Jumat, 06 Januari 2017

Psi Manajemen / Teori Kepuasan Kerja




KEPUASAN KERJA


Setiap individu akan memiliki tingkat kepuasan kerja yang berbeda-beda sesuai  dengan sistem nilai-nilai yang berlaku pada dirinya. Hal ini disebabkan karena adanya perbedaan cara pandang dari setiap individu. Kepuasan kerja merupakan keadaan emosional yang menyenangkan dengan mana karyawan memandang pekerjaan mereka. Semakin banyak aspek-aspek dalam pekerjaan yang sesuai dengan keinginan individu tersebut maka semakin tinggi tingkat kepuasan yang dirasakannya ( Handoko, dalam Widodo 2010).

1.      Definisi
  Howel dan Dipdoye (dalam Munandar 2014) kepuasan kerja sebagai hasil keseluruhan dari derajat suka atau tidak sukanya tenaga kerja terhadap berbagai aspek dalam pekerjaannya. Sedangkan Luthan (1995) mendefinisikan kepuasan kerja adalah ungkapan kepuasan karyawan tentang bagaimana pekerjaaan mereka dapat memberikan manfaat bagi organisasi. Munandar (2014) mendefinisikan  kepuasan kerja  merupakan hasil dari tenaga kerja yang berkaitan dengan motivasi kerja..
Dari beberapa definisi diatas dapat disimpulkan bahwa kepuasan kerja adalah ungkapan kepuasan karyawan yang didapat dari hasil keseluruhan dari derajat suka atau tidak sukanya karyawan  terhadap berbagai aspek dalam pekerjaannya yang berkaitan dengan motivasi kerja dan bagaimana pekerjaan tersebut dapat memberikan manfaat.

2.      Teori- Teori Kepuasan Kerja
 Menurut Munandar (2014) , pendekatan yang digunakan untuk menjelaskan teori kepuasan kerja ada tiga macam, yaitu sebagai berikut:
a.      Teori Pertentangan (Disperancy Theory).
Teori pertentangan dari Locke meyatakan bahwa kepuasan atau ketidak puasan terhadap beberapa aspek dari pekerjaan mencerminkan penimbangan dua nilai yaitu:

1)      Pertentangan yang dipersepsikan antara apa yang diinginkan individu dengan apa yang diterima. Individu akan merasa puas atau tidak puas merupakan sesuatu yang pribadi, tergantung bagaimana ia mempersepsikan adanya kesesuaian atau pertentangan antara keinginan dan hasil keluarannya.
Contoh :
Seorang marketing perusahaan otomotif mempunyai target individu pada kwartal pertama tahun 2016 ia harus bisa menjual 10 unit sepeda motor dan 5 unit mobil. Pada akhir bualan April ternyata hasil penjualan yang dicapai adalah 5 unit sepeda motor dan 8 unit mobil, karyawan tersebut merasa tidak puas dengan prestasi kerja yang dicapai, hal ini disebabkan target yang diinginkan tidak tercapai.

2)      Pentingnya apa yang diinginkan oleh individu. Kepuasan kerja secara keseluruhan bagi individu adalah jumlah kepuasan kerja dari setiap aspek dikalikan dengan derajat pentingnya aspek pekerjaan bagi individu.
Contoh :
Anita sorang desainer sepatu dia merasa puas bila hasil rancangannya unik, terbatas dan  material yang digunakan nyaman dan dapat tahan lama sehingga ia tidak pernah memproduksi hasil rancangaan secara masal karena Anita merasa puas bila produknya terbatas tapi keunikan dan kwalitasnya tetap terjaga.

b.      Model dari Kepuasan Bidang/ Bagian (Facet Satisfaction)
Menurut model Lawler individu akan puas dengan bidang tertentu dari pekerjaan mereka,  jika jumlah dari bidang  mereka  persepsikan harus mereka terima untuk melaksanakan suatu  kerja sama dengan jumlah mereka persepsikan dari yang secara aktual mereka terima.yang dipersepsikan orang dari apa yang  secara aktual
Menurut Lawler, jumlah dari bidang yang dipersepsikan orang sebagai sesuai tergantung dari bagaimana orang mempersepsikan masukan pekerjaan, ciri-ciri pekerjaannya dan bagaimana mereka mempersepsikan masukan dan keluaran dari orang lain yang dijadikan pembanding bagi mereka. Jumlah dari bidang yang dipersepsikan orang dari apa yang secara aktual mereka terima tergantung dari hasil keluaran yang secara actual mereka terima dan hasil keluaran yang dipersepsikan dari orang dengan siapa mereka bandingkan.
Untuk meningkatkan tingkat kepuasan kerja, Lawler memberikan nilai bobot kepada setiap bidang sesuai dengan nilai-nilai pentingnya bagi individu, kemudian mengkombinasikan semua skor kepuasan bidang yang berbobot ke dalam satu skor total.
Contoh:
Farah seorang karyawan yang bekerja di bidang IT merasa tidak puas dengan gaji yang dia terima selama ini. Menurut Farah gajinya yang dia terima  lebih kecil dibandingkan dengan rekannya Sita  seorang karyawan IT  yang bekerja di tim yang sama dengannya meskipun selama ini dia selalu berdisiplin terhadap waktu dan peraturan kerja  serta semua tugas diselesaikan dengan baik dengan hasil yang memuaskan. Beban kerja serta prestasi kerja Sita lebih sedikit dibandingkan dirinya. Sita lebih banyak bolos dan selalu pulang lebih cepat dari waktu yang telah ditetapkan  sehingga banyak tugasnya yang tidak selesai.

c.       Teori Proses Bertentangan (Opponen Process Theory).
Teori proses bertentangn dari Landy menekankan bahwa orang ingin mempertahankan suatu keseimbangan emosional (emotional equilibrium). Teori ini mengasumsikan bahwa kondisi emosional yang ekstrim tidak akan memberikan kemaslahatan. Kepuasan atau ketidakpuasan kerja berhubungan dengan emosi sehingga memacu mekanisme fisiologika dalam sistem saraf pusat saraf yang membuat aktif emosi yang bertentangan.
Teori ini menyatakan bahwa individu jika memperoleh ganjaran pada pada pekerjaan, mereka merasa senang sekaligus ada rasa tidak senang. Setelah beberapa saat, rasa senang menurun sehingga orang merasa agak sedih sebelum kembali normal. Teori ini berasumsi bahwa kepuasan kerja bervariasi secara mendasar dari waktu ke waktu sehingga pengukuran kepuasan kerja perlu dilakukan secara periodic dengan interval waktu yang sesuai.

Contoh :

      Harsa karyawan restoran siap saji, pada bulan ini dia terpilih sebagai karyawan yang berprestasi terbaik dan namaya di pajang di dinding restoran. Harsa tidak menanggapi hal itu dengan gembira secara berlebihan, pada awalnya dia merasa senang dengan kabar gembira tersebut, tetapi prestasinya itu tidak membuat dia terlena. Dia berpikir bahwa pada bulan yang akan datang dia harus mampu mempertahankan prestasinya dan bekarja lebih keras,  bahkan kalau perlu ditingkatkan.



DAFTAR PUSTAKA
Munandar, Ashari Sunyoto.(2014). Psikologi industri dan Organisasi. Jakarta: Universitas Indonesia
Handoko, T,Hani.(2012). Manajemen. Yogyakarta: BPFE

           

Tidak ada komentar:

Posting Komentar