Selasa, 31 Mei 2016

REBT, BEHAVIORAL, TERAPI KELOMPOK



TERAPI KOGNITIF


Terapi kognitif adalah terapi yang paling menonjol diantara para psikolog klinis dewasa ini. Terapi kognitif menyeimbangkan antara beberapa opsi psikoterapi lain. Terapi kognitif cenderung singkat, terstruktur dan tertarget dan fokus pada proses-prose mntal yang penting.
Tokoh terpenting dari gerakan terapi kognitif adalah Aaron Beck dan Albert Ellis. Kedua tokoh itu tumbuh karena kecewa dengan metode psikoanalisis. Mereka mencari pendekatanterapi yang baru yang mengangani gejala-gejala klien secara lebih langsung, fokus pada masa kini dan memunculkan hasil-hasil positif secara lebih efisien.
Terapi kognitif sebagai sebuah revisi dari terapi perilaku di dalam konteks meningkatnya ketidakpuasan dengan terapi psikodinamik.

TUJUAN UTAMA TERAPI KOGNITIF

Secara sedarhana tujuan terapi kognitif adalah berpikir logis. Terapis kognitif pada dasarnya mengasumsikan bahwa cara kita memikirkan tentang berbagai kejadian menentukan cara kita merespon. Masalah psikologis timbul dari kognisi yang tidak logis. Kesehatan psikologis berasal dari kognisi yang logis. Artinya ketika kognisi sesuai dengan kejadiannya, kognisi itu dapat menghasilkan reaksi yang lebih sehat dan adaptif.
Peran terapis kognitif adalah untuk membenarkan pemikiran yang irasional menjadi rasional.

MEREVISI KOGNISI

Kognisi menentukan perasaan, maka merevisi kognisi menjadi tugas terpenting. Secara umum ada rangkaian tiga tahap dalam merivisi kognisi.
“ Pertama-tama kognisi yang tidak logis didentifikasi, kemudian ditantang dan akhirnya digantikan dengan kognisi yang lebih logis. (Beck,1995; A.Ellis, 2008; Leahy,2003).

Langkah pertama : identifikasi pikiran-pikiran yang tidak logis. Terapis kognitif tidak menggali hingga ke dalam psikis tetapi mereka mengakui bahwa sebagian kognisi kita adalah pikitran otomatis, artinya mereka terjadi secara instan dan tidak disengaja,. Dengan demikian, kognisi-kognisi ini dapat menjadi begitu rutin dan dapat menjadi kebiasaan sehingga nyaris tidak disadari. Salah satu tanggung jawab utama terapis kognitif khususnya di awal terap ada;ah adalah membantu klien untuk mengidentifikasikan pikiran-pikiran otomatis yang tidak logis atau tidak rasional.

Langkah kedua : menantang kognisi yang tidak logis. Pendekatan yang dilakukan ada dua yaitu: pendekatan  dengan kekuatan persuasi verbal dan pendekatan dengan mendorong klien untuk menguji keakuratan keyakinan mereka dengan melakukan perilaku-perilaku yang telah ditentukan di dunia nyata. Tujuan utama kedua pendekatan ini adalah untuk mempengaruhi klien agar meragukan kebenaran keyakinan yang tidak logis dan kemudian mencapai kesimpulan bahwa keyakinan itu seharusnya direvisi.

Langkah ketiga  ; merevisi, awalnya merevisi sulit dilakukan oleh klien , karena mungkin saja terasa asing, karena terapis meminta klien untuk berpikir dengan cara yang berlawanan dengan cara berpikir mereka selama bertahun-tahun, ( Roth, Eng & Heimberg, 2002).

Terapi kognitif memimpin dalam upaya awal untuk merevisi pikiran klien. Akan tetapi tujuan akhirnya adalah agar klien mampu merevisi pikiran-pikirannya sendiri tanpa masukan dari terapis.

MENGAJAR SEBAGAI SEBUAH ALAT TERAPI
Terapi kognitif secara eksplisit memasukkan edukasi klien tentang pendekatan kognitif kedalam tugas mereka. Terapis kognitif seringkali berperan sebagai guru bagi klien. Diamping itu mereka melatih klien untuk mengenali pikiran-pikiran tidak logis, melekatkan label pada pikiran-pikiran tersebut, dan melacaknya di dalam format tertulis tertentu. Terapis kognitif bercita-cita agar klien akhirnya mampu menggunakan pelajaran yang mereka petik untuk mengajari dirinya sendiri, dan bukan tergantung pada pangajar (Beck, 1995;Olatunji & Feldman, 2008).

PEKERJAAN RUMAH

Persamaan lain antara terapis kognitif dan pengajar adalah pemberian pekerjaan rumah. (Beck, 1995;Kuehiwein, 1993; Olatunji & Feldman, 2008;Robinson, 2008). Terapis kognitif sangat percaya bahwa banyak pekarjaaan terapi dilakukan diantara sesi-sesi. Waktu diantara sesi-sesi terapi digunakan untuk mengeksplorasi dan menginformasi pelajaran yang telah dipelajari selama pertemuan-pertemuan itu.
Pekerjaan rumahnya tertulis: klien diminta untuk mencatat berbaga peristiwa, kognisi, perasaan dan usaha untuk merevisi kognisi untuk mengubah perasaan yang mereka alami.
Pekerjaan rumah bersifat perilaku:  klien diminta untuk melakukan perilaku tertentu sebelum pertemuan berikutnya, biasanya dengan maksud memeriksa validitas sebuah pikiran yang tidak logis.



PENDEKATAN YANG SINGKAT, TERSTRUKTUR DAN TERFOKUS

Terapis kognitif berusaha mencapai hasil positif dengan cukup cepat. Beberapa faktor berkonstibusi pada efisien terapi kognitif adalah fokusnya pada masalah klien pada saat ini; sebuah fokus berorientasi –tujuan yang sengaja ditetapkan pada gejala-gejala yang teridentifikasi dengan jelas; dan sesi-sesi terapi terstruktur (Olatunji & Feldman, 2008).


RATIONAL EMOTIVE BEHAVIOR THERAPHY


Rational Emotive Behavior Theraphy dikembangkan sekitar tahun 1950-an oleh seorang psikologi klinis yaitu Albert Ellis. Pendekatan terapi Ellis menekankan hubungan antara rasionalitas dan emosi. Ellis (1962) berpendapat bahwa jika kita dapat membuat keyakinan kita kurang begitu irasional, kita dapat menjalani kehidupan yang lebh bahagia.

“Tema utama dari REBT adalah manusia secara unik bersifat rasional, dan sekaligus binatang yang secara unik bersifat tidak rasional. Gangguan emosional dan psikologisnya banyak dihasilkan oleh pikirannya yang tidak bersifat logis dan tidak rasional. Bahwa ia dapat membebaskan dirinya dari sebagian besar ketidakbahagiaan emosional ayau mental, ketidakefektifan dan gangguannya jika ia belajar memaksimalkan pikiran rasionalnya dan meminimalkan pikiran irasionalnya”.

KONSEP UTAMA 

REBT dibangun berdasarkan filosofi bahwa “ apa yang mengganggu jiwa manusia bukanlah peristiwa-peristiwa, tetapi bagaimana manusia itu bereaksi atau berprasangka terhadap peristiwa-peristiwa tersebut.

REBT tidak memusatkan perhatian kepada peristiwa  masa lalu tetapi lebih berfokus pada peristiwa yang terjadi saat ini dan bagaimana reaksi terhadap peristiwa tersebut.

REBT percaya, manusia mempunyai pilihan, mampu mengontrol ide-idenya, sikap, perasaan dan tindakannya serta mampu menyususn kehidupannya menurut pilihannya sendiri

REBT didasari asumsi bahwa manusia itu dilahirkan dengan potensi rasional dan irasional. Manusia berperilaku tertentu karena ia percaya harus bertindak dengan cara itu,. Gangguan irasional terletak pada keyakinan irasional. Berpikir dan emosi adalah dua proses yang saling terikat. Kecemasan bukanlah irasional tetapi sebagai ketidaktepatan perasaan yang dibangun secara luas dari ide-ide rasional.

Albert Ellis menyatakan bahwa secara alamiah setiap manusia adalah irasional, mengalahkan dirinya sendiri, sehingga perlu pemikiran lain dengan cara-cara lain. Menurut Ellis ada siklus terentu dalam berpikir irasional, dimana ketika seseorang dikuasai perasaan irasional, maka pemikiran tersebut akan mengarahkan kepada kebencian diri. Kebencian diri akan mengarahkan pada perilaku destructive, dan kemudian secepatnya akan menumbuhkan kebencian pada oranglain dan pada akhirnya menyebabkan orang lain mereaksi secara irasional.

MODEL ABCDE


Salah satu konstribusi Ellis yang paling abadi dan sangat berguna secara klinis adalah Model ABCDE. Model ini untuk memahami dan mencatat dampak kognisi pada emosi. Dengan menciptakan model ini, Ellis membingkai aspek-aspek esensial terapi kognitif ke dalam sebuah akronim yang mudah diakses, yang memungkinkan penggunaannya oleh ribuan terapis dan klien.

Model ABCDE: A (Activing Event) peristiwa pengaktif. B (Belief) keyakinan, C (emotional consequence). D (dispute) perdebatan. E (effective new belief)
Menurut Ellis keyakinan irasional “ beracun” karena berfungsi sebagai tuntutan dogmatic yang kaku yang kita terapkan pada diri sendiri. Disamping itu kita cenderung menyertai tuntutan ini dengan estimasi yang terlalu tinggi tentang konsekuensi kegagalan. Secara spesifik keyakinan irasional (B) adalah target perdebatan. Model Ellis bukan hanya membantu klien mengidentifikasi keyakinan-keyakinan irasional (B) yang mungkin memperantarai antara kejadian dalam hidupnya (A) dan perasaan yang kemudian dirasakannya (C), tetapi juga mendesak klien untuk menentang keyakinan  yang menyebabkan C dan menggantinya dengan sesuatu yang lebih rasional.
Di dalam model Ellis , perdebatan (D) sering berbentuk pertanyaan atau pertanyaan tajam yang menyerang sifat irasional keyakinan atau label yang dapat dilekatkan pada keyakinan irasional intuk mendeskreditkannya. Jika efektif ia akan member kesempatan kepada klien untuk menggantikan keyakinan awalnya yang tidak rasional dengan sebuah keyakinan yang efektif (E), yang lebih rasional dan menghasilkan perasaan yang tidak terlalu meresahkan.

Contoh: Anita seorang atlet renang, minggu depan dia akan ikut pertandingan dan harus berlatih dengan tekun. Ia didera kecemasan berlebihan dan akibatnya ia tidak bisa berlatih dengan tekun dan serius. Hanya memikirkan pertandingan saja membuat dia cemas. Maka Anita diajari  Model ABCDE

“ Saya harus menang dalam pertandingan renang”. “Kalau tidak menang maka itu adalah kegagalan seumur hidup dan kehancuran karir saya selama-lamanya”.
A ( kejadian pengaktifnya) : Berlatih
C ( Konsekuensi emosional) : Kecemasan
B (keyakinan); Saya harus menang dalam pertandingan kalu tidak itu adalah kegagalan dan kehancuran dalam karir saya.
Di dalam langkah berikutnya yaitu perdebatan (D) dicoba dipertanyakan keyakinan-keyakinan tersebut.
Siapa yang mengatakan kalau kemenangan dalam pertandingan adalah mutlak dan itu menyangkut hidup dan mati? Banyak atlet yang gagal pada pertandingan pertama  tapi kemudian mereka tetap berjuang lagi dan akhirnya mereka sukses? Dan apakah kalau gagal dalam pertandingan ini berarti tidak ada kesempatan berikutnya? Apakah kalau anda gagal maka hidup anda hancur? Bukankah masih ada banyak cara untuk memiliki karir dan kehidupan yang menyenangkan selain berenang?”

Anita dengan perdebatan itu menemukan dirinya diyakinan oleh kekuatan argument-argumen tersebut dan mulai tidak mempercayai pikiran-pikiran irasionalnya sendiri. Akhurnya ia mampu mennganti keyakinan awalnya yang tidak irasional dengan keyakinan baru yang efektif:

Saya ingin menang dalam pertandingan renang, tetapi itu bukan keharusan mutlak. Jika saya kalah itu tidak apa-apa, saya masih bisa berjuang di kali lain, dan kebahagian hidup saya tidak sepenuhnya bergantung pada pertandingan renang.”

Model ABCDE sangat cocok dengan format tertulis. Biasanya klien mengisi formulir yang diatur dalam bentuk kolom A,B,C,D,E. Selama sesi-sesi secara retrosfektif klien dapat menyortir pengalama-pengalaman mereka ke dalam organisasional lima-kolom yang telah disediakan oleh formulir catatan harian tersebut. Dengan melakukannya klien melatih dirinya untuk mengalami kehidupan dalam urutan-urutan. Secara khusus, mereka menjadi mahir dalam mengidentifikasikan sebuah keyakinan irasional (B), menyusun perdebatan (D) dalam merespon keyakinan tersebut, dan menghasilkan sebuah keyakinan baru yang efektif. 






TERAPI BEHAVIORAL


Psikoterapi behavioral adalah aplikasi klinis prisnsip-prinsip perilaku, yang memiliki akar teoritis dan eksperimental yang telah berusia ratusan tahun. Ivan Palvlov salah satu tokoh fisiologi yang berkonstribusi dengan classical conditioningnya. Konstibusi Ivan Palvov membuka jalan ke Amerika Serikat melalui John Watson. Watson berpendapat bahwa psikologi seharusnya hanya mempelajari respon-respon yang dapat dilihat dan dapat diobservasi serta stimulus yang dapat dilihat dan diobservasi, bukan kerja  batin pikiran yang mungkin terjadi diantaranya. Perasaan, pikiran, kesadaran dan proses-proses mental internal lain tidak cocok untuk kajian ilmiah, dan mereka juga tidak sekuat pengkondisian dalam menentukan perilaku ( Huntz, 1993; Kazdin;, 1978; Watson,1924).
Tokoh lain yang berkonstibusi adalah Edward Lee Thorndike dan B.F Skinner, melalui pengondisian instrumental. Konstibusi utama Thorndike adalah sebuah teori yang disebut hukum efek. Hukum efek Thorndike mengatakan bahwa semua organisme memperhatikan konsekuensi (efek) dari tindakannya. Tindakan yang diikuti oleh konsekuensi yang menyenangkan lebih kemungkinan untuk terjadi lagi, sementara tindakan yang diikuti oleh konsekuensi tidak menyenangkan kurang kemungkinan untuk terjadi lagi. Skinner memberikan alasan yang kuat bahwa pengkondisian instrumental, mekanisme bagaimana hukum efek mempengaruhi perilaku, nemiliki pengaruh sebesar pengkondisian klasik pada peneliti manusia. Penelitian Skinner sangat berpengaruh pada persfektif perilaku tentang awal mula berbagai masalah dan teknik –teknik yang dapat digunakan untuk menangani masalah-masalah tersebut.
Melalui Pavlov, Watson, Skinner dan Thorndike, behaviorisme berkembang dari penelitian dasar perilaku manusia menjadi sebuah bentuk psikoterapi terapan.

TUJUAN PSIKOTERAPI BEHAVIORAL
Tujuan utama psikoterapi behavioral adalah perubahan perilaku yang dapat diobservasi. Tujuan ini berlawanan dengan tujuan psikodinamik dan humanistic yang menekankan pada proses-proses mental internal.

Penekanan pada Empirisme
Terapis behavioral berpendapat bahwa kajian tentang perilaku manusia normal atau abnormal, seharusnya bersifat ilmiah.
Teori-teori tentang penanganan masalah perilaku seharusnya dinyatakan sebagai hipotesis yang dapat diuji, dengan cara ini teori dapat didukung, dibantah, dimodifikasi dan diuji-ulang.
Terapi behavioral melibatkan pengumpulan data, terapis behavioral secara regular mengumpulkan data empiris tentang klien mereka, sebagai ukuran dasar awal terapi, diberbagai titik selama terapi untuk melakukan evaluasi  perubahan-perubahan dari sesi ke sesi, dan diakhir terapi sebagai penilaian final terhadap perubahan.

Mendefinisikan Masalah Secara Behavioral
Menurut terapis behavioral, perilaku klien bukan gejala masalahyang mendasarinya tetapi perilaku itulah masalahnya.
Manfaat dari mendefinisikan masalah akan mempermudah dalam mengidentifikasikan perilaku target dan mengukur perubahan-perubahan di dalam terapi.

Mengukur Perubahan yang Dapat Diamati
Bagi terapis behavioral, mengukur hasil terapi melalui perubahan yang dapat diamati akan sejalan dengan mendefinisikan masalah klien secara perilaku sejak dari awal. Artinya, sementara jenis-jenis terapis lain mungkin  mengukur  perubahan-perubahan di dalam diri klien secara inferensial, terapis behavioral menggunakan indikasi-indikasi kemajuan yang tidak ambigu.

DUA PENGONDISIAN
Terapis Behavioral membedakan pengondisian menjadi dua jenis utama: klasik dan instrumental.

Pengondisian Klasik
Pengkondisian klasik adalah tipe yang dicontohkan  oleh studi terhadap anjing oleh Ivan Palvov
Eksperiment klasik ( abad 19 )

UCS                             UCR
( makanan )                 ( air liur )
CS (Bel) + Makanan         UCR                             
Air liur       
                                      
CS    (Bel)                       CR
Air liur → akan muncul krn adanya proses belajar


Pengkondisian klasik adalah tipe belajar yang agak pasif. Sejumlah variabel yang dapat mempengaruhi perilaku ada di seputar proses pengondisisn klasik. Sejauh mana seseorang memperlihatkan perilaku yang telah dikondisikan secara klasik akan bergantung pada sejauh mana terjadinya generalisasi dan diskriminasi. Generalisasi terjadi jika respon terkondisikan diakibatkan oleh stimulus yang serupa, tetapi tidak benar-benar sama, dengan stimulus terkondisikan. Diskriminasi terjadi jika respon terkondisikan tidak dibangkitkan oleh stimulus semacam itu.

Pengkondisian Instrumental
Pengkondisian instrumental (operant conditioning) terjadi jika organisme “beroperasi” di lingkungan, melihat akibat dari suatu perilaku, dan memasukkan konsekuensi-konsekuensi tersebut ke dalam keputusan tentang perilaku yang akan datang. Secara sederhana, prinsip dasar pendekatan operant adalah bahwa perilaku adalah fungsi dari konsekuensi-konsekuensinya
Pengkondisian instrumental adalah gaya belajar yang lebih aktif dibandingkan pengkondisian klasik. Agar pengondisisn instrumental terjadi, organisme harus mengambil tindakan tertentu.

TEKNIK-TEKNIK TERAPI YANG BERDASARKAN PENGKONDISIAN KLASIK

Terapi Paparan
Secara sedarhana, terapi paparan adalah versi “ hadapi ketakutanmu”. Fobia menurut terapis behavioral sebaiknya dipahami sebagai hasil pengkondisisn klasik: sebuah stimulus tertentu (laba-laba, ketinggian, gelap dan lain-lain) dipasangkan dengan sebuah hasil aversif (kecemasan, kesakitan). Pemasangan ini bisa memperlemah dan akhirnya ditiadakan jika klien mengalami salah satunya tanpa mengalami yang lainnya. Artinya, jika klien berulang kali “dipaparkan” pada objek yang ditakuti dan hasil aversif yang diprakirakannya tidak terjadi, maka klien tidak lagi mengalami proses ketakutannya, yang merupakan cara yang lebih tepat dan rasional untuk bereaksi terhadap stimulus yang sebenarnya tidak membahayakan tersebut ( Hazlett=Steven&Craske, 2008).
Terapi paparan paling lazim digunakan pada klien-klien yang mengalami fobia dan gangguan kecemasan lainnya.

Disensitisasi Sistematis
Disensitisasi sistematis, sebuah penanganan yang digunakan terutama untuk fobia dan gangguan kecemasan lainnya. Disensitisasi sistematis melibatkan pemasangan-ulang (pengondisian balik) objek yang ditakuti dengan sebuah respon baru yang tidak sesuai dengan kecemasannya. Jika disessitisasi sistematis berhasil, objek yang ditakuti dipasangkan dengan respon baru yang menggantikan dan memblokir respon yang ditakuti. Yang paling sering, respon baru yang menggantikan dan memblokir respon takut adalah relaksasi.

Latihan Ketegasan
Latihan ketegasan adalah aplikasi spesifik pengondisian klasik yang menargetkan kecemasan sosial klien. Latihan ini paling cocok bagi orang-orang yang perilaku sosialnya pemalu, aprehensif atau tidak efektif memiliki dampak negative pada hidupnya.
Latihan ketegasan sudah pasti memasukkan elemen terapi paparan dan desentisasi sistematis. Paparannya dalam bentuk menghadapi ketakutan interpersonal. Artinya , orang yang memiliki masalah dengan ketegasan biasanya menghindari situasi yang membutuhkan ketegasan, sehingga dengan sekedar memapari dirinya sendiri pada situasi semacam itu dan menghasilkan jenis respon ketegasan, berarti mereka telah mengambil langkah maju yang signifikan. Komponen pengondisian-balik disentasi sistematis    ikut berperan yaitu ketegasan menggantikan relaksasi sebagai respon baru yang menggantikan dan menghambat kecemasan.

TEKNIK-TEKNIK TERAPI YANG BERDASARKAN PENGKONDISIAN INSTRUMENTAL.

Manajemen Kontingensi
Kontingensi adalah pernyataan “jika…maka…” yang menurut terapis behavioral, mengatur perilaku kita. Jadi, jika tujuannya untuk mengubah perilaku, salah satu cara kuat untuk melakukannya adalah dengan menubah kontingensi yang mengontrolnya. Psikoterapis behavioral menyebut proses ini sebagai manajemen kontingensi.
Penguatan dan Hukuman
Konsekuensi sebuah perilaku…maka” dapat dikategorikan sebagai penguatan atau hukuman.
Penguatan didefinisikan sebagai konsekuensi tertentu yang membuat sebuah perilaku lebih berkemungkinan untuk terjadi lagi di masa yang akan mendatang. Sebaliknya, hukuman didefinisikan sebagai konsekuensi terentu yang membuat sebuah perilaku kurang berkemungkinan untuk terjadi lagi di masa yang akan datang.
Penguatan dan hukuman masing-masing dibagi lebih lanjut menjadi positif dan negative. Penguatan positif berarti “ mendapatkan sesuatu yang baik” (misalnya makanan), sementara penguatan negative berarti “kehilangan sesuatu yang buruk” (misalnya rasa sakit). Hukuman positif berarti “ mendapatkan sesuatu yang buruk” sementara hukuman negative berarti “kehilangan sesuatu yang baik”
Terapi Aversif merepresentasikan sebuah contoh penggunaan klinis hukuman, misalnya sebuah perilaku yang tidak diinginkan (misalnya minum alcohol) menghasilkan sebuah stimulus aversif (mual)

Ektingensi
Ektingensi mengacu pada penghilangan sebuah penguatan yang diharapkan, yang menghasilkan penurunan frekuensi sebuah perilaku.

Ekonomi Token
Ekonomi token adalah sebuah pengaturan ketika klien mengumpulkan token untuk berpartisipasi di dalam perilaku-perilaku target yang telah ditentukansebelumnya. Token ini dapat ditukarkan untuk sejumlah penguatan misalnya makanan, permainan, hak istimewa. Di dalam beberapa ekonomi token, klien juga bisa kehilangan token jika terlibat perilaku yang tidak diinginkan. Ekonomi token paling sering digunakan di lingkungan unit rawat inap, LP dan tempat-tempat lain yang terus menerus mengawasi perilaku klien. Salah satu kekuatan ekonomi token adalah fleksibilitasnya untuk berbagai klien.






TERAPI KELOMPOK


PENEKANAN INTERPERSONAL
Terapi kelompok ini sangat menekankan interaksi interpersonal. Intervensi terapis kelompok sering menyoroti bagaimana para anggota kelompok saling merasakan, berkomunikasi dan membentuk hubungan satu sama lain. Melebihi komponen lain, penekanan pada interaksi interpersonal inilah yang membedakan terapi kelompok dengan terapi individual (Burlingame & Baldwin, 2011). Terapi kelompok memungkinkan jaringan hubungan yang jauh lebih kompleks untuk berkembang. Didalam terapi kelompok, seorang klien membentuk hubungan bukan hanya dengan seorang terapis, tetapi melibatkan juga orang-orang yang ada di ruang terapi. Terapi kelompok melibatkan respons interpersonal yang lebih besar.

Irvin Yalom tokoh yang terkemuka dalam pendekatan interpersonal terapi kelompok.. Yalom (2005) melihat kecenderungan problem interpersonal ini sebagai hal  yang sentral bagi masalah yang dialami klien, terlepas dari apakah klien mengakuinya atau tidak. Faktanya, ia berpendapat bahwa semua masalah psikologi timbul dari hubungan interpersonal yang keliru.
Menurut Yalom gangguan seorang individu adalah produk sampingan dari cara berhubungan dengan orang lain yang terganggu. Jika masalah hubungan interpersonal adalah inti semua masalah psikopatologi, maka fokus utama terapi kelompok adalah memperkuat keterampilan hubungan interpersonal.

PROSES TERAPI KELOMPOK

          Jumlah 5 atau 6-10 orang
          Waktu (min 1 atau 2x seminggu, 90-120 menit)
          Format : duduk melingkar/ mengeli2ngi meja, anggota bisa berhadapan saling melihat
          Komposisi partisipan : homongen atau heterogen – sex, usia, personality, background, problem (utk masalah tertentu sulit dilakukan terapi kelompok)
          Terapis : sendiri atau dengan ko-terapis, pria atau wanita (terutama untuk familiy terapi/marital terapi)
          Bentuk kelompok : open/close
          Aturan : kerahasiaan

FAKTOR-FAKTOR TERAPEUTIK DALAM TERAPI KELOMPOK

Yalom (2015) mendeskripsikan 11 faktor terapeutik spesifik yang bermanfaat bagi klien

  • Pembangkitan Harapan
  • Universalitas

  • Memberikan Informasi
  • Altruisme
  • Rekapitulasi  kolektif kelompok keluarga primer
  • Pengembangan teknik-teknik bersosialisasi
  •  Perilaku Imitatif
  • Pembelajaran interpersonal
  • Kohesivitas kelompok
  • Katarsis 
  • . Faktor-faktor esensial


Pembangkitkan harapan

Membangkitkan & memelihara harapan akan mendorong klien utk tetap bertahan & mau berusaha dalam mengikuti proses terapi

Bertemu dg anggota lain yg telah mengalami peningkatan/mampu mengatasi masalah dg efektif akan membangkitkan harapan.Terapis harus selalu menginformasikan peningkatan yg telah dicapai ( individu & kelompoknya) & harus yakin/optimis terhadap anggota/kelompoknya

Universalitas

 Yalom mendeskripsikan masalah fenomene universalitas. Klien dengan masalah psikologi seringkali percaya bahwa tidak ada seorangpun yang berkutat dengan masalah yang sama dengan dirinya. Mereka mungkin tidak menyadari persamaan masalah, gejala atau diagnosis mereka. Menemukan dirinya di sebuah ruangan penuh orang-orang lain yang memiliki masalah serupa itu saja dapat menggembirakan.
Universalitas dibangun menjadi kelompok homogen. Di dalam kelompok heterogen, universalitas mungkin tidak tampak jelas pada awalnya, tetapi seiring waktu klien-klien di dalam kelompok heterogen sering menyadari bahwa meskipun di permukaan gejala-gejala mereka berbeda, pada kenyataannya isu fundamental yang mendasarinya cukup mirip

Kohesivitas Kelompok

Mengacu pada perasaan saling terhubung diantara para anggota kelompok. Perasaan saling terhubung satu sama lain ditandai dengan perasaan kehangatan, kepercayaan, penerimaan, rasa memiliki dan nilai diantara kelompok. Berpartisipasi di sebuah kelompok berkelanjutan semacam ini akan menungkatkan maslah psikologis.
Yalom (2005) mengatakan bahwa kohesivitas kelompok tidak harus berarti bahwa setiap interaksi kelompok harus sopan dan santun. Faktanya sebuah interaksi kelompok berkelanjutan yang tidak ditandai dengan emosi negative mungkin sebenarnya justru mengindikasikan bahwa kelompok itu tikurang memiliki kohesivitas
Kelompok terapi yang benar-benar kohesif seperti keluarga, kelompok kerja atau tim yang kohesif cukup kuat untuk menolerir kemarahan, kesedihan, kecemburuan, kekecewaan dan semacamnya. Mereka paham bahwa ketika orang-orang menjadi bermakna bagi satu sama lain, mereka membangkitkan perasan-perasan kuat, dan mereka mendorong diskusi tentang perasaan-perasaan tersebut.
Kohesivitas memainkan peran yang sama dalam terapi kelompok seperti peran yang dimainkan hubungan / aliansi terapeutik di dalam terapi individu. Bagi teapis kelompok, sangat penting untuk tidak hanya memelihara hubungan kolaboratif yang saling mempercayai secara langsung dengan klien, tetapi juga mendukung pengembangan sebuah kelompok tempat paraklien juga mengembangkan hubungan kolaboratif yang saling mempercayai satu sama lain

.

Pembelajaran Interpersonal

Pembelajaran interpersonal adalah jantung dari terapi kelompok. Terapis kelompok mengaumsikan bahwa masalah interpersonal yang pertama-tama memberikan konstibusi pada masalah klien, kecenderungan interpersonal  yang sama akan tampak dalam kelompok dan pelajaran-pelajaran yang dipetik melaui interaksi dengan sesame kelompok akan digeneralisasikan ke kehidupan klien di luar kelompok.

Imparting information (memberi informasi)

Saat terapis memberikan informasi, saat terapis & anggota mendiskusikan pengalaman mereka, adanya nasehat, saran & bimbingan dari terpis maupun anggota lainnya
Tiap klien belajar/memperoleh informasi tentang permasalahannya, fungsi psikis, gambaran simptom, dinamika kelompok dan interpersonal proses psikoterapi.

Altruisme

Adanya proses belajar untuk saling menerima & terutama saling memberi membantu dan saling memberikan dukungan, meyakinkan, memberi saran, sharing tentang masalah yg sama / memberikan umpan balik Hal ini sangat membantu karena setiap orang sebenarnya butuh untuk merasa dibutuhkan

Rekapitulasi  kolektif kelompok keluarga primer

Kelompok secara umum mirip keluarga dalam banyak aspek -> banyak di pimpin tim terdiri dari 2 terapis (laki-laki & perempuan).Dalam kelompok sangat mungkin bagi setiap anggota utk melalukan pengulangan perilaku Diketahui konflik2 keluarga yg diulang, anggota juga diberikan koreksi.

Imitative Behavior (perilaku meniru)

Klien selama terapi berlangsunng mungkin akan meniru sikap, perilaku terapi & anggota lain atau bahkan cara berpikir terapis.

Catharsis

Dalam kelompok, pasien belajar mengekspresikan perasaannya, atau perasaan mengenai/terhadap orang lain, secara jujur dan terbuka sehingga memunculkan kondisi untuk saling mempercayai & saling pengertian



Isu-Isu Praktis dalam Terapi Kelompok

Keanggotaan kelompok
Kelompok bisa bersifat terbuka atau tertutup.
Kelompok anggota terbuka memungkinkan para anggotanya untuk masuk atau keluar dari kelompok kapan pun. Anggota kelompok baru memiliki model-model  pengalaman untuk diikuti.
Kelompok anggota tertutup, seluruh anggota memulai dan mengakhiri terapi bersama-sama tanpa penambahan anggota baru selama prosesnya. Di dalam tipe kelompok ini, kohesivitas dapat dibangun dan dipertahankan.

Mempersiapkan Klien untuk Terapi Kelompok
Sebagian klien mungkin keliru meyakini bahwa mereka akan serta merta dipaksa untuk mengungkapkan detil-detil intim pribadi mereka kepada orang asing, atau bahwa interaksi dengan orang lain dengan berbagai masalah psikologis akan memperburuk gejala mereka (Mac Kenzie 2002).
Di dalam pertemuan-pertemuan individual pra kelompok, terapis kelompok dapat meyakinkan klien bahwa gagasan-gagasan semacam itu salah dengan memberika data yang realistis, member semangat seberapa baik terapi mereka bekarja untuk para klien



Isu-Isu Etik dalam Terapi Kelompok

Kerahasiaan
Kerahasiaan adalah isu-isu etik yang secara khusus relevan dengan terapi kelompok. Fokusnya disini bukan pada terapis kelompok tetapi kemungkinan bahwa sesame anggota kelompok melanggar kerahasiaan salah satu klien (Brabender, 2002; Brabender dkk,.2004;Lasky & Riva, 2006;Shaffer & Galinsky, 1998).
Konsekuensi seorang klien yang melanggar kerahasiaan klien secar serius dapat mempengaruhi  kehidupan professional atau pribadi klien yang kerahasiannya dilanggar. Disamping itu, pelanggaran semacam ini membuat kelompok terapi tampak tidak aman dan tidak layak dipercaya, yang mengurangi pengungkapan diri oleh klien-klien lain.
Penting bagi terapis kelompok untuk berusaha maksimal untuk mencegah pelanggaran kerahasiaan semacam itu. Disamping meminta klien untuk meminta klien untuk berkomitmen pada kerahasiaan selama persiapan pra-kelompok, tindakan preventif terapis dapat termasuk mencontohkan perilaku yang tak tercela terkait kerahasiaan, sering mengingatkan tentang kerahasiaan, dan diskusi kelompok tentang setiap pelanggaran kerahasiaan yang benar-benar terjadi (Brabender dkk.,2004;Knauss & Knauss, 2012).


DAFTAR PUSTAKA
Pomerantz, A. (2014). Psikologi klinis ilmu pengetahuan, praktik dan budaya.Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Psikologi Konseling Diktat kuliah
Indrywati, R. Psikoterapi.  www.indryawati.staff.gunadarma.ac.id/  diakses 25 April 2016 pukul 21.00 WIB