Minggu, 30 Oktober 2016

Tulisan 2/ Peran Pemimpin / Psikologi Manajemen


RIDWAN KAMIL DAN BANJIR PASTEUR




Banjir yang menggenangi ruas Pasteur, Kota Bandung 24 Oktober 2016 akibat hujan besar selama beberapa jam mengakibatkan kerugian yang besar dan dampak kemacetan yang parah. Berita ini menjadi trending topic di twitter. Bagaimana Ridwan Kamil selaku  Walikota Bandung menyikapi kejadian ini? Dilansir dari beberapa media, Ridwan Kamil meminta maaf atas banjir yang menggenangi Jalan Pasteur di Kota bandung dan meminta warga untuk menghindari jalan tersebut
“ Hindari Jalan Pasteur karena sedang banjir. Tim @dbmpkotabdg sudah di TKP (Tempat Kejadian Perkara). Insya Allah sedang bersiap-siap dipasang tol air seperti Gedebage yang sekarang tidak banjir. Mohon Maaf”
Demikian tweet Ridwan Kamil dalam akun twitternya@ridwankamil, yang dikutip Senin. Tweet Ridwan Kamil yang berisi permohonan maaf dan solusi yang ditawarkan mengundang berbagai reaksi dari masyarakat. Peristiwa banjir yang terjadi secara tiba-tiba menuntut Ridwal Kamil selaku Walikota Bandung untuk membuat keputusan yang cepat dan tepat.
Peran pemimpin berpengaruh penting bagaimana dia mampu mengatasi keadaan yang terjadi dalam organisasi yang dipimpinnya.  Sutrisno (2009) mengkategorikan peran pemimpin dalam tiga bentuk yaitu yang bersifat interpersonal, informasional dan dalam kancah pengambilan keputusan.
1.      Peranan yang bersifat interpersonal adalah keterampilan insani bagaimana seorang pemimpin berinteraksi dengan manusia, bukan hanya dengan bawahannya, akan tetapi juga dengan berbagai pihak yang berkepentingan.
2.      Peranan yang bersifat informasional adalah bagaimana pemimpin sebagai pemantau arus  informasi yang terjadi dari dan dalam organisasi memahami dengan mendalam infirmasi yang diterimanya dan pengetahuan tentang berbagai fungsi yang harus diselenggarakan.
3.      Peranan pengambilan keputusan adalah peranan pemimpin dalam mengambil tiga bentuk keputusan yaitu sebagai entrepreneur, peredam gangguan dan pembagi sumberdaya dan dana. Sebagai entrepreuneur pemimpin harus mampu mengkaji terus menerus situasi yang dihadapi. Sebagai peredam gangguan, pemimpin harus bersedia memikul tanggung jawab untuk mengambil tindakan korektif terhadap gangguan yang serius yang terjadi dalam organisasi. Sebagai pembagi sumber daya dan dana ini berkaitan dengan wewenang dan kekuasaan yang dimiliki oleh seorang pemimpin.  
Dari langkah yang diambil, Ridwan Kamil berusaha menerapkan ketiga bentuk peranan pemimpin itu.  Interaksi yang terjadi meski lewat media sosial twitter ini mampu memperlihatkan bagaimana seorang pemimpin membangun interaksi dengan masyarakatnya dan memberikan informasi terkini yang sesungguhnya terjadi. Permohonan maaf  mungkin tidak cukup untuk mengobati  dan mengatasi kerugian yang terjadi tapi merupakan suatu sikap yang patut diapresiasi. Mengakui kesalahan bukan hal yang mudah di republik ini.Namun yang paling penting adalah bagaimana solusi yang ditawarkan dapat diterapkan dan mampu  mencegah kejadian serupa berulang. Selamat bekerja Pak Ridwan Kamil…Semoga solusi itu bukan hanya janji!!.


DAFTAR PUSTAKA :
WBP .www.beritasatu.com. (2016). Ridwan Kamil Minta Maaf Soal Banjir Pasteur. Diunduh Senin 24 Oktober 2016 pukul 21.00 WIB.
Sutrisno, Edy. (2009). Manajemen sumber daya manusia. Jakarta: Kencana Perdana Media.

Senin, 17 Oktober 2016

Psikologi Managemen/ Tulisan/Gaya Kepemimpinan

KEPEMIMPINAN TRANSFORMASIONAL DIRUT BANK MANDIRI

 

Dalam hubungan pemimpin dan bawahan terjadi proses saling mempengaruhi dimana pemimpin akan berupaya mempengaruhi bawahannya agar sesuai dengan harapannya. Corak interaksi yang terjadi akan menentukan keberhasilan seorang pemimpin dalam kepemimpinannya. Untuk mencapai harapan tersebut seorang pemimpin dituntut untuk memiliki gaya kepemimpinan yang disesuaikan dengan kondisi bawahannya. Pemimpin mendiagnosa dahulu keadaan bawahannya dan berdasarkan kesimpulannya ia menggunakan gaya kepemimpinan yang dianggap sesuai dengan kondisi bawahannya (Munandar, 2014)..
Teori tersebut dipraktekkan oleh Direktur Utama PT Bank Mandiri Tbk (Persero) Kartika Wirjoatmojo yang memiliki cara dan gaya kepemimpinan yang disesuaikan untuk menghadapi generasi muda yang bekerja di lingkungan perusahaannya. Generasi muda yang  bekerja di lingkungan perusahannya adalah generasi yang berbeda dibandingkan dirinya. Generasi muda yang bekerja di lingkungan pekerjaannya mayoritas adalah Generasi Y dan Generasi Z.  Generasi ini dikenal dengan generasi millennium Mereka adalah generasi yang lahir awal 1980 hingga awal 2000, yang lahir ditengah perkembangan teknologi yang pesat. Perkembangan teknologi yang pesat mempengaruhi sensitivitas generasi Y terhadap perubahan. Mereka tidak takut perubahan, generasi yang sangat dekat dengan media sosial, bekerja dengan menerapkan kreativitasnya serta mencari lingkungan kerja yang santai dan tidak kaku.
  Melihat perubahan yang terjadi  Kartika harus menentukan langkah-langkah yang sesuai agar corak interaksi yang terjadi antara dia dengan bawahannya selaras. Langkah yang ditempuh oleh Kartika salah satunya adalah mengubah budaya organisasi di lingkungan kerjanya dan berusaha menbuat pegawai bahagia dengan bawahannya. Salah satu hal yang direncanakannya adalah dia akan membebaskan para pegawai Bank Mandiri untuk mengenakan pakaian santai jeans  ke kantor setiap Jum’at, diharapkan dengan menerapkan hal tersebut para pegawai yang mayoritas generasi Y itu dapat Show up yourself, up to you, ujar Kartika. Lebih Kartika mengatakan generasi muda saat ini harus dibiasakan dengan diskusi terbuka dengan mengungkapkan pikirannya di lingkungan kerja .
Corak interaksi yang terjadi antara Kartika Wirjoatmojo dengan pegawainya di Bank Mandiri sesuai dengan corak dan proses interaksi yang di kemukakan oleh Bass dan Avolio pada tahun 1994 tentang kepemimpinan transformasional.
 Munandar (2014) menjelaskan proses interaksi yang terjadi antara pimpinan dan bawahannya pada kepemimpinan transformasional ditandai  oleh pengaruh pemimpin untuk mengubah bawahannya menjadi seseorang yang merasa mampu dan bermotivasi tinggi dan berupaya mencari pprestasi kerja yang tinggi dan bermutu. Pemimpin mengubah bawahannya sehingga tujuan kelompok dapat dicapai bersama. Munandar (2014) menyebutkan lima aspek kepemimpinan transformasional ialah:
1.      Attributed Charisma, dimana pemimpin mendahulukan kepentingan perusahaan dan orang lain dibandingkan kepentingan dirinya, bawahan merasa tenang dan memiliki rasa bangga berada dekat dengan pemimpinnya. Pemimpin dapat tenang menghahapi situasi yang kritikal dan yakin dapat mengatasinya.
2.  Inspirational Leadership / Motivation, pemimpin mampu menenimbulkan aspirasi pada bawahannya dengan menentukan standar-standar tinggi dan keyakinanbahwa tujuan dapat dicapai. Sehingga bawahan mampu melakukan tugas pekerjaannya, mampu memberikan berbagai macam gagasan. Mereka merasa diberi inspirasi oleh pimpinannya.
3.      Intelectual Stimulation, bawahan merasa pimpinan mendorong mereka memikirkan kembali cara mereka, untuk mencari cara-cara baru dlaam melaksanakan tugas dan merasa mendapatkan cara baru dalam mempersepsi tugas mereka.
4.    Individual Consideration, bawahan merasa diperhatikan dan diperlakukan secara khusus oleh pimpinannya. Pemimpin memperlakukan setiap bawahannya sebagai seorang pribadi dengan kecakapan, kebutuhan, keinginan masing-masing. Ia memberikan nasehat yang bermakna, member pelatihanyang diperlukan dan bersedia mendengarkan pandanga dan keluhan mereka. Pemimpin menimbulkan rasa mampu pada bawahannyabahwa mereka mampu melakukan pekerjaannya, dapat memberikan sumbangan yang berarti untuk mencapai tujuannya.
5.      Idealized Influence, pemimpin berusaha melalui pembicaraannya, mempengaruhi bawahannya dengan menekankan pentingnya nilai-nilai dan keyakinan, pentingnya keikatan pada keyakinan, perlu dimilikinya tekad mencapai tujuan, perlu diperhatikan akibat- akibat moral dan etik dari keputusan yang diambil.
Langkah yang ditempuh oleh Kartika Wirjoatmojo sesuai dengan hasil penelitian tentang kepemimpinan transaksional dan transformasional, antara lain keterkaitannya dengan aspek kewirausahaan  yang dilakukan oleh Rufus Wutan pada tahun 1996 dan Ruffus Wattan dan Munandar pada tahun 1997 yang menemukan dalam penelitian mereka bahwa para karyawan dari bank-bank dengan peringkat tinggi mempersepsikan pimpinan mereka memiliki ciri-ciri pemimpin transformasional yang lebih jelas dan kuat ( Munandar, 2014).

 

DAFTAR PUSTAKA
Munandar, Ashar Sunyoto. (2014). Psikologi industry dan organisasi. Jakarta: UI-Press
Rahmah, Ghoida (2016). Begini gaya memimpin generasi Ydan Z ala bos Bank Mandiri. www.m.tempo.co.id. Diakses 12 Oktober 2016 pukul 20.00 WIB

Minggu, 16 Oktober 2016

Psikologi Managemen/ Kekuasaan, Leadership, Motivasi



KEKUASAAN, KEPEMIMPINAN 

DAN MOTIVASI


KEKUASAAN
A.    PENGERTIAN KEKUASAAN
Kekuasaan adalah kemampuan untuk menggunakan pengaruh pada orang lain; artinya kemampuan untuk mengubah sikap atau tingkah laku individu atau kelompok. Kekuasaan juga  berarti  kemampuan  untuk  mempengaruhi  individu,  kelompok,  keputusan,  atau kejadian.  Kekuasaan tidak sama  dengan wewenang,  wewenang tanpa kekuasaan ataukekuasaan tanpa wewenang akan menyebabkan konflik dalam organisasi Kekuasaan berkaitan erat dengan pengaruh (influence) yaitu tindakan atau contoh tingkah laku yang menyebabkan perubahan sikap atau tingkah laku orang lain atau kelompok.  (Purwaningtyas).
Sedangkan  Handoko ( 2012) menyebutkan kekuasaan adalah kemampuan untuk mempengaruhi individu, kelompok, keputusan atau kejadian. Selo Soemarjan (dalam Soerjono, 1998) kekuasaan diartikan sebagai kemampuan seseorang untuk mempengaruhi pihak-pihaklain
B.     Bentuk Kekuasaan
Secara umum ada dua bentuk kekuasaan:
1.      Kekuasaan pribadi, kekuasaan yang didapat dari para pengikut dan didasarkan pada seberapa besar pengikut mengagumi, respek dan terikat pada pemimpin.
2.      Kekuasaan posisi,  kekuasaan yang  didapat  dari  wewenang formal  organisasi, besarnya  kekuasaan  ini  tergantung  pada  besarnya  pendelegasian  orang  yang menduduki posisi tersebut.
C.    SUMBER KEKUASAAN.
Kekuasaan tidak begitu saja diperoleh individu, ada 6 sumber kekuasaan menurut John Brench dan Bertram Raven (dalam Purwaningtyas) , yaitu :
1.      Kekuasaan balas jasa (reward power)
Kekuasaan yang didasarkan pada kemampuan seseorang pemberi pengaruh untuk
memberi  penghargaan  pada  orang  lain  yang  dipengaruhi  untuk  melaksanakan perintah. (bonus sampai senioritas atau persahabatan)
2.      Kekuasaan paksaan (coercive power)
Kekuasaan berdasarkan pada kemampuan orang untuk menghukum orang yang
dipengaruhi  kalau  tidak  memenuhi  perintah  atau  persyaratan.  (teguran  sampai hukuman).
3.      Kekuasaan sah (legitimate power)
Kekuasaan formal  yang diperoleh berdasarkan hukum atau aturan yang  timbul dari  pengakuan  seseorang  yang  dipengaruhi  bahwa  pemberi  pengaruh  berhak menggunakan pengaruh sampai pada batas tertentu.
4.      Kekuasaan keahlian (expert power)
Kekuasaan  yang  didasarkan  pada  persepsi  atau  keyakinan  bahwa  pemberi pengaruh  mempunyai  keahlian  relevan  atau  pengetahuan  khusus  yang  tidak dimiliki oleh orang yang dipengaruhi. (professional atau tenaga ahli).
5.      Kekuasaan panutan (referent power)
Kekuasaan yang dimiliki  oleh seseorang atau kelompok yang didasarkan padaindentifikasi  pemberi  pengaruh  yang  menjadi  contoh  atau  panutan  bagi  yang dipengaruhi. (karisma, keberanian, simpatik dan lain-lain).
6.      Kekuasaan Pengendalian Informasi (Control Of Information power)
Berasal  dari  pengetahuan yang tidak dimiliki  orang lain,  ini  dilakukan dengan pemberian atau penahanan informasi yang dibutuhkan.



KEPEMIMPINAN

A.    Pengertian Kepemimpinan
Dalam suatu organisasi, faktor kepemimpinan memegang peranan penting karena pemimpin yang akan menggerakkan dan mengarahkan organisasi dalam mencapai tujuan. Dari sudut manajemen pemimpin harus mampu menetapkan tujuan yang hendak dicapai oleh organisasi atau perusahaan, dalam konteks ini seorang pemimpin harus mampu merancang teknik dan strategi yang tepat. Selain itu seorang pemimpin dituntut untuk mengambil keputusan yang cepat dan tepat (Sutrisno, 2009).
Menurut Griffin dan Ebert (dalam Kasminto dan Sjamsuddin, 2007) kepemimpinan (leadership) adalah proses memotivasi orang lain untuk mau bekerja dalam rangka mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Sedangkan Siagian (dalam Sutrisno, 2007) mengatakan kepemimpinan adalah kemampuan seseorang untuk mempengaruhi orang lain, dalam hal ini para bawahannya sedemikian rupa sehingga sehingga orang lain itu mau melakukan kehendak pimpinan meskipun secara pribadi hal itu mungkin tidak disenanginya. Menurut Sutrisno (2009) kepemimpinan  sebagai proses mengarahkan dan mempengaruhi aktivitas yang berkaitan dengan tugas dari para anggota kelompok.
Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa kepemimpinan adalah kemampuan seseorang untuk mempengaruhi, memotivasi , mengarahkan orang lain  sedemikian rupa untuk mau bekerja dalam rangka mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
B.     Implikasi Kepemimpinan
Menurut Sutrisno (2009) ada tiga implikasi penting dalam kepemimpinan, yaitu:
1.      Kepemimpinana harus melibatkan orang lain , bawahan atau pengikut.
2.      Kepemimpinan mencakup distribusi kekuasaan yang tidak sama diantara pemimpin dan anggota kelompok.
3.      Kepemimpinan sebagai kemampuan untuk menggunakan berbagai macam kekuasaan untuk mempengaruhi perilaku pengikut melalui sejumlah cara.
C.    Fungsi dan Peranan Pemimpin dalam Organisasi
Pemimpin yang berhasil adalah pemimpin yang mampu mengelola atau  mengatur organisasi secara efektif dan mampu melaksanakan kepemimpinan secara efektif pula. Agar hal tersebut terlaksana maka pemimpin harus mampu menjalankan fungsinya sebagai seorang pemimpin.
Fungsi pemimpin menurut Terry (dalam Sutrisno, 2009) dapat dikelompokkan menjadi empat yaitu: perencanaan, pengorganisasian, penggerakan dan pengendalian. Sutrisno llebih lanjut mengatakan bahwa dalam menjalankan fungsinya pemimpin mempunyai tugas-tugas tertentu , yang mengusahakan agar kelompoknya dapat bekerja mencapai tujuan dengan baik, dalam kerjasama yang produktif dan dalam bagaimanapun yang dihadapi kelompok.
Menurut Gerungan (dalam Sutrisno, 2009) tugas utama pemimpin adalah :
1.      Memberi struktur yang jelas terhadap situasi-situasi yang dihadapi kelompok
2.      Mengawasi dan menyalurkan tingkah laku kelompok
3.   Merasakan dan menerangkan kebutuhan kelompok pada dunia luar, baik mengenai sikap-sikap, harapan, tujuan dan kekhawatiran kelompok.
Kepemimpinan berperan sangat penting dalam manajemen karena unsur manusia merupakan variabel yang teramat penting dalam organisasi. Manusia memiliki karakteristik yang berbeda-beda mempunyai kepentingan masing-masing, yang bahkan saling berbeda dan berakibat terjadi konflik. Perbedaan kepentingan tidak hanya antar individu di dalam organisasi, tetapi juga antara individu dengan organisasi di mana individu tersebut berada (Kasminto dan Sjamsuddin, 2007). Sutrisno (2009) mengkategorikan peran tersebut dalam tiga bentuk yaitu yang bersifat interpersonal, informasional dan dalam kancah pengambilan keputusan.
1.    Peranan yang bersifat interpersonal adalah keterampilan insani bagaimana seorang pemimpin berinteraksi dengan manusia, bukan hanya dengan bawahannya, akan tetapi juga dengan berbagai pihak yang berkepentingan.
2.  Peranan yang bersifat informasional adalah bagaimana pemimpin sebagai pemantau arus  informasi yang terjadi dari dan dalam organisasi memahami dengan mendalam informasi yang diterimanya dan pengetahuan tentang berbagai fungsi yang harus diselenggarakan.
3.   Peranan pengambilan keputusan adalah peranan pemimpin dalam mengambil tiga bentuk keputusan yaitu sebagai entrepreneur, peredam gangguan dan pembagi sumberdaya dan dana. Sebagai entrepreuneur pemimpin harus mampu mengkaji terus menerus situasi yang dihadapi. Sebagai peredam gangguan, pemimpin harus bersedia memikul tanggung jawab untuk mengambil tindakan korektif terhadap gangguan yang serius yang terjadi dalam organisasi. Sebagai pembagi sumber daya dan dana ini berkaitan dengan wewenang dan kekuasaan yang dimiliki oleh seoran pemimpin. Kewenangan inilah yang membuat bawahan tergantung kepadanya.
D.    Teori Gaya Kepemimpinan
Gaya kepemimpinan dapat dilihat dari berbagai macam sumber pandang, ditemukan berbagai gaya kepemimpinan dan terbukti bahwa tidak ada satupun gaya kepemimpinan yang paling efektif dalam setiap situasi kepemimpinan (Munandar, 2014).
Setiap situasi menuntut adanya gaya kepemimpinan tertentu, Munandar (2014) menyebutkan beberapa teori kepemimpinan yaitu: kajian Ohio State University, teori contingency dari Fiedler, teori tiga dimensi dari Reddin, teori kepemimpinan situasional dari Hersey dan Blanchard.
1.      Kajian Ohio State University
Ada dua dimensi utama dari perilaku pemimpin yang dikenal dengan penenggangan (consideration) dan memprakarsai struktur (initiating structure).
Consideration menggambarkan derajat dan corak hubungan seorang pemimpin dan bawahannya, yang ditandai oleh saling percaya, penghargaan terhadap gagasan bawahan dan penenggangan terhadap perasaan bawahan.
Memprakarsai struktur menggambarkan sejauh mana seorang pemimpin member batasan dan  struktur kepada perannya dan peran bawahannya untuk mencapai tujuan kelompoknya.
2.      Teori Contingency
Teori contingency, tinggi rendahnya prestasi kerja suatu kelompok dipengaruhi oleh sistem motivasi dari pemimpin dan sejauh mana pemimpin dapat mengendalikan dan mempengaruhi suatu situasi tertentu.
3.      Teori Tiga Dimensi
Reddin mengembangkan teori tiga dimensi yaitu: dimensi Orientasi-Tugas, dimensi Orientasi-Hubungan dan dimensi efektivitas. Dengan menggunakan OH sebagai sumbu tegak dan OT sebagai sumbu mendatar  maka dikenali empat gaya dasar dari perilaku manajerial yaitu:
 a.      Separated  : perilaku OT dan OH digunakan sedikit sekali
b.      Related      : perilaku OH yang terutama digunakan
 c.      Integrated : perilaku OH dan OT banyak digunakan
d.      Dedicated : perilaku OT yang terutama digunakan.
Menurut teori tiga dimensi seorang pemimpin harus dapat menggunakan gaya kepemimpinan sesuai dengan tuntutan situasi sesaat, mengubah gaya jika memang diperlukan dan mempertahankan gaya tersebut jika situasi tidak menuntut perubahan. Supaya berhasil maka Reddin menyarankan agar para pemimpin dilatih dalam tiga keterampilan yaitu: keterampilan menanggapi situasi, keterampilan melenturkan gaya, keterampilan memanajemeni situasi.
4.      Teori Kepemimpinan Situasional
Teori kepemimpinan situasional yang dikembangkan oleh Hersey dan Blanchard pada tahun1982  yang merupakan pengolahan dari tiga dimensi didasarkan atas hubungan kurva linear antara perilaku tugas, perilaku hubungan dan perilaku kedewasaan.Teori ini memberikan pemahaman tentang kaitan gaya kepemimpinan yang efektif dengan tingkat kedewasaan dari para pengikutnya dan bawahan merupakan faktor yang sangat penting dalam situsi kepemimpinan.
Menurut Fiedler (dalam Sutrisno, 2009) , tidak ada seorangpun yang dapat menjadi pemimpin yang berhasil hanya dengan menerapkan satu macam gaya kepemimpinan untuk segala situasi, untuk itu pemimpin harus mampu menetapkan gaya kepemimoinan yang berbeda-beda sesuai dengan situasi yang berbeda-beda pula. Sutrisno(2009) menyebutkan beberapa gaya kepemimpinan yang ada yaitu:
 a.  Gaya Persuasif, yaitu gaya memimpin dengan menggunakan pendekatan yang menggugah perasaan, pikiran atau dengan kata lain melakukan ajakan dan bujukan.
b.  Gaya Refresif, yaitu gaya kepemimpinan dengan memberi tekanan-tekanan, ancaman-ancaman, sehingga bawahan merasa ketakutan.
 c.   Gaya Partisipatif, yaitu gaya kepemimpinan dengan cara memimpin member kesempatan kepada bawahan untuk secara aktif baik mental, spiritual, fisisk maupun material dalam kiprahnya di organisasi.
d.   Gaya Inovatif, yaitu pemimpin yang selalu berusaha dengan keras untuk mewujudkan usaha-usaha pembaharuan di dalam segala bidang, baik bidang politik, ekonomi, sosial, budaya atau setiap produk yang tetkait dengan kebutuhan manusia.
 e.     Gaya Investigatif, Yaitu gaya pemimpin yang selalu melakukan penelitian disertai penuh rasa curiga terhadap bawahannya sehingga menyebabkan kreativitas, inovasi serta inisiatif dari bawahan kurang berkembang, karena bawahan takut melakukan kesalahan-kesalahn.
 f.    Gaya Inspektif, yaitu pemimpin yang suka melakukan acara-acara yang sifatnya protokoler, kepemimpinan dengan gaya inspektif menuntut penghormatan bawahan, atau pemimpin yang senang apabila dihormati.
g.     Gaya Motivatif, yaitu pemimpin yang dapat menyampaikan informasi mengenai ide-idenya , program-programnya dan kebijakan- kebijakan kepada bawahan dengan baik. Komunikasi tersebut membuat segala ide, program dan kebijakan dapat dipahami oleh bawahan sehingga bawahan mau merealisaikan semua ide, program dan kebijakan yang ditetapkan oleh pemimpin.
h.     Gaya Naratif, yaitu pemimpin yang banyak bicara namun tidak disesuaikan dengan apa yang ia kerjakan, dengan kata lain pemeimpin yang banyak bicara sedikit bekerja.
  i.     Gaya Edukatif, gaya pemeimpin yang suka melakukan pengembangan bawahan dengan cara memberikan pendidikan dan keterampilan kepada bawahan, sehingga bawahan menjadi banyak wawasan dan pengalaman.
  j. Gaya Retrogresif, pemimpin yang tidak suka melihat maju, apabila melebihi dirinya. Pemimpin ini selau menghalangi bawahannya untuk mengembangkan pengetahuan dan keterampilan
Menurut Fiedler , tidak ada seorangpun yang dapat menjadi pemimpin yang berhasil hanya dengan menerapkan satu macam gaya kepemimpinan untuk segala situasi, untuk itu pemimpin harus mampu menetapkan gaya kepemimoinan yang berbeda-beda sesuai dengan situasi yang berbeda-beda pula (Sutrisno, 2007).
Griffin dan Ebert (dalam Kasminto dan Sjamsuddin, 2007) mengemukakan 3 (tiga) gaya kepemimpinan, yaitu:
 a.      Gaya otokratik (autocratic style), 
Pemimpin dengan gaya otokratik pada umumnya memberikan perintah-perintah dan meminta bawahan untuk mematuhinya .Para komandan militer di medan perang umumnya menerapkan gaya ini. Pemimpin yang menerapkan gaya ini tidak memberikan cukup waktu kepada para bawahan untuk bertanya dan hal ini lebih sesuai pada situasi yang memerlukan kecepatan dan pengambilan keputusan. Gaya ini cocok untuk diterapkan pada situasi dimana pemimpin harus cepat mengambil keputusan sehubungan adanya desakan para pesaing. Gaya otoratik ini tidak selalu jelek seperti persepsi orang, kepemimpinan ini cocok untik bawahan yang malas, pembuat masalah tidak disiplin dan susah diatur
b.     Gaya Demokratik (Democratik Style)
Pemimpin dengan gaya demokratik pada umumnya meminta masukan kepada para bawahan/stafnya terlebih dahulu sebelum mengambil keputusan, namun pada akhirnya menggunakan kewenangannya dalam mengambil keputusan.
c.      Gaya Bebas Kendali (free-rein style)
Pemimpin dengan gaya bebas terkendali pada umumnya memposisikan dirinya sebagai konsultan bagi para bawahannya dan cenderung memberikan kewenangan kepada para bawahan untuk mengambilkeputusan. Dengan gaya ini seorang pemimpin lebih menekankan kepada unsur keyakinan bahwa kelompok pekerja telah dapat dipercaya karena seringnya menyampaikan pendapat dan gagasannya, telah mengetahui apa yang harus dikerjakan dan mengetahui bagaimana mengerjakannya sehingga pemimpin hanya tut wuri handayani (broad based management)

MOTIVASI
A.    Pengertian Motivasi
Motivasi adalah suatu faktor yang mendorong seseorang untuk melakukan aktivitas tertentu, oleh karena itu motivasi seringkali diartikan sebagai faktor pendorong perilaku seseorang (Sutrisno, 2007). Motivasi sering, diartikan dengan istilah dorongan, yang berarti tenaga yang menggerakkan jiwa dan jasmani untuk berbuat, sehingga motif merupakan “driving force” seseorang, untuk bertingkah laku dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Setiap orang mempunyai motif diri yang tentu bisa berbeda antara orang yang satu dengan yang lainnya (Priyono, 2007). Sedangkan Chung & Megginson (dalam Gomes, 2003) menyatakan bahwa motivasi dirumuskan sebagai perilaku yang ditujukan pada sasaran, motivasi berkaitan dengan tingkat usaha yang dilakukan seseorang dalam mengejar suatu tujuan.
Dari uraian diatas motivasi didefinisikan sebagai suatu faktor mendorong yang  menggerakkan seseorang  untuk berperilaku dan berusaha untuk mencapai suatu tujuan yang telah ditetapkan.
B.     Komponen-Komponen Motivasi
Sutrisno(2009) berpendapat bahwa motivasi memiliki komponen, yaitu komponen dalam dan komponen luar.
1.   Komponen dalam ialah perubahan dalam diri seseorang , keadaan merasa tidak puas, ketegangan psikologis. Komponen dalam adalah komponen yang ingin dipuaskan.
2.   Komponen luar, ialah apa yang ia diinginkan seseorang , tujuan yang menjadi arah tingkahlakunya.Komponen luar adalah komponen yang ingin dicapai.
C.    Faktor-faktor yang Mempengaruhi Motivasi
Motivasi sebagai proses psikologis dalam diri seseorang akan dipengaruhi beberapa faktor. Faktor- faktor tersebut dapat dibedakan atas faktor intern dan faktor ekstern Sutrisno (2009).
1.    Faktor intern : keinginan untuk dapat hidup, keinginan untuk dapat memiliki, keinginan untuk memperoleh penghargaan, keinginan untuk memperoleh pengakuan dan keinginan untuk berkuasa.
2.   Faktor ekstern ; Kondisi lingkungan kerja, kompensasi yang memadai, supervise yang baik, adanya jaminan pekerjaan, status dan tanggung jawab, adanya peraturan yang fleksibel.



 ANALISA
GAYA KEPEMIMPINAN
PRESIDEN RI
A.    Pendahuluan
Republik Indonesia merdeka pada tanggal 17 Agustus 1945. Selama  rentang waktu 71 tahun Indonesia telah dipimpin oleh tujuh orang presiden yaitu ; Soekarno, Soeharto, B.J Habibie, Abdurrahman Wahid, Megawati Soekarno Poetri, Soesilo Bambang Yudhoyono dan Joko Widodo.

No
Nama Presiden
Masa Jabatan
1
Soekarno
18 Agustus 1945 – 12 Maret 1967
2
Soeharto
12 Maret 1967 – 21 Mei 1998
3
BJ Habibie
21 Mei 1998- 20 Oktober 1999
4
Abdurrahman Wahid
20 Oktober 1999 – 23 Juli 2001
5
Megawati Soekarno Poetri
23 Juli 2001 – 20 Oktober 2004
6
Soesilo Bambang Yudhoyono
20 Oktober 2004 – 20 Oktober 2014
7
Joko Widodo
20 Oktober 2014 - sekarang

B.     Analisa Gaya Kepemimpinan dari Soekarno, Soeharto, Soesilo Bambag Yoedhoyono dan Joko Widodo
Analisa gaya kepemimpinan dari empat Presiden Republik Indonesia ini dibatasi berdasarkan gaya kepemimpinan yang dikemukakan oleh  Griffin dan Ebert yang mengemukakan 3 (tiga) gaya kepemimpinan, yaitu: gaya otokratik (autocratic style), gaya demokratik (democratic style), gaya bebas terkendali (free-rein style).


1.      Soekarno (18 Agustus 1945 – 12 Maret 1967)
Soekarno merupakan presiden pertama Republik Indonesia. Soekarno yang latar belakangnya  adalah seorang politikus yang handal, seorang orator ulung yang mempunyai kemampuan persuasif yang kuat. Soekarno mampu mempengaruhi orang banyak dengan pidato-pidatonya. Pada saat Soekarno memerintah Indonesia selama hampir 30 tahun gaya kepemimpinan yang dominan dari ketiga gaya kepemimpinan Griffin dan Ebert adalah gaya kepemimpinan otokratik dan demokratik.
Pada saat Soekarno memegang jabatan presiden, Indonesia baru saja merdeka dari jajahan Belanda. Masa pemerintahan Soekarno dalam sejarah RI dikenal dengan masa orde lama, Indonesia baik dari segi politik, ekonomi, sosial masih belum stabil. Selain menghadapi ketidakstabilan dalam berbagai sektor dari dalam negeri , gangguan akan kedaulatan RI masih kerap terjadi maka keputusan yang diambil harus cepat dan tepat, meskipun Soekarno meminta usulan ataupun pandangan yang lain dari bawahannya tetapi keputusan tetap berada dalam kewenangannya. Gaya kepemimpinan otokratik semakin dominan ketika keadaan politik tidak stabil dengan munculnya berpuluh-pulauh partai dan perubahan undang-undang dasar dan sistem pemerintahan . Soekarno menerapkan keputusan yang cepat, bawahannya harus melaksanakan perintah tersebut tanpa banyak bertanya karena situasi negara yang cepat mengalami perubahan, kewenangan untuk pengambilan keputusan sepenuhnya berada di bawah wewenangnya.

2.      Soeharto (12 Maret 1967-21 Mei 1998)
Bergantinya orde pemerintahan lama ke orde pemerintahan baru. Keadaan politik relative sudah dalam kendali. Indonesia memfokuskan pada bidang pembangunan dengan dicanangkannya REPELITA rencana pembangunan lima tahun. Partai di Indonesia dibatasi dari berpuluh partai menjadi 3 partai saja. Partai yang ada pada saat itu adalah Golongan Karya, Partai Demokratik Indonesia dan Partai Persatuan Pembangunan.
Soeharto mampu mengendalikan iklim politik sehingga tidak banyak gangguan yang terjadi. Kebebasan rakyat dalam menyampaikan aspirasi dibatasi dan tidak bisa langsung. Aspirasi rakyat diwakili oleh ketiga partai tersebut. Terkendalinya sistem politik berdampak pada ekonomi. Di bidang ekonomi Indonesia mulai bangkit.  Dengan latar belakang Soeharto dari militer maka gaya kepemimpinan otokratik  lebih dominan dibandingkan dengan demokratik dan bebas terkendali.  Kepemimpinan demokratik mengalami porsi yang lebih besar dibandingkan pada saat orde lama. Meskipun begitu, banyak aspirasi rakyat yang tidak bisa dikemukakan karena sistem politik yang berlaku dan pengambilan keputusan yang hanya diwakili oleh pendapat segelintir orang. Kendali politik, ekonomi, sosial budaya sepenuhnya berada pada tangan partai yang berkuasa di Majelis Permusyawaratna Rakyat (MPR) dan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR)

3.      Soesilo Bambang Yudhoyono (20 Oktober 2004 – 20 Oktober 2014)
      Pemerintahan Soesilo Bambang Yudhoyono dikenal dengan masa pemerintahan reformasi. Indonesia mengalami perubahan yang sangat besar di bidang politik. Rakyat dapat langsung menyampaikan aspirasinya dengan adanya pilihan presiden secara langsung. Lahirnya banyak partai yang menyebabkan berkurangnya dominasi salah satu partai, yang kerap terjadi adalah koalisi  dalam pemerintahan.
      Gaya kepemimpinan otokratik dan demokratik dominan dalam pengambilan keputusan  Soesilo Bambang Yoedhoyono yang berlatar belakang militer. Tetapi gaya kepemimpinan bebas terkendali mengalami peningkatan di bandingkan gaya kepemimpinan Soekarno dan Soeharto. Penerapan gaya kepemimpinan bebas terkendali ini salah satunya akibat kemajuan teknologi dan iklim politik dimana rakyat tidak bisa sepenuhnya berada dalam kendali pemerintahan. Kemajuan di bidang teknologi yang pesat berpengaruh pada politik, ekonomi, sosial dan budaya dan berpengaruh pada pengambilan keputusan. Kebebasan aspirasi rakyat mengakibatkan SBY dituntut membuat keputusan yang cepat, tepat dan siap menghadapi kritik dari rakyat.

4.      Joko Widodo (20 Oktober 2014 – sekarang)
Keadaan politik ,sosial, ekonomi pertahanan dan keamanan pada masa pemerintahan Jokowi hampir sama dengan masa pemerintahan SBY. Meskipun Joko Widodo tidak berlatar belakang militer tetapi gaya kepemimpinan otokratik dan demokratik tetap mempunyai porsi yang lebih dominan dibandingkan dengan gaya kepemimpinan bebas terkendali. Meskipun kepribadian Joko Widodo lebih terbuka dibandingkan dengan pemimpin-pemimpin sebelumnya dan kemampuan joko Widodo memperkecil jarak antara pemerintahan dan rakyat, gaya kepemimpinan Otokratik dan demokratik tetap dominan. Munculnya generasi Y yang memegang kendali dalam pemerintahan dan pelaku ekonomi “ memaksa” Joko Widodo untuk lebih memperbanyak menerapkan gaya kepemimpinan bebas terkendali dibandingkan pemimpin-pemimpin sebelumnya.

   

DAFTAR PUSTAKA 
Sutrisno, Edy. (2009). Manajemen sumber daya manusia. Jakarta: Kencana Perdana Media.
Gomes, Faustino Cardoso.(2003). Manajemen sumber daya manusia,. Yogyakarta: Andi Offset
Munandar, Ashari Sunyoto.(2014). Psikologi industri dan Organisasi. Jakarta: Universitas Indonesia.
Kasminto & Sjamsuddin.(2007). Kepemimpinan. Jakarta: Pusat pendidikan pelatihan dan pengawasan BPKP
Priyono.(2007). Pengantar Manajemen. Sidoarjo:Zifatama
Handoko, T,Hani.(2012). Manajemen. Yogyakarta: BPFE
Purwaningtyas, Ratri. www. ratriptyas.staff.gunadarma.ac.id.Wewenwmg dan kekuasan. Diakses 13 Oktober 2016 jam 20.00 WIB.