KEKUASAAN, KEPEMIMPINAN
DAN MOTIVASI
KEKUASAAN
A. PENGERTIAN KEKUASAAN
Kekuasaan adalah kemampuan untuk menggunakan pengaruh pada orang lain;
artinya kemampuan untuk mengubah sikap atau tingkah laku individu atau
kelompok. Kekuasaan juga berarti kemampuan
untuk mempengaruhi individu,
kelompok, keputusan, atau kejadian. Kekuasaan tidak sama dengan wewenang, wewenang tanpa kekuasaan ataukekuasaan tanpa
wewenang akan menyebabkan konflik dalam organisasi Kekuasaan berkaitan erat
dengan pengaruh (influence) yaitu tindakan atau contoh tingkah laku yang
menyebabkan perubahan sikap atau tingkah laku orang lain atau kelompok. (Purwaningtyas).
Sedangkan Handoko ( 2012) menyebutkan kekuasaan adalah
kemampuan untuk mempengaruhi individu, kelompok, keputusan atau kejadian. Selo
Soemarjan (dalam Soerjono, 1998) kekuasaan diartikan sebagai kemampuan
seseorang untuk mempengaruhi pihak-pihaklain
B. Bentuk Kekuasaan
Secara umum
ada dua bentuk kekuasaan:
1. Kekuasaan pribadi, kekuasaan yang didapat dari para pengikut dan didasarkan pada
seberapa besar pengikut mengagumi, respek dan terikat pada pemimpin.
2. Kekuasaan posisi, kekuasaan yang didapat
dari wewenang formal organisasi, besarnya kekuasaan
ini tergantung pada
besarnya pendelegasian orang
yang menduduki posisi tersebut.
C. SUMBER KEKUASAAN.
Kekuasaan tidak begitu saja diperoleh
individu, ada 6 sumber kekuasaan menurut John Brench dan Bertram Raven (dalam Purwaningtyas) , yaitu
:
1.
Kekuasaan
balas jasa (reward power)
Kekuasaan yang didasarkan pada kemampuan
seseorang pemberi pengaruh untuk
memberi
penghargaan pada orang
lain yang dipengaruhi
untuk melaksanakan perintah.
(bonus sampai senioritas atau persahabatan)
2.
Kekuasaan
paksaan (coercive power)
Kekuasaan berdasarkan pada
kemampuan orang untuk menghukum orang yang
dipengaruhi kalau
tidak memenuhi perintah
atau persyaratan. (teguran
sampai hukuman).
3.
Kekuasaan
sah (legitimate power)
Kekuasaan formal yang diperoleh berdasarkan hukum atau aturan
yang timbul dari pengakuan
seseorang yang dipengaruhi
bahwa pemberi pengaruh
berhak menggunakan pengaruh sampai pada batas tertentu.
4.
Kekuasaan keahlian (expert power)
Kekuasaan yang
didasarkan pada persepsi
atau keyakinan bahwa
pemberi pengaruh mempunyai keahlian
relevan atau pengetahuan
khusus yang tidak dimiliki oleh orang yang dipengaruhi.
(professional atau tenaga ahli).
5.
Kekuasaan
panutan (referent power)
Kekuasaan yang dimiliki oleh seseorang atau kelompok yang didasarkan
padaindentifikasi pemberi pengaruh
yang menjadi contoh
atau panutan bagi
yang dipengaruhi. (karisma, keberanian, simpatik dan lain-lain).
6.
Kekuasaan
Pengendalian Informasi (Control Of Information power)
Berasal
dari pengetahuan yang tidak
dimiliki orang lain, ini
dilakukan dengan pemberian atau penahanan informasi yang dibutuhkan.
KEPEMIMPINAN
A.
Pengertian
Kepemimpinan
Dalam
suatu organisasi, faktor kepemimpinan memegang peranan penting karena pemimpin
yang akan menggerakkan dan mengarahkan organisasi dalam mencapai tujuan. Dari
sudut manajemen pemimpin harus mampu menetapkan tujuan yang hendak dicapai oleh
organisasi atau perusahaan, dalam konteks ini seorang pemimpin harus mampu
merancang teknik dan strategi yang tepat. Selain itu seorang pemimpin dituntut
untuk mengambil keputusan yang cepat dan tepat (Sutrisno, 2009).
Menurut
Griffin dan Ebert (dalam Kasminto dan Sjamsuddin, 2007) kepemimpinan (leadership)
adalah proses memotivasi orang lain untuk mau bekerja dalam rangka mencapai
tujuan yang telah ditetapkan. Sedangkan Siagian (dalam Sutrisno, 2007) mengatakan
kepemimpinan adalah kemampuan seseorang untuk mempengaruhi orang lain, dalam
hal ini para bawahannya sedemikian rupa sehingga sehingga orang lain itu mau
melakukan kehendak pimpinan meskipun secara pribadi hal itu mungkin tidak
disenanginya. Menurut Sutrisno (2009) kepemimpinan sebagai proses mengarahkan dan mempengaruhi
aktivitas yang berkaitan dengan tugas dari para anggota kelompok.
Dari
uraian diatas dapat disimpulkan bahwa kepemimpinan adalah kemampuan seseorang
untuk mempengaruhi, memotivasi , mengarahkan orang lain sedemikian rupa untuk mau bekerja dalam
rangka mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
B.
Implikasi
Kepemimpinan
Menurut
Sutrisno (2009) ada tiga implikasi penting dalam kepemimpinan, yaitu:
1. Kepemimpinana
harus melibatkan orang lain , bawahan atau pengikut.
2. Kepemimpinan
mencakup distribusi kekuasaan yang tidak sama diantara pemimpin dan anggota
kelompok.
3. Kepemimpinan
sebagai kemampuan untuk menggunakan berbagai macam kekuasaan untuk mempengaruhi
perilaku pengikut melalui sejumlah cara.
C.
Fungsi
dan Peranan Pemimpin dalam Organisasi
Pemimpin
yang berhasil adalah pemimpin yang mampu mengelola atau mengatur organisasi secara efektif dan mampu
melaksanakan kepemimpinan secara efektif pula. Agar hal tersebut terlaksana
maka pemimpin harus mampu menjalankan fungsinya sebagai seorang pemimpin.
Fungsi
pemimpin menurut Terry (dalam Sutrisno, 2009) dapat dikelompokkan menjadi empat
yaitu: perencanaan, pengorganisasian, penggerakan dan pengendalian. Sutrisno
llebih lanjut mengatakan bahwa dalam menjalankan fungsinya pemimpin mempunyai
tugas-tugas tertentu , yang mengusahakan agar kelompoknya dapat bekerja mencapai
tujuan dengan baik, dalam kerjasama yang produktif dan dalam bagaimanapun yang
dihadapi kelompok.
Menurut
Gerungan (dalam Sutrisno, 2009) tugas utama pemimpin adalah :
1. Memberi
struktur yang jelas terhadap situasi-situasi yang dihadapi kelompok
2. Mengawasi
dan menyalurkan tingkah laku kelompok
3. Merasakan
dan menerangkan kebutuhan kelompok pada dunia luar, baik mengenai sikap-sikap,
harapan, tujuan dan kekhawatiran kelompok.
Kepemimpinan berperan sangat penting
dalam manajemen karena unsur manusia merupakan variabel yang teramat penting
dalam organisasi. Manusia memiliki karakteristik yang berbeda-beda mempunyai
kepentingan masing-masing, yang bahkan saling berbeda dan berakibat terjadi
konflik. Perbedaan kepentingan tidak hanya antar individu di dalam organisasi,
tetapi juga antara individu dengan organisasi di mana individu tersebut berada
(Kasminto dan Sjamsuddin, 2007). Sutrisno (2009) mengkategorikan peran tersebut
dalam tiga bentuk yaitu yang bersifat interpersonal, informasional dan dalam
kancah pengambilan keputusan.
1. Peranan yang bersifat interpersonal adalah keterampilan insani bagaimana
seorang pemimpin berinteraksi dengan manusia, bukan hanya dengan bawahannya,
akan tetapi juga dengan berbagai pihak yang berkepentingan.
2. Peranan yang bersifat informasional adalah bagaimana pemimpin sebagai
pemantau arus informasi yang terjadi
dari dan dalam organisasi memahami dengan mendalam informasi yang diterimanya
dan pengetahuan tentang berbagai fungsi yang harus diselenggarakan.
3. Peranan pengambilan keputusan adalah peranan pemimpin dalam
mengambil tiga bentuk keputusan yaitu sebagai entrepreneur, peredam gangguan
dan pembagi sumberdaya dan dana. Sebagai entrepreuneur pemimpin harus mampu
mengkaji terus menerus situasi yang dihadapi. Sebagai peredam gangguan,
pemimpin harus bersedia memikul tanggung jawab untuk mengambil tindakan
korektif terhadap gangguan yang serius yang terjadi dalam organisasi. Sebagai
pembagi sumber daya dan dana ini berkaitan dengan wewenang dan kekuasaan yang
dimiliki oleh seoran pemimpin. Kewenangan inilah yang membuat bawahan
tergantung kepadanya.
D. Teori Gaya Kepemimpinan
Gaya kepemimpinan dapat dilihat dari
berbagai macam sumber pandang, ditemukan berbagai gaya kepemimpinan dan
terbukti bahwa tidak ada satupun gaya kepemimpinan yang paling efektif dalam
setiap situasi kepemimpinan (Munandar, 2014).
Setiap situasi menuntut adanya gaya
kepemimpinan tertentu, Munandar (2014) menyebutkan beberapa teori kepemimpinan
yaitu: kajian Ohio State University, teori
contingency dari Fiedler, teori tiga
dimensi dari Reddin, teori kepemimpinan situasional dari Hersey dan Blanchard.
1. Kajian Ohio State University
Ada dua dimensi utama dari perilaku
pemimpin yang dikenal dengan penenggangan (consideration)
dan memprakarsai struktur (initiating structure).
Consideration menggambarkan derajat dan corak
hubungan seorang pemimpin dan bawahannya, yang ditandai oleh saling percaya,
penghargaan terhadap gagasan bawahan dan penenggangan terhadap perasaan
bawahan.
Memprakarsai struktur menggambarkan
sejauh mana seorang pemimpin member batasan dan struktur kepada perannya dan peran bawahannya
untuk mencapai tujuan kelompoknya.
2. Teori Contingency
Teori contingency, tinggi rendahnya prestasi kerja suatu kelompok dipengaruhi
oleh sistem motivasi dari pemimpin dan sejauh mana pemimpin dapat mengendalikan
dan mempengaruhi suatu situasi tertentu.
3. Teori Tiga Dimensi
Reddin mengembangkan teori tiga dimensi
yaitu: dimensi Orientasi-Tugas, dimensi Orientasi-Hubungan dan dimensi
efektivitas. Dengan menggunakan OH sebagai sumbu tegak dan OT sebagai sumbu
mendatar maka dikenali empat gaya dasar
dari perilaku manajerial yaitu:
a.
Separated : perilaku OT dan OH digunakan sedikit sekali
b.
Related : perilaku OH yang terutama digunakan
c.
Integrated : perilaku OH dan OT banyak digunakan
d.
Dedicated : perilaku OT yang terutama digunakan.
Menurut teori tiga dimensi seorang
pemimpin harus dapat menggunakan gaya kepemimpinan sesuai dengan tuntutan
situasi sesaat, mengubah gaya jika memang diperlukan dan mempertahankan gaya
tersebut jika situasi tidak menuntut perubahan. Supaya berhasil maka Reddin
menyarankan agar para pemimpin dilatih dalam tiga keterampilan yaitu:
keterampilan menanggapi situasi, keterampilan melenturkan gaya, keterampilan memanajemeni
situasi.
4. Teori Kepemimpinan Situasional
Teori kepemimpinan situasional yang
dikembangkan oleh Hersey dan Blanchard pada tahun1982 yang merupakan pengolahan dari tiga dimensi
didasarkan atas hubungan kurva linear antara perilaku tugas, perilaku hubungan
dan perilaku kedewasaan.Teori ini memberikan pemahaman tentang kaitan gaya
kepemimpinan yang efektif dengan tingkat kedewasaan dari para pengikutnya dan
bawahan merupakan faktor yang sangat penting dalam situsi kepemimpinan.
Menurut Fiedler (dalam Sutrisno, 2009) ,
tidak ada seorangpun yang dapat menjadi pemimpin yang berhasil hanya dengan
menerapkan satu macam gaya kepemimpinan untuk segala situasi, untuk itu
pemimpin harus mampu menetapkan gaya kepemimoinan yang berbeda-beda sesuai
dengan situasi yang berbeda-beda pula. Sutrisno(2009) menyebutkan beberapa gaya
kepemimpinan yang ada yaitu:
a. Gaya Persuasif, yaitu gaya
memimpin dengan menggunakan pendekatan yang menggugah perasaan, pikiran atau
dengan kata lain melakukan ajakan dan bujukan.
b. Gaya Refresif, yaitu gaya
kepemimpinan dengan memberi tekanan-tekanan, ancaman-ancaman, sehingga bawahan merasa
ketakutan.
c. Gaya Partisipatif, yaitu
gaya kepemimpinan dengan cara memimpin member kesempatan kepada bawahan untuk
secara aktif baik mental, spiritual, fisisk maupun material dalam kiprahnya di
organisasi.
d.
Gaya Inovatif, yaitu
pemimpin yang selalu berusaha dengan keras untuk mewujudkan usaha-usaha
pembaharuan di dalam segala bidang, baik bidang politik, ekonomi, sosial,
budaya atau setiap produk yang tetkait dengan kebutuhan manusia.
e. Gaya Investigatif, Yaitu
gaya pemimpin yang selalu melakukan penelitian disertai penuh rasa curiga
terhadap bawahannya sehingga menyebabkan kreativitas, inovasi serta inisiatif
dari bawahan kurang berkembang, karena bawahan takut melakukan
kesalahan-kesalahn.
f. Gaya Inspektif, yaitu
pemimpin yang suka melakukan acara-acara yang sifatnya protokoler, kepemimpinan
dengan gaya inspektif menuntut penghormatan bawahan, atau pemimpin yang senang
apabila dihormati.
g. Gaya Motivatif, yaitu
pemimpin yang dapat menyampaikan informasi mengenai ide-idenya ,
program-programnya dan kebijakan- kebijakan kepada bawahan dengan baik. Komunikasi
tersebut membuat segala ide, program dan kebijakan dapat dipahami oleh bawahan
sehingga bawahan mau merealisaikan semua ide, program dan kebijakan yang
ditetapkan oleh pemimpin.
h. Gaya Naratif, yaitu pemimpin
yang banyak bicara namun tidak disesuaikan dengan apa yang ia kerjakan, dengan
kata lain pemeimpin yang banyak bicara sedikit bekerja.
i. Gaya Edukatif, gaya pemeimpin yang suka melakukan pengembangan
bawahan dengan cara memberikan pendidikan dan keterampilan kepada bawahan,
sehingga bawahan menjadi banyak wawasan dan pengalaman.
j. Gaya Retrogresif, pemimpin yang tidak suka melihat maju, apabila
melebihi dirinya. Pemimpin ini selau menghalangi bawahannya untuk mengembangkan
pengetahuan dan keterampilan
Menurut Fiedler , tidak ada seorangpun
yang dapat menjadi pemimpin yang berhasil hanya dengan menerapkan satu macam
gaya kepemimpinan untuk segala situasi, untuk itu pemimpin harus mampu
menetapkan gaya kepemimoinan yang berbeda-beda sesuai dengan situasi yang
berbeda-beda pula (Sutrisno, 2007).
Griffin dan Ebert (dalam Kasminto dan
Sjamsuddin, 2007) mengemukakan 3 (tiga) gaya kepemimpinan, yaitu:
a.
Gaya otokratik (autocratic
style),
Pemimpin dengan gaya otokratik
pada umumnya memberikan perintah-perintah dan meminta bawahan untuk mematuhinya
.Para komandan militer di medan perang umumnya menerapkan gaya ini. Pemimpin yang
menerapkan gaya ini tidak memberikan cukup waktu kepada para bawahan untuk
bertanya dan hal ini lebih sesuai pada situasi yang memerlukan kecepatan dan
pengambilan keputusan. Gaya ini cocok untuk diterapkan pada situasi dimana
pemimpin harus cepat mengambil keputusan sehubungan adanya desakan para
pesaing. Gaya otoratik ini tidak selalu jelek seperti persepsi orang,
kepemimpinan ini cocok untik bawahan yang malas, pembuat masalah tidak disiplin
dan susah diatur
b. Gaya Demokratik (Democratik Style)
Pemimpin dengan gaya demokratik
pada umumnya meminta masukan kepada para bawahan/stafnya terlebih dahulu
sebelum mengambil keputusan, namun pada akhirnya menggunakan kewenangannya
dalam mengambil keputusan.
c. Gaya Bebas Kendali (free-rein style)
Pemimpin dengan gaya bebas terkendali
pada umumnya memposisikan dirinya sebagai konsultan bagi para bawahannya dan
cenderung memberikan kewenangan kepada para bawahan untuk mengambilkeputusan.
Dengan gaya ini seorang pemimpin lebih menekankan kepada unsur keyakinan bahwa
kelompok pekerja telah dapat dipercaya karena seringnya menyampaikan pendapat
dan gagasannya, telah mengetahui apa yang harus dikerjakan dan mengetahui
bagaimana mengerjakannya sehingga pemimpin hanya tut wuri handayani (broad
based management).
MOTIVASI
A. Pengertian Motivasi
Motivasi adalah suatu faktor yang
mendorong seseorang untuk melakukan aktivitas tertentu, oleh karena itu
motivasi seringkali diartikan sebagai faktor pendorong perilaku seseorang
(Sutrisno, 2007). Motivasi sering, diartikan dengan istilah dorongan, yang berarti
tenaga yang menggerakkan jiwa dan jasmani untuk berbuat, sehingga motif
merupakan “driving force” seseorang, untuk bertingkah laku dalam
mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Setiap orang mempunyai motif diri yang
tentu bisa berbeda antara orang yang satu dengan yang lainnya (Priyono, 2007).
Sedangkan Chung & Megginson (dalam Gomes, 2003) menyatakan bahwa motivasi
dirumuskan sebagai perilaku yang ditujukan pada sasaran, motivasi berkaitan
dengan tingkat usaha yang dilakukan seseorang dalam mengejar suatu tujuan.
Dari uraian diatas motivasi
didefinisikan sebagai suatu faktor mendorong yang menggerakkan seseorang untuk berperilaku dan berusaha untuk mencapai
suatu tujuan yang telah ditetapkan.
B. Komponen-Komponen
Motivasi
Sutrisno(2009) berpendapat bahwa
motivasi memiliki komponen, yaitu komponen dalam dan komponen luar.
1. Komponen dalam ialah perubahan dalam diri seseorang , keadaan
merasa tidak puas, ketegangan psikologis. Komponen dalam adalah komponen yang
ingin dipuaskan.
2. Komponen luar, ialah apa yang ia diinginkan seseorang , tujuan
yang menjadi arah tingkahlakunya.Komponen luar adalah komponen yang ingin
dicapai.
C. Faktor-faktor yang
Mempengaruhi Motivasi
Motivasi sebagai proses psikologis dalam
diri seseorang akan dipengaruhi beberapa faktor. Faktor- faktor tersebut dapat
dibedakan atas faktor intern dan faktor ekstern Sutrisno (2009).
1. Faktor intern : keinginan untuk dapat hidup, keinginan untuk dapat
memiliki, keinginan untuk memperoleh penghargaan, keinginan untuk memperoleh
pengakuan dan keinginan untuk berkuasa.
2. Faktor ekstern ; Kondisi lingkungan kerja, kompensasi yang
memadai, supervise yang baik, adanya jaminan pekerjaan, status dan tanggung
jawab, adanya peraturan yang fleksibel.
ANALISA
GAYA KEPEMIMPINAN
PRESIDEN RI
A.
Pendahuluan
Republik
Indonesia merdeka pada tanggal 17 Agustus 1945. Selama rentang waktu 71 tahun Indonesia telah
dipimpin oleh tujuh orang presiden yaitu ; Soekarno, Soeharto, B.J Habibie,
Abdurrahman Wahid, Megawati Soekarno Poetri, Soesilo Bambang Yudhoyono dan Joko
Widodo.
|
No
|
Nama
Presiden
|
Masa
Jabatan
|
|
1
|
Soekarno
|
18
Agustus 1945 – 12 Maret 1967
|
|
2
|
Soeharto
|
12
Maret 1967 – 21 Mei 1998
|
|
3
|
BJ
Habibie
|
21
Mei 1998- 20 Oktober 1999
|
|
4
|
Abdurrahman
Wahid
|
20
Oktober 1999 – 23 Juli 2001
|
|
5
|
Megawati
Soekarno Poetri
|
23
Juli 2001 – 20 Oktober 2004
|
|
6
|
Soesilo
Bambang Yudhoyono
|
20
Oktober 2004 – 20 Oktober 2014
|
|
7
|
Joko
Widodo
|
20
Oktober 2014 - sekarang
|
B.
Analisa
Gaya Kepemimpinan dari Soekarno, Soeharto, Soesilo Bambag Yoedhoyono dan Joko
Widodo
Analisa
gaya kepemimpinan dari empat Presiden Republik Indonesia ini dibatasi
berdasarkan gaya kepemimpinan yang dikemukakan oleh Griffin dan Ebert yang
mengemukakan 3 (tiga) gaya kepemimpinan, yaitu: gaya otokratik (autocratic
style), gaya demokratik (democratic
style), gaya bebas terkendali (free-rein
style).
1. Soekarno
(18 Agustus 1945 – 12 Maret 1967)
Soekarno
merupakan presiden pertama Republik Indonesia. Soekarno yang latar belakangnya adalah seorang politikus yang handal, seorang
orator ulung yang mempunyai kemampuan persuasif yang kuat. Soekarno mampu
mempengaruhi orang banyak dengan pidato-pidatonya. Pada saat Soekarno
memerintah Indonesia selama hampir 30 tahun gaya kepemimpinan yang dominan dari
ketiga gaya kepemimpinan Griffin dan Ebert adalah gaya kepemimpinan otokratik
dan demokratik.
Pada
saat Soekarno memegang jabatan presiden, Indonesia baru saja merdeka dari
jajahan Belanda. Masa pemerintahan Soekarno dalam sejarah RI dikenal dengan
masa orde lama, Indonesia baik dari segi politik, ekonomi, sosial masih belum stabil.
Selain menghadapi ketidakstabilan dalam berbagai sektor dari dalam negeri ,
gangguan akan kedaulatan RI masih kerap terjadi maka keputusan yang diambil
harus cepat dan tepat, meskipun Soekarno meminta usulan ataupun pandangan yang
lain dari bawahannya tetapi keputusan tetap berada dalam kewenangannya. Gaya
kepemimpinan otokratik semakin dominan ketika keadaan politik tidak stabil
dengan munculnya berpuluh-pulauh partai dan perubahan undang-undang dasar dan
sistem pemerintahan . Soekarno menerapkan keputusan yang cepat, bawahannya
harus melaksanakan perintah tersebut tanpa banyak bertanya karena situasi
negara yang cepat mengalami perubahan, kewenangan untuk pengambilan keputusan
sepenuhnya berada di bawah wewenangnya.
2. Soeharto
(12 Maret 1967-21 Mei 1998)
Bergantinya
orde pemerintahan lama ke orde pemerintahan baru. Keadaan politik relative sudah
dalam kendali. Indonesia memfokuskan pada bidang pembangunan dengan dicanangkannya
REPELITA rencana pembangunan lima tahun. Partai di Indonesia dibatasi dari
berpuluh partai menjadi 3 partai saja. Partai yang ada pada saat itu adalah
Golongan Karya, Partai Demokratik Indonesia dan Partai Persatuan Pembangunan.
Soeharto
mampu mengendalikan iklim politik sehingga tidak banyak gangguan yang terjadi.
Kebebasan rakyat dalam menyampaikan aspirasi dibatasi dan tidak bisa langsung.
Aspirasi rakyat diwakili oleh ketiga partai tersebut. Terkendalinya sistem
politik berdampak pada ekonomi. Di bidang ekonomi Indonesia mulai bangkit. Dengan latar belakang Soeharto dari militer
maka gaya kepemimpinan otokratik lebih dominan
dibandingkan dengan demokratik dan bebas terkendali. Kepemimpinan demokratik mengalami porsi yang
lebih besar dibandingkan pada saat orde lama. Meskipun begitu, banyak aspirasi
rakyat yang tidak bisa dikemukakan karena sistem politik yang berlaku dan
pengambilan keputusan yang hanya diwakili oleh pendapat segelintir orang. Kendali
politik, ekonomi, sosial budaya sepenuhnya berada pada tangan partai yang
berkuasa di Majelis Permusyawaratna Rakyat (MPR) dan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR)
3. Soesilo
Bambang Yudhoyono (20 Oktober 2004 – 20 Oktober 2014)
Pemerintahan Soesilo Bambang Yudhoyono dikenal dengan masa
pemerintahan reformasi. Indonesia mengalami perubahan yang sangat besar di
bidang politik. Rakyat dapat langsung menyampaikan aspirasinya dengan adanya
pilihan presiden secara langsung. Lahirnya banyak partai yang menyebabkan
berkurangnya dominasi salah satu partai, yang kerap terjadi adalah koalisi dalam pemerintahan.
Gaya kepemimpinan otokratik dan demokratik dominan dalam
pengambilan keputusan Soesilo Bambang
Yoedhoyono yang berlatar belakang militer. Tetapi gaya kepemimpinan bebas
terkendali mengalami peningkatan di bandingkan gaya kepemimpinan Soekarno dan
Soeharto. Penerapan gaya kepemimpinan bebas terkendali ini salah satunya akibat
kemajuan teknologi dan iklim politik dimana rakyat tidak bisa sepenuhnya berada
dalam kendali pemerintahan. Kemajuan di bidang teknologi yang pesat berpengaruh
pada politik, ekonomi, sosial dan budaya dan berpengaruh pada pengambilan
keputusan. Kebebasan aspirasi rakyat mengakibatkan SBY dituntut membuat
keputusan yang cepat, tepat dan siap menghadapi kritik dari rakyat.
4. Joko
Widodo (20 Oktober 2014 – sekarang)
Keadaan
politik ,sosial, ekonomi pertahanan dan keamanan pada masa pemerintahan Jokowi
hampir sama dengan masa pemerintahan SBY. Meskipun Joko Widodo tidak berlatar
belakang militer tetapi gaya kepemimpinan otokratik dan demokratik tetap
mempunyai porsi yang lebih dominan dibandingkan dengan gaya kepemimpinan bebas
terkendali. Meskipun kepribadian Joko Widodo lebih terbuka dibandingkan dengan
pemimpin-pemimpin sebelumnya dan kemampuan joko Widodo memperkecil jarak antara
pemerintahan dan rakyat, gaya kepemimpinan Otokratik dan demokratik tetap
dominan. Munculnya generasi Y yang memegang kendali dalam pemerintahan dan
pelaku ekonomi “ memaksa” Joko Widodo untuk lebih memperbanyak menerapkan gaya
kepemimpinan bebas terkendali dibandingkan pemimpin-pemimpin sebelumnya.
DAFTAR PUSTAKA
Sutrisno,
Edy. (2009). Manajemen sumber daya manusia. Jakarta: Kencana Perdana Media.
Gomes,
Faustino Cardoso.(2003). Manajemen sumber daya manusia,. Yogyakarta: Andi
Offset
Munandar,
Ashari Sunyoto.(2014). Psikologi industri dan Organisasi. Jakarta: Universitas
Indonesia.
Kasminto
& Sjamsuddin.(2007). Kepemimpinan. Jakarta: Pusat pendidikan pelatihan dan
pengawasan BPKP
Priyono.(2007).
Pengantar Manajemen. Sidoarjo:Zifatama
Handoko,
T,Hani.(2012). Manajemen. Yogyakarta: BPFE
Purwaningtyas,
Ratri. www. ratriptyas.staff.gunadarma.ac.id.Wewenwmg dan kekuasan. Diakses 13 Oktober 2016 jam
20.00 WIB.