KEPEMIMPINAN TRANSFORMASIONAL DIRUT BANK MANDIRI
Dalam hubungan pemimpin
dan bawahan terjadi proses saling mempengaruhi dimana pemimpin akan berupaya
mempengaruhi bawahannya agar sesuai dengan harapannya. Corak interaksi yang
terjadi akan menentukan keberhasilan seorang pemimpin dalam kepemimpinannya.
Untuk mencapai harapan tersebut seorang pemimpin dituntut untuk memiliki gaya
kepemimpinan yang disesuaikan dengan kondisi bawahannya. Pemimpin mendiagnosa
dahulu keadaan bawahannya dan berdasarkan kesimpulannya ia menggunakan gaya
kepemimpinan yang dianggap sesuai dengan kondisi bawahannya (Munandar, 2014)..
Teori tersebut
dipraktekkan oleh Direktur Utama PT Bank Mandiri Tbk (Persero) Kartika
Wirjoatmojo yang memiliki cara dan gaya kepemimpinan yang disesuaikan untuk
menghadapi generasi muda yang bekerja di lingkungan perusahaannya. Generasi
muda yang bekerja di lingkungan
perusahannya adalah generasi yang berbeda dibandingkan dirinya. Generasi muda
yang bekerja di lingkungan pekerjaannya mayoritas adalah Generasi Y dan
Generasi Z. Generasi ini dikenal dengan
generasi millennium Mereka adalah generasi yang lahir awal 1980 hingga awal
2000, yang lahir ditengah perkembangan teknologi yang pesat. Perkembangan
teknologi yang pesat mempengaruhi sensitivitas generasi Y terhadap perubahan.
Mereka tidak takut perubahan, generasi yang sangat dekat dengan media sosial,
bekerja dengan menerapkan kreativitasnya serta mencari lingkungan kerja yang
santai dan tidak kaku.
Melihat
perubahan yang terjadi Kartika harus
menentukan langkah-langkah yang sesuai agar corak interaksi yang terjadi antara
dia dengan bawahannya selaras. Langkah yang ditempuh oleh Kartika salah satunya
adalah mengubah budaya organisasi di lingkungan kerjanya dan berusaha menbuat
pegawai bahagia dengan bawahannya. Salah satu hal yang direncanakannya adalah
dia akan membebaskan para pegawai Bank Mandiri untuk mengenakan pakaian santai
jeans ke kantor setiap Jum’at,
diharapkan dengan menerapkan hal tersebut para pegawai yang mayoritas generasi
Y itu dapat Show up yourself, up to you, ujar
Kartika. Lebih Kartika mengatakan generasi muda saat ini harus dibiasakan
dengan diskusi terbuka dengan mengungkapkan pikirannya di lingkungan kerja .
Corak interaksi yang
terjadi antara Kartika Wirjoatmojo dengan pegawainya di Bank Mandiri sesuai
dengan corak dan proses interaksi yang di kemukakan oleh Bass dan Avolio pada
tahun 1994 tentang kepemimpinan transformasional.
Munandar (2014) menjelaskan proses interaksi
yang terjadi antara pimpinan dan bawahannya pada kepemimpinan transformasional
ditandai oleh pengaruh pemimpin untuk
mengubah bawahannya menjadi seseorang yang merasa mampu dan bermotivasi tinggi
dan berupaya mencari pprestasi kerja yang tinggi dan bermutu. Pemimpin mengubah
bawahannya sehingga tujuan kelompok dapat dicapai bersama. Munandar (2014)
menyebutkan lima aspek kepemimpinan transformasional ialah:
1. Attributed Charisma,
dimana pemimpin mendahulukan kepentingan perusahaan dan orang lain dibandingkan
kepentingan dirinya, bawahan merasa tenang dan memiliki rasa bangga berada
dekat dengan pemimpinnya. Pemimpin dapat tenang menghahapi situasi yang
kritikal dan yakin dapat mengatasinya.
2. Inspirational Leadership /
Motivation, pemimpin mampu menenimbulkan aspirasi pada bawahannya
dengan menentukan standar-standar tinggi dan keyakinanbahwa tujuan dapat
dicapai. Sehingga bawahan mampu melakukan tugas pekerjaannya, mampu memberikan
berbagai macam gagasan. Mereka merasa diberi inspirasi oleh pimpinannya.
3. Intelectual Stimulation, bawahan
merasa pimpinan mendorong mereka memikirkan kembali cara mereka, untuk mencari
cara-cara baru dlaam melaksanakan tugas dan merasa mendapatkan cara baru dalam
mempersepsi tugas mereka.
4. Individual Consideration, bawahan
merasa diperhatikan dan diperlakukan secara khusus oleh pimpinannya. Pemimpin
memperlakukan setiap bawahannya sebagai seorang pribadi dengan kecakapan,
kebutuhan, keinginan masing-masing. Ia memberikan nasehat yang bermakna, member
pelatihanyang diperlukan dan bersedia mendengarkan pandanga dan keluhan mereka.
Pemimpin menimbulkan rasa mampu pada bawahannyabahwa mereka mampu melakukan
pekerjaannya, dapat memberikan sumbangan yang berarti untuk mencapai tujuannya.
5. Idealized Influence, pemimpin
berusaha melalui pembicaraannya, mempengaruhi bawahannya dengan menekankan
pentingnya nilai-nilai dan keyakinan, pentingnya keikatan pada keyakinan, perlu
dimilikinya tekad mencapai tujuan, perlu diperhatikan akibat- akibat moral dan
etik dari keputusan yang diambil.
Langkah yang ditempuh
oleh Kartika Wirjoatmojo sesuai dengan hasil penelitian tentang kepemimpinan
transaksional dan transformasional, antara lain keterkaitannya dengan aspek
kewirausahaan yang dilakukan oleh Rufus
Wutan pada tahun 1996 dan Ruffus Wattan dan Munandar pada tahun 1997 yang
menemukan dalam penelitian mereka bahwa para karyawan dari bank-bank dengan
peringkat tinggi mempersepsikan pimpinan mereka memiliki ciri-ciri pemimpin
transformasional yang lebih jelas dan kuat ( Munandar, 2014).
DAFTAR PUSTAKA
Munandar,
Ashar Sunyoto. (2014). Psikologi industry dan organisasi. Jakarta: UI-Press
Rahmah,
Ghoida (2016). Begini gaya memimpin generasi Ydan Z ala bos Bank Mandiri. www.m.tempo.co.id.
Diakses 12 Oktober 2016 pukul 20.00 WIB
Tidak ada komentar:
Posting Komentar