TEORI MOTIVASI
Banyak
teori motivasi yang telah dikembangkan. Teori motivasi ini berkeyakinan bahwa
adanya kondisi internal dalam individu yang dinamakan kebutuhan atau motif
(Munandar, 2014). Dibawah ini akan dibahas empat teori motivasi yaitu: teori
motivasi reinforcement, teori motivasi, teori harapan, teori tujuan dan teori
hirarki kebutuhan Maslow.
1.
Teori
Pengukuhan (Reinforcement).
A. Pengertian
Teori
pengukuhan (Reinforcement)
berhubungan dengan teori belajar operant
conditioning dari Skinner. Teori ini mempunyai dua aturan pokok yaitu
aturan pokok yang berhubungan dengan pemerolehan jawaban-jawaban yang benar dan
aturan pokok yang berhubungan dengan penghilangan jawaban-jawaban yang salah.
Pemerolehan
dari suatu perilaku menuntut adanya suatu pengukuhan. Pengukuhan (reinforcement) dapat terjadi positif
atau negative. Reinforcement dapat
terjadi positif untuk satu jawaban yang benar dan dapat terjadi negative (
menghilangkan satu rangsangan aversif jika jawaban yang diinginkan telah
diberikan). Jika jawaban yang diinginkan belum dimiliki oleh organisme maka
jawaban tersebut perlu dibentuk. Pemerolehan timbul cepat jika reinforcement diberikan secara berkesinambungan.
Jawaban-jawaban yang tidak dikukuhkan atau dihukum akan hilang.
Untuk
penghilangan jawaban yang salah tidak disarankan untuk menggunakan hukuman
karena adanya efek sampingan, yaitu kemungkinan timbulnya rasa ketakutan dan
rasa permusuhan. Untuk penghilangan jawaban yang salah disarankan untuk tidak
menghiraukan jawaban-jawaban tersebut.
Siegel
dan Lane (dalam Munandar 2014) member saran bagaimana manajemenn dapat
meningkatkan motivasi kerja dari tenaga
kerja, yaitu dengan:
a. Menentukan apa jawaban yang diinginkan
b. Mengkomunikasikan dengan jelas perilaku ini kepada tenaga kerja
c. Mengkomunikasikan dengan jelas ganjaran apa yang akan diterima tenaga kerja jika jawaban yang benar terjadi.
d. Memberi ganjaran hanya jika jawaban yang benar dilaksanakan.
e. Memberikan ganjaran kepada jawaban yang diinginkan pada saat yang paling memungkinkan, yang terdekat dengan kejadiannya.
B. Impikasi Teori Reinforcement pada Organisasi
Teori
reinforcement didasarkan pada asumsi
bahwa corak motivasi reaktif, cenderung menunggu upaya atau tawaran dari
lingkungannya, ia mau bekerja jika didorong, dipaksa (di luar dirinya). Mc
Gregor (dalam Munandar, 2014) menyebutkan bahwa orang yang membutuhkan reinforcement adalah tipe X orang yang
malas, harus dipaksa untuk bekerja, yang tidak mau dibebani kerja.
Teori
ini bisa diterapkan di organisasi misalnya perusahaan.
Perusahaan
X pada kuartal pertama tahun 2016 mengalami penurunan dalam penjualan produknya
secara signifikan dibandingkan tahun 2015, setelah dianalisa penurunan
penjualan salah satunya karena produktivitas sales yang menurun. Untuk
meningkatkan kembali presentase penjualan produk maka manajemen mengambil
langkah:
a. Menetapkan
target penjualan untuk kurtal kedua, misalnya peningkatan sebesar 30% dari
kuartal pertama.
b. Target
dikomunikasikan pada setap supervisor tim sales untuk disampaikan pada
anggotanya.
c. Memberitahukan
insentif apa yang didapat bila target dicapai oleh tiap kelompok dan anggota.
Insentif akan diterima untuk tiap kelompok dan anggota terbaik.
d. Insntif
diberikan saat target terpenuhi dan dilakukan di akhir kuartal kedua tahun
2016.
e. Bila
target tidak tercapai maka tiap kelompok akan diberikan penilaian penurunan
poin prestasi.
f. Tiap
kelompok yang mengalami penurunan kinerja dan produktivitas akan kembali di
training dan diberikan kesempatan pada kuartal ke tiga, dan bila tetap tidak
ada kemajuan maka perusahaan akan kembali meninjau kinerja dan kontrak
kerjasama apakah akan diteruskan atau diputus.
2.
Teori
Harapan
A. Pengertian
Teori
harapan akan dikemukan teori harapan
yang dikembangkan oleh Lawler berdasarkan pengembangan lebih lanjut dari
model Porter-Lawler pada tahun 1968.
Model
teori harapan ini mengajukan empat asumsi yaitu:
1. Orang mempunyai pilihan-pilihan antara berbagai hasil-keluaran yang secara potensial dapat mereka gunakan. Setiap hasil-keluaran alternative mempunyai harkat (valence, V) yang mengacu pada ketertarikannya pada seseorang. Hasil keluaran positip, jika lebih ingin mencapainya., netral jika tidak mempedulikan hasil keluarannya, negative jika tidak ingin mencapainya. Hasil keluaran alternative, juga disebut disebut tujuan-tujuan pribadi (personal goals). Tujuan pribadi ini dapat disadari atau tidak disadari oleh yang bersangkutan. Bila disadari serupa dengan penetapan tujuan, bila tidak disadari , motivasi kerjanya bersifat reaktif.
2. Orang mempunya harapan-harapan tentang kemungkinan bahwa upaya (effort) akan mengarah ke perilaku unjuk kerja (performance) yang dituju. Faktor yang menentukan teori harapan E-P ialah harga diri, pengalaman lampau dalam situasi serupa, situasi sekarang yang actual, komunikasi dari orang lain.
3. Orang yang mempunyai harapan-harapan tentang kemungkinan bahwa hasil-hasil keluaran (outcomes,O) tertentu akan diperoleh setelah unjuk-kerja (P). Rumusan harapan P-O. Faktor yang menentukan teori harapan P-O adalah pengalaman masa lalu dan situasi serupa, ketertarikan dari hasil-keluaran, kepercayaan dalam kendali internal melawan eksternal, harapan E-P, situasi actual dan komunikasi dengan orang lain.
4. Dalam setiap situasi, tindakan dan upaya yang berkaitan dengan tindakan yang dipilih oleh seseorang untuk dilaksanan ditentukan oleh E-P, dan P-O dan pilihan-pihan yang dipunyai orang pada saat itu.
B. Implikasi Teori Harapan pada Organisasi
Implikasi
dari teori ini adalah kita dapat menghitung motivasi seseorang dengan E-P dan
P-O sehingga bisa memprediksikan proses
dan hasil keluaran. Bisa diterapkan
tujuan jangka panjang dan pendek dengan berdasarkan data diri, lingkungan dan
eksternal.
Contohnya
perusahann X menetapkan bahwa kuartal kedua penjualan pada tahun 2016 adalah
naik sebesar 40% dari kuartal sebelumnya. Perusahaan X percaya ini bisa
tercapai bila melihat sumber daya yang mereka miliki, baik sumber daya manusia
maupun strategi dan hasil yang dicapai pada kuartal yang sama pada tahun
sebelumnya. Pengalaman yang lampau pada tahun 2015 dan kuartal yang sama menunjukkan bahwa diperlukan
penambahan area pemasaran dan strategi iklan yang humanis serta kekompakan
antar anggota kelompok untuk mencapai peningkatan penjualan. Persepsi pemegang
saham, perusahaan mampu mencapai target tersebut. Perusahaan mempunyai pilihan
untuk bisa mencapai target, tidak mengalami peningkatan atau malah mengalami
penurunan. Jika ingin mencapai penjualan sebesar 40%, perusahaan harus menambah
area pemasaran, iklan yang lebih menarik dan menyentuh sisi humanism dan
meningkatkan kekompakkan, hal ini bisa dilakukan outing.
3. Teori Tujuan
A. Pengertian
Teori
tujuan diusulkan oleh Locke dengan model kognitf, yang mencoba menjelaskan
hubungan-hubungan antara tujuan dan perilaku. Aturan dasar dari teori ini
adalah penetapan tujuan-tujuan secara sadar Menurut locke tujuan yang cukup
sulit, khusus dan pernyataan yang jelas dan dapat diterima oleh tenaga kerja
akan menghasilkan unjuk-kerja yang lebih tinggi.
Manajemen
berdasarkan sasaran menggunakan teori
penetapan tujuan ini . Berdasarkan tujuan yang telah ditetapkan perusahaan ,
secara berurutan disusun tujuan-tujuan untuk devisi sampai pada satuan kerja
yang terkecil untuk diakhiri penetapan sasaran kerja untuk setiap karyawan
dalam kurun waktu tertentu.
Proses
penetapan tujuan dapat dilakukan berdasarkan prakarsa sendiri atau dapat diwajibkan oleh organisasi sebagai
suatu kebijakan perusahaan. Bila berdasarkan prakarsa sendiri, motivasi kerja
individu bercorak proaktif dan memiliki komitmen besar untuk berusaha mencapai
tujuan yang telah ditetapkan. Bila berdasarkan kebijakan perusahaan , motivasi
kerja individu bersifat reaktif dan komitmen usaha untuk mencapai tujuan tersebut tidak terlalu
besar
B. Implikasi Teori tujuan pada Organisasi
Penetapan
tujuan yang jelas akan memudahkan perencanaan untuk menetapkan tujuan jangka
pendek dan tujuan jangka panjang. Bila tujaun jangka pendek dan panjang sudah
jelas maka rencana dan langkah-langkah yang akan diambil lebih terarah. Proses
penilaian, evaluasi dapat dijadwalkan dengan jadwal yang tetap dan
berkesinambungan. Pengambilan keputusan yang berkaitan dengan penetapan target
dan perubahan bisa dilakukan dengan cepat.
Perusahaan
X menetapkan tujuan perusahaan adalah menjadi inovasi terdepan dalam hal
teknologi digital. Maka ditetapkan tujuan dan sasaran jangka pendek dan panjang
pada setiap devisi. Hal ini berpengaruh pada rencana pencapaian target. Selain
itu perusahaan juga memberitahukan tujuan itu kepada karyawan dengan panduan
yang jelas lewat job description dan job specification. Untuk lebih
memotivasi ditetapkan juga insentif yang akan diterima.
4. Teori Maslow
A. Pengertian
Maslow
berpendapat bahwa kondisi manusia dalam kondisi mengejar yang berkesinambungan,
jika satu kebutuhan dipenuhi, langsung kebutuhan tersebut diganti kebutuhan
lain. Ada lima kelompok kebutuhan yaitu kebutuhan fisiologikal, rasa aman,
sosial, harga diri dan aktualisasi diri.
Menurut
Maslow, individu dimotivasi oelh kebutuhan yang belum dipuaskan, yang paling
rendah, paling dasar dalam tata tingkat. Begitu tingkat kebutuhan itu dipuaskan
maka kebutuhan tingkat berikutnya akan dominan. Dua tingkat kebutuhan akan
beroperasi pada waktu yang sama, tetapi kebutuhan pada tingkat yang lebih
rendah menjadi motivator yang kuat pada perilaku. Makin tinggi tingkat
kebutuhab makin tidak penting survival dan pemenuhannya dapat ditunda.
Tingkatan
kebutuhan Maslow
1. Kebutuhan fisiologikal, kebutuhan berdasarkan kondisi fisiologikal badan kita seperti makanan, minuman dan udara. Merupakan kebutuhan primer yang harus dipenuhi, bila tidak maka individu akan berhenti eksisitensinya.
2. Kebutuhan rasa aman, mencakup kebutuhan dilindungi dari ancaman fisik dan bahaya
3. Kebutuhan social, mencakup member dan menerima persahabatan, cinta kasih dan rasa memiliki.
4. Kebutuhan harga diri mencakup factor internal dan factor eksternal. Faktor internal seperti kebutuhan akan harga diri, kepercayaan diri, otonomi dan kompensasi. Factor eksternal adalah kebutuhan untuk dikenal, diakui dan status.
5. Kebutuhan aktualisasi diri, kebutuhan untuk menjadi kreatif dan merealisasikan potensi secara penuh. Kebutuhan ini menekankan kebebasan dalam melaksanakan tugas pekerjaanya.
B. Implikasi Teori Maslow pada Organisasi.
Dalam
kondisi dan situasi tertentu kebutuhan ini dapat menimbulkan motivasi proaktif
dan reaktif pada karyawan. Sistem dan nilai yang dianut oleh individu dan
lingkungan akan menentukan motivasi dan corak motivasi seseorang. Lingkungan
bisa menjadi factor yang sangat menentukan kinerja dan produktivitas dari
perusahaan.
Bila
kebutuhan dasar dari pegawai berupa kebutuhan fisiologi dan keamanan di
lingkungan kerja sudah terpenuhi dengan baik,
maka kinerja dan produktivitas bisa tercapai. Untuk memaksimalkan
potensi sumber daya yang dimiliki maka perusahaan bisa menjadi salah satu pendorong untuk menciptakan situasi dan memotivasi individu
untuk meraih tahapan Maslow selanjutnya, hingga puncak tertinggi yaitu
aktualisasi diri bisa terpenuhi.
DAFTAR PUSTAKA
Munandar, A.S.(2014).Psikologi industri dan organisasi.Jakarta:UI Press
Munandar, A.S.(2014).Psikologi industri dan organisasi.Jakarta:UI Press
Tidak ada komentar:
Posting Komentar