KEPUASAN
KERJA
Setiap individu akan
memiliki tingkat kepuasan kerja yang berbeda-beda sesuai dengan sistem nilai-nilai yang berlaku pada
dirinya. Hal ini disebabkan karena adanya perbedaan cara pandang dari setiap
individu. Kepuasan kerja merupakan keadaan emosional yang menyenangkan dengan
mana karyawan memandang pekerjaan mereka. Semakin banyak aspek-aspek dalam
pekerjaan yang sesuai dengan keinginan individu tersebut maka semakin tinggi
tingkat kepuasan yang dirasakannya ( Handoko, dalam Widodo 2010).
1.
Definisi
Howel dan Dipdoye (dalam Munandar 2014)
kepuasan kerja sebagai hasil keseluruhan dari derajat suka atau tidak sukanya
tenaga kerja terhadap berbagai aspek dalam pekerjaannya. Sedangkan Luthan
(1995) mendefinisikan kepuasan kerja adalah ungkapan kepuasan karyawan tentang
bagaimana pekerjaaan mereka dapat memberikan manfaat bagi organisasi. Munandar
(2014) mendefinisikan kepuasan
kerja merupakan hasil dari tenaga kerja
yang berkaitan dengan motivasi kerja..
Dari beberapa definisi
diatas dapat disimpulkan bahwa kepuasan kerja adalah ungkapan kepuasan karyawan
yang didapat dari hasil keseluruhan dari derajat suka atau tidak sukanya
karyawan terhadap berbagai aspek dalam
pekerjaannya yang berkaitan dengan motivasi kerja dan bagaimana pekerjaan tersebut
dapat memberikan manfaat.
2.
Teori-
Teori Kepuasan Kerja
Menurut Munandar (2014) , pendekatan yang
digunakan untuk menjelaskan teori kepuasan kerja ada tiga macam, yaitu sebagai
berikut:
a.
Teori
Pertentangan (Disperancy Theory).
Teori pertentangan dari
Locke meyatakan bahwa kepuasan atau ketidak puasan terhadap beberapa aspek dari
pekerjaan mencerminkan penimbangan dua nilai yaitu:
1) Pertentangan
yang dipersepsikan antara apa yang diinginkan individu dengan apa yang
diterima. Individu akan merasa puas atau tidak puas merupakan sesuatu yang
pribadi, tergantung bagaimana ia mempersepsikan adanya kesesuaian atau pertentangan
antara keinginan dan hasil keluarannya.
Contoh :
Seorang
marketing perusahaan otomotif mempunyai target individu pada kwartal pertama
tahun 2016 ia harus bisa menjual 10 unit sepeda motor dan 5 unit mobil. Pada
akhir bualan April ternyata hasil penjualan yang dicapai adalah 5 unit sepeda
motor dan 8 unit mobil, karyawan tersebut merasa tidak puas dengan prestasi
kerja yang dicapai, hal ini disebabkan target yang diinginkan tidak tercapai.
2) Pentingnya
apa yang diinginkan oleh individu. Kepuasan kerja secara keseluruhan bagi
individu adalah jumlah kepuasan kerja dari setiap aspek dikalikan dengan
derajat pentingnya aspek pekerjaan bagi individu.
Contoh :
Anita
sorang desainer sepatu dia merasa puas bila hasil rancangannya unik, terbatas
dan material yang digunakan nyaman dan
dapat tahan lama sehingga ia tidak pernah memproduksi hasil rancangaan secara
masal karena Anita merasa puas bila produknya terbatas tapi keunikan dan
kwalitasnya tetap terjaga.
b.
Model
dari Kepuasan Bidang/ Bagian (Facet
Satisfaction)
Menurut
model Lawler individu akan puas dengan bidang tertentu dari pekerjaan mereka, jika jumlah dari bidang mereka persepsikan harus mereka terima untuk
melaksanakan suatu kerja sama dengan
jumlah mereka persepsikan dari yang secara aktual mereka terima.yang
dipersepsikan orang dari apa yang secara
aktual
Menurut
Lawler, jumlah dari bidang yang dipersepsikan orang sebagai sesuai tergantung
dari bagaimana orang mempersepsikan masukan pekerjaan, ciri-ciri pekerjaannya
dan bagaimana mereka mempersepsikan masukan dan keluaran dari orang lain yang
dijadikan pembanding bagi mereka. Jumlah dari bidang yang dipersepsikan orang
dari apa yang secara aktual mereka terima tergantung dari hasil keluaran yang
secara actual mereka terima dan hasil keluaran yang dipersepsikan dari orang
dengan siapa mereka bandingkan.
Untuk
meningkatkan tingkat kepuasan kerja, Lawler memberikan nilai bobot kepada
setiap bidang sesuai dengan nilai-nilai pentingnya bagi individu, kemudian
mengkombinasikan semua skor kepuasan bidang yang berbobot ke dalam satu skor
total.
Contoh:
Farah
seorang karyawan yang bekerja di bidang IT merasa tidak puas dengan gaji yang dia
terima selama ini. Menurut Farah gajinya yang dia terima lebih kecil dibandingkan dengan rekannya
Sita seorang karyawan IT yang bekerja di tim yang sama dengannya
meskipun selama ini dia selalu berdisiplin terhadap waktu dan peraturan
kerja serta semua tugas diselesaikan
dengan baik dengan hasil yang memuaskan. Beban kerja serta prestasi kerja Sita
lebih sedikit dibandingkan dirinya. Sita lebih banyak bolos dan selalu pulang
lebih cepat dari waktu yang telah ditetapkan
sehingga banyak tugasnya yang tidak selesai.
c.
Teori
Proses Bertentangan (Opponen Process
Theory).
Teori
proses bertentangn dari Landy menekankan bahwa orang ingin mempertahankan suatu
keseimbangan emosional (emotional
equilibrium). Teori ini mengasumsikan bahwa kondisi emosional yang ekstrim
tidak akan memberikan kemaslahatan. Kepuasan atau ketidakpuasan kerja
berhubungan dengan emosi sehingga memacu mekanisme fisiologika dalam sistem
saraf pusat saraf yang membuat aktif emosi yang bertentangan.
Teori
ini menyatakan bahwa individu jika memperoleh ganjaran pada pada pekerjaan,
mereka merasa senang sekaligus ada rasa tidak senang. Setelah beberapa saat,
rasa senang menurun sehingga orang merasa agak sedih sebelum kembali normal.
Teori ini berasumsi bahwa kepuasan kerja bervariasi secara mendasar dari waktu
ke waktu sehingga pengukuran kepuasan kerja perlu dilakukan secara periodic
dengan interval waktu yang sesuai.
Contoh :
Harsa karyawan restoran siap saji, pada bulan ini dia terpilih
sebagai karyawan yang berprestasi terbaik dan namaya di pajang di dinding
restoran. Harsa tidak menanggapi hal itu dengan gembira secara berlebihan, pada
awalnya dia merasa senang dengan kabar gembira tersebut, tetapi prestasinya itu
tidak membuat dia terlena. Dia berpikir bahwa pada bulan yang akan datang dia
harus mampu mempertahankan prestasinya dan bekarja lebih keras, bahkan kalau perlu ditingkatkan.
DAFTAR PUSTAKA
Munandar,
Ashari Sunyoto.(2014). Psikologi industri dan Organisasi. Jakarta: Universitas
Indonesia
Handoko, T,Hani.(2012). Manajemen. Yogyakarta: BPFE