuk memainkan alat kelaminnya dan yang lebih jarang adalah
memasukkan alat kelaminnya ke alat kelamin anak. Pencabulan tersebut dapat terus berlangsung selama beberapa minggu ,
bulan atau tahun jika tidak diketahui oleh orang dewasa lainnya atau jika si
anak tidak memprotesnya. Para pedofil memanfaatkan kenaifan korbannya dan
hubungan kekuasaaan yang tidak seimbang antara orang dewasa dan anak
Pornografi
anak kadang dianggap sebagai factor penting yang memotivasi sebagian orang untuk melakukan pencabulan anak, tetapi
menurut sebuah studi penelitian, para laki-laki tersebut terangsang oleh
berbagai material media yang sangat mudah di dapat, seperti iklan televise dan catalog
pakaian yang menampilkan anak-anak kecil
memakai pakaian dalam. Konsumsi alcohol dan stres meningkatkan kemampuan
seseorang untuk mencabuli anak. Pencabul anak memiliki fantasi seksual tentang
nak-anak di saat mood mereka negatif. Data menunjukkan bahwa pedofil umumnya
memiliki kematangan social yang rendah ,
harga diri rendah, pengendalian impuls dan keterampilan social yang rendah.
Pedofil heteroseksual sebagian besar telah atau pernah menikah
Separuh
dari seluruh pelaku pencabulan anak
dilakukan oleh remaja laki-laki, sekitar 50% penganiaya berusia dewasa
mulai berperilaku melanggar hukum di awal remaja. Para remaja tersebut umumnya
memiliki keluarga yang penuh kekacauan dan negative. Keluarga mereka seringkali
kurang memiliki struktur dan kurang memberikan dukungan positif. Banyak
diantara mereka juga yang mengalami pelecehan seksual di masa kanak-kanak.
Mereka yang melakukan pencabulan anak lebihterisolasi secara social dan
memiliki keterampilan social yang lebih rendah dibandingkan teman
sebayanya.Mereka mengalami kesulitan akademis , secara umum pelaku adalah
mereka yang dianggap banyak orang sebagai penjahat remaja.
Menurut
Gobert ( dalam Davidson, 2012) pedofil
umumnya mengenal anak-anak yang mereka cabuli, mereka adalah tetangga atau
teman keluarga. Orang yang mencabuli biasanya bukan orang yang tidak dikenal,
bisa saja paman, saudara kandung laki-laki, guru, pelatih, tetangga bahkan
pemuka agama. Penganiaya anak seringkali adalah laki-laki dewasa yang dikenal
si anak dan mungkin juga dipercayainya.
B. Efek
Pedofilia pada Anak
Pedofilia
jauh lebih banyak dibandingkan dengan perkiraan sebelumnya. Dari sebuah studi
terhadap 796 mahasiswa di Amerika secara mengejutkan bahwa 19% dari para
perempuan dan 8,6 % dari para laki- laki menuturkan bahwa mereka mengalami
penganiayaan seksual di masa kanak-kanak. Efek pelecehan seksual pada anak
dalam jangka pendek bervariasi, diantaranya adalah kecemasan, depresi, harga diri
yang rendah dan gangguan tingkah laku, sifat penganiayaan pada diri sendiri,traumatic,
stress yang diperparah dengan oleh
ancaman yang sering dilakukan oleh penganiaya. Efek pelecehan seksual anak
dalam jangka panjang diantaranya adalah gangguan disosiatif, gangguan makan,
gangguan kepribadian ambang,depresi, sangat tidak percaya pada orang lain,
penyalahgunaan zar terlarang, gangguan disfungsi seksual.
C. Pencegahan
Upaya
pencegahan difokuskan pada sekolah-sekolah dasar, beberapa elemen yang harus
diinformasikan adalah mengajari anak-anak untuk mengenali perilaku orang dewasa
yang tidak pantas, menolak bujukan, segera menjauh dari perilaku tersebut dan
melaporkan insiden tersebut kepada orang dewasa yang tepat (Wolfe, dalam
Davidson 2012). Anak-nak dijari untuk mengatakan “tidak” secara tegas dan asertif bila ada orang dewasa
yang berbicara kepada mereka dan menyentuh mereka dengan cara yang membuat
mereka merasa tidak nyaman. Para penyuluh dapat menggunakan buku-buku komik,
film dan gambaran tentang situasi beresiko dalam upaya mengajarkan tentang
bagaimana cara anak-anak melindungi diri mereka sendiri
.
D. Penggunaan
Teknologi Informasi dalam Penelitian dan Pencegahan Pedofilia
Dalam
beberapa tahun terakhir, internet memiliki peran yang semakin besar dalam
pedofilia, para pedofil umumnya memanfaatkan internet untuk mengakses
pornografi anak dan menghubungi calon-calon korbannya (Durkin, 1997). Kelompok
hak asasi anak Terre des Hommes melakukan penelitian untuk memancing pelaku
pedofilia melalui webcam atau webcam child sex tourism (WCST). Para pedofil dipancing dengan anak virtual yang
didesain dengan metode tiga dimensi, memiliki perawakan Filipina, berusia
sekitar 10 tahun dan diberi nama “Sweetie”.
Penelitian dimulai dengan Sweetie memasuki ruang bincang public di
internet , dalam kurun waktu singkat, lebih dari 20.000 pedofil dari seluruh
dunia mendekati Sweetie dan
memintanya melakukan aksi seksual melalui webcam
perangkat computer. Para peneliti Terre de Hommes merekam pembicaraan dan
interaksi para pedofil dengan Sweetie. Kemudian
para peneliti mengumpulkan informasi pribadi pelaku kekerasan seksual pada anak itu
melalui media akun social. Dan informasi
tersebut diberikan kepada pihak polisi setempat atau berwenang untuk di tindak
lanjuti. Selama sepuluh minggu dioperasikannya
Sweetie dalam penelitian Terre de Hommes telah menunjukkan 1000 orang dewasa dari 71 negara
terlibat dalam pariwisata seks melalui webcam.
DAFTAR
PUSTAKA
Davidson,
G., Neale, M,J.,Kring,M,A.(2012). Psikologi
abnormal. Jakarta: Rajagrafindo Persada
Panji, A.(2013). Dipancing “bocah
perempuan”, 20.000 pedofil mendekat. www.kompas.com. Diakses 31 Oktober 2016
pukul 12.00 WIB
Tidak ada komentar:
Posting Komentar