Sabtu, 21 Januari 2017

Psi Manajemen / Kecerdasan Emosional dan Kepemimpinan Transformasional



KECERDASAN EMOSIONAL DAN KEPEMIMPINAN TRANSFORMASIONAL


            Di awal tahun 2017 ada event yang membuat perhatian dunia terfokus,  diantaranya adalah pergantian pemimpin di USA. Kalau di Indonesia yang  menjadi perbincangan hangat adalah  pemilihan DKI-1 yang semakin dinamis situasinya tergambarkan oleh perang strategi diantara para pendukung yang  menghiasi media komunikasi. Semua semakin menyadarkan kita bagaimana sosok seorang pemimpin akan membuat dampak yang besar bagi pengikutnya.
            Hubungan antara pemimpin dan pengikutnya merupakan hubungan saling ketergantungan yang pada umunmya tidak seimbang. Dalam proses interaksi yang terjadi antara pemimpin dan bawahan berlangsung proses saling mempengaruhi , dimana pemimpin berupaya mempengaruhi bawahan agar berperilaku sesuai dengan harapannya ( Munandar, 2014).
            Ada dua corak kepemimpinan yang dikenal  yaitu kepemimpinan transformasional dan transaksional. Pada kepemimpinan transformasional pemimpin berpengaruh untuk mengubah perilaku pengikut menjadi seseorang yang merasa mampu dan bermotivasi tinggi serta berupaya mencapai prestasi kerja yang tinggi dan bermutu.
Kepemimpinan transformasional menuntut pemimpin untuk mempunyai aspek-aspek yang mendukung diantaranya: mendahulukan kepentingan perusahaan dan orang lain daripada kepentingan diri sendiri, mampu menimbulkan inspirasi pada bawahannya, mampu mendorong untuk berkreatifitas, menimbulkan rasa mampu pada bawahannya bahwa mereka mampu melakukan pekerjaanya, dan  memperlihatkan kepercayaan dan cita-citanya, keyakinan dan nilai hidupnya.
Aspek-aspek tersebut tidak lepas dari kecerdasan emosional yang dimiliki oleh seorang pemimpin. Menurut Goleman (dalam desmita, 2015), kecerdasan emosional merujuk kepada kemampuan mengenali perasaan diri sendiri dan perasaan orang lain, kemampuan memotivasi diri sendiri dan kemampuan mengelola emosi dengan baik pada diri sendiri dan dalam hubungannya dengan orang lain.
Goleman (dalam desmita, 2015) mengklasifikasikan kecerdasan emosional atas lima komponen penting yaitu, mengenali emosi, mengelola emosi, memotivasi diri sendiri, mengenali emosi orang lain dan membina hubungan.
Mengenali emosi merupakan kesadaran diri, mengatahui apa yang dirasakan seseorang pada suatu saat dan menggunakannya untuk memandu pengambilan keputusan. Kesadaran diri membantu mengelola diri sendiri, hubungan antara personal serta menyadari emosi dan pikiran sendiri. Mengelola emosi, mampu menguasai, mengelola dan mengarahkan emosinya dengan baik.
Motivasi diri, menggunakan hasrat yang paling dalam untuk menggerakkan dan menuntun manusian menuju sasaran, membantu mengambil inisiatif dan bertindak secara efektif serta bertahan menghadapi kegagalan dan frustasi.
Mengenali emosi orang lain , mampu merasakan apa yang dirasakan oleh orang lain, mampu memakai perspektif mereka, menimbulkan hubungan saling percaya dan menyelaraskan diri dengan orang banyak dan masyarakat.
Membina hubungan, mampu mengendalikan dan menangani emosi dengan baik ketika berhubungan dengan orang lain, cermat membaca strategi dan jaringan social, berinteraksi dengan lancer, memahami dan bertindak bijaksana dalam hubungan antar manusia.
Kelima komponen kecerdasan emosinal yang dikemukakan Goleman sangat dibutuhkan oleh manusia dalam rangka mencapai kesuksesan. Apabila kecerdasan emosi tersebut dimiliki oleh seorang  pemimpin atau calon pemimpin maka  perubahan dengan tujuan  menuju arah yang lebih baik dapat dicapai.

DAFTAR PUSTAKA
Desmita (2015). Psikologi perkembangan. Bandung: Remaja Rosda Karya.
Munandar, A.S.(2014). Psikologi industry dan organisasi. Jakarta: UI Press

Tidak ada komentar:

Posting Komentar