KECERDASAN EMOSIONAL DAN KEPEMIMPINAN TRANSFORMASIONAL
Di
awal tahun 2017 ada event yang membuat perhatian dunia terfokus, diantaranya adalah pergantian pemimpin di USA.
Kalau di Indonesia yang menjadi
perbincangan hangat adalah pemilihan
DKI-1 yang semakin dinamis situasinya tergambarkan oleh perang strategi diantara
para pendukung yang menghiasi media
komunikasi. Semua semakin menyadarkan kita bagaimana sosok seorang pemimpin
akan membuat dampak yang besar bagi pengikutnya.
Hubungan antara pemimpin dan
pengikutnya merupakan hubungan saling ketergantungan yang pada umunmya tidak
seimbang. Dalam proses interaksi yang terjadi antara pemimpin dan bawahan
berlangsung proses saling mempengaruhi , dimana pemimpin berupaya mempengaruhi
bawahan agar berperilaku sesuai dengan harapannya ( Munandar, 2014).
Ada dua corak kepemimpinan yang dikenal
yaitu kepemimpinan transformasional dan
transaksional. Pada kepemimpinan transformasional pemimpin berpengaruh untuk
mengubah perilaku pengikut menjadi seseorang yang merasa mampu dan bermotivasi
tinggi serta berupaya mencapai prestasi kerja yang tinggi dan bermutu.
Kepemimpinan
transformasional menuntut pemimpin untuk mempunyai aspek-aspek yang mendukung
diantaranya: mendahulukan kepentingan perusahaan dan orang lain daripada kepentingan
diri sendiri, mampu menimbulkan inspirasi pada bawahannya, mampu mendorong untuk
berkreatifitas, menimbulkan rasa mampu pada bawahannya bahwa mereka mampu
melakukan pekerjaanya, dan memperlihatkan kepercayaan dan cita-citanya,
keyakinan dan nilai hidupnya.
Aspek-aspek
tersebut tidak lepas dari kecerdasan emosional yang dimiliki oleh seorang
pemimpin. Menurut Goleman (dalam desmita, 2015), kecerdasan emosional merujuk
kepada kemampuan mengenali perasaan diri sendiri dan perasaan orang lain,
kemampuan memotivasi diri sendiri dan kemampuan mengelola emosi dengan baik
pada diri sendiri dan dalam hubungannya dengan orang lain.
Goleman
(dalam desmita, 2015) mengklasifikasikan kecerdasan emosional atas lima
komponen penting yaitu, mengenali emosi, mengelola emosi, memotivasi diri
sendiri, mengenali emosi orang lain dan membina hubungan.
Mengenali
emosi merupakan kesadaran diri, mengatahui apa yang dirasakan seseorang pada
suatu saat dan menggunakannya untuk memandu pengambilan keputusan. Kesadaran
diri membantu mengelola diri sendiri, hubungan antara personal serta menyadari emosi
dan pikiran sendiri. Mengelola emosi, mampu menguasai, mengelola dan
mengarahkan emosinya dengan baik.
Motivasi
diri, menggunakan hasrat yang paling dalam untuk menggerakkan dan menuntun
manusian menuju sasaran, membantu mengambil inisiatif dan bertindak secara
efektif serta bertahan menghadapi kegagalan dan frustasi.
Mengenali
emosi orang lain , mampu merasakan apa yang dirasakan oleh orang lain, mampu
memakai perspektif mereka, menimbulkan hubungan saling percaya dan menyelaraskan
diri dengan orang banyak dan masyarakat.
Membina
hubungan, mampu mengendalikan dan menangani emosi dengan baik ketika
berhubungan dengan orang lain, cermat membaca strategi dan jaringan social,
berinteraksi dengan lancer, memahami dan bertindak bijaksana dalam hubungan
antar manusia.
Kelima
komponen kecerdasan emosinal yang dikemukakan Goleman sangat dibutuhkan oleh
manusia dalam rangka mencapai kesuksesan. Apabila kecerdasan emosi tersebut
dimiliki oleh seorang pemimpin atau
calon pemimpin maka perubahan dengan
tujuan menuju arah yang lebih baik dapat
dicapai.
DAFTAR
PUSTAKA
Desmita
(2015). Psikologi perkembangan. Bandung: Remaja Rosda Karya.
Munandar,
A.S.(2014). Psikologi industry dan organisasi. Jakarta: UI Press
Tidak ada komentar:
Posting Komentar