TERAPI KOGNITIF
Terapi
kognitif adalah terapi yang paling menonjol diantara para psikolog klinis
dewasa ini. Terapi kognitif menyeimbangkan antara beberapa opsi psikoterapi
lain. Terapi kognitif cenderung singkat, terstruktur dan tertarget dan fokus pada
proses-prose mntal yang penting.
Tokoh
terpenting dari gerakan terapi kognitif adalah Aaron Beck dan Albert Ellis.
Kedua tokoh itu tumbuh karena kecewa dengan metode psikoanalisis. Mereka
mencari pendekatanterapi yang baru yang mengangani gejala-gejala klien secara
lebih langsung, fokus pada masa kini dan memunculkan hasil-hasil positif secara
lebih efisien.
Terapi
kognitif sebagai sebuah revisi dari terapi perilaku di dalam konteks
meningkatnya ketidakpuasan dengan terapi psikodinamik.
TUJUAN
UTAMA TERAPI KOGNITIF
Secara
sedarhana tujuan terapi kognitif adalah berpikir logis. Terapis kognitif pada
dasarnya mengasumsikan bahwa cara kita memikirkan tentang berbagai kejadian
menentukan cara kita merespon. Masalah psikologis timbul dari kognisi yang tidak
logis. Kesehatan psikologis berasal dari kognisi yang logis. Artinya ketika
kognisi sesuai dengan kejadiannya, kognisi itu dapat menghasilkan reaksi yang
lebih sehat dan adaptif.
Peran
terapis kognitif adalah untuk membenarkan pemikiran yang irasional menjadi
rasional.
MEREVISI
KOGNISI
Kognisi
menentukan perasaan, maka merevisi kognisi menjadi tugas terpenting. Secara
umum ada rangkaian tiga tahap dalam merivisi kognisi.
“
Pertama-tama kognisi yang tidak logis didentifikasi, kemudian ditantang dan
akhirnya digantikan dengan kognisi yang lebih logis. (Beck,1995; A.Ellis, 2008;
Leahy,2003).
Langkah
pertama : identifikasi pikiran-pikiran yang tidak logis. Terapis kognitif tidak
menggali hingga ke dalam psikis tetapi mereka mengakui bahwa sebagian kognisi kita
adalah pikitran otomatis, artinya mereka terjadi secara instan dan tidak
disengaja,. Dengan demikian, kognisi-kognisi ini dapat menjadi begitu rutin dan
dapat menjadi kebiasaan sehingga nyaris tidak disadari. Salah satu tanggung
jawab utama terapis kognitif khususnya di awal terap ada;ah adalah membantu
klien untuk mengidentifikasikan pikiran-pikiran otomatis yang tidak logis atau
tidak rasional.
Langkah
kedua : menantang kognisi yang tidak logis. Pendekatan yang dilakukan ada dua
yaitu: pendekatan dengan kekuatan
persuasi verbal dan pendekatan dengan mendorong klien untuk menguji keakuratan
keyakinan mereka dengan melakukan perilaku-perilaku yang telah ditentukan di
dunia nyata. Tujuan utama kedua pendekatan ini adalah untuk mempengaruhi klien
agar meragukan kebenaran keyakinan yang tidak logis dan kemudian mencapai
kesimpulan bahwa keyakinan itu seharusnya direvisi.
Langkah
ketiga ; merevisi, awalnya merevisi
sulit dilakukan oleh klien , karena mungkin saja terasa asing, karena terapis
meminta klien untuk berpikir dengan cara yang berlawanan dengan cara berpikir
mereka selama bertahun-tahun, ( Roth, Eng & Heimberg, 2002).
Terapi
kognitif memimpin dalam upaya awal untuk merevisi pikiran klien. Akan tetapi
tujuan akhirnya adalah agar klien mampu merevisi pikiran-pikirannya sendiri
tanpa masukan dari terapis.
MENGAJAR
SEBAGAI SEBUAH ALAT TERAPI
Terapi
kognitif secara eksplisit memasukkan edukasi klien tentang pendekatan kognitif
kedalam tugas mereka. Terapis kognitif seringkali berperan sebagai guru bagi
klien. Diamping itu mereka melatih klien untuk mengenali pikiran-pikiran tidak
logis, melekatkan label pada pikiran-pikiran tersebut, dan melacaknya di dalam
format tertulis tertentu. Terapis kognitif bercita-cita agar klien akhirnya
mampu menggunakan pelajaran yang mereka petik untuk mengajari dirinya sendiri,
dan bukan tergantung pada pangajar (Beck, 1995;Olatunji & Feldman, 2008).
PEKERJAAN
RUMAH
Persamaan
lain antara terapis kognitif dan pengajar adalah pemberian pekerjaan rumah.
(Beck, 1995;Kuehiwein, 1993; Olatunji & Feldman, 2008;Robinson, 2008).
Terapis kognitif sangat percaya bahwa banyak pekarjaaan terapi dilakukan
diantara sesi-sesi. Waktu diantara sesi-sesi terapi digunakan untuk
mengeksplorasi dan menginformasi pelajaran yang telah dipelajari selama
pertemuan-pertemuan itu.
Pekerjaan
rumahnya tertulis: klien diminta untuk mencatat berbaga peristiwa, kognisi,
perasaan dan usaha untuk merevisi kognisi untuk mengubah perasaan yang mereka
alami.
Pekerjaan
rumah bersifat perilaku: klien diminta
untuk melakukan perilaku tertentu sebelum pertemuan berikutnya, biasanya dengan
maksud memeriksa validitas sebuah pikiran yang tidak logis.
PENDEKATAN
YANG SINGKAT, TERSTRUKTUR DAN TERFOKUS
Terapis
kognitif berusaha mencapai hasil positif dengan cukup cepat. Beberapa faktor
berkonstibusi pada efisien terapi kognitif adalah fokusnya pada masalah klien
pada saat ini; sebuah fokus berorientasi –tujuan yang sengaja ditetapkan pada
gejala-gejala yang teridentifikasi dengan jelas; dan sesi-sesi terapi terstruktur
(Olatunji & Feldman, 2008).
RATIONAL EMOTIVE BEHAVIOR THERAPHY
Rational Emotive Behavior
Theraphy dikembangkan
sekitar tahun 1950-an oleh seorang psikologi klinis yaitu Albert Ellis.
Pendekatan terapi Ellis menekankan hubungan antara rasionalitas dan emosi.
Ellis (1962) berpendapat bahwa jika kita dapat membuat keyakinan kita kurang
begitu irasional, kita dapat menjalani kehidupan yang lebh bahagia.
“Tema
utama dari REBT adalah manusia secara unik bersifat rasional, dan sekaligus
binatang yang secara unik bersifat tidak rasional. Gangguan emosional dan
psikologisnya banyak dihasilkan oleh pikirannya yang tidak bersifat logis dan
tidak rasional. Bahwa ia dapat membebaskan dirinya dari sebagian besar
ketidakbahagiaan emosional ayau mental, ketidakefektifan dan gangguannya jika
ia belajar memaksimalkan pikiran rasionalnya dan meminimalkan pikiran
irasionalnya”.
KONSEP
UTAMA
REBT
dibangun berdasarkan filosofi bahwa “ apa yang mengganggu jiwa manusia bukanlah
peristiwa-peristiwa, tetapi bagaimana manusia itu bereaksi atau berprasangka
terhadap peristiwa-peristiwa tersebut.
REBT
tidak memusatkan perhatian kepada peristiwa
masa lalu tetapi lebih berfokus pada peristiwa yang terjadi saat ini dan
bagaimana reaksi terhadap peristiwa tersebut.
REBT
percaya, manusia mempunyai pilihan, mampu mengontrol ide-idenya, sikap,
perasaan dan tindakannya serta mampu menyususn kehidupannya menurut pilihannya
sendiri
REBT
didasari asumsi bahwa manusia itu dilahirkan dengan potensi rasional dan
irasional. Manusia berperilaku tertentu karena ia percaya harus bertindak
dengan cara itu,. Gangguan irasional terletak pada keyakinan irasional.
Berpikir dan emosi adalah dua proses yang saling terikat. Kecemasan bukanlah
irasional tetapi sebagai ketidaktepatan perasaan yang dibangun secara luas dari
ide-ide rasional.
Albert
Ellis menyatakan bahwa secara alamiah setiap manusia adalah irasional,
mengalahkan dirinya sendiri, sehingga perlu pemikiran lain dengan cara-cara
lain. Menurut Ellis ada siklus terentu dalam berpikir irasional, dimana ketika
seseorang dikuasai perasaan irasional, maka pemikiran tersebut akan mengarahkan
kepada kebencian diri. Kebencian diri akan mengarahkan pada perilaku destructive, dan kemudian secepatnya
akan menumbuhkan kebencian pada oranglain dan pada akhirnya menyebabkan orang
lain mereaksi secara irasional.
MODEL
ABCDE
Salah
satu konstribusi Ellis yang paling abadi dan sangat berguna secara klinis
adalah Model ABCDE. Model ini untuk
memahami dan mencatat dampak kognisi pada emosi. Dengan menciptakan model ini,
Ellis membingkai aspek-aspek esensial terapi kognitif ke dalam sebuah akronim
yang mudah diakses, yang memungkinkan penggunaannya oleh ribuan terapis dan
klien.
Model
ABCDE: A (Activing Event) peristiwa
pengaktif. B (Belief) keyakinan, C (emotional consequence). D (dispute) perdebatan. E (effective new belief)
Menurut
Ellis keyakinan irasional “ beracun” karena berfungsi sebagai tuntutan dogmatic
yang kaku yang kita terapkan pada diri sendiri. Disamping itu kita cenderung
menyertai tuntutan ini dengan estimasi yang terlalu tinggi tentang konsekuensi
kegagalan. Secara spesifik keyakinan irasional (B) adalah target perdebatan.
Model Ellis bukan hanya membantu klien mengidentifikasi keyakinan-keyakinan
irasional (B) yang mungkin memperantarai antara kejadian dalam hidupnya (A) dan
perasaan yang kemudian dirasakannya (C), tetapi juga mendesak klien untuk
menentang keyakinan yang menyebabkan C
dan menggantinya dengan sesuatu yang lebih rasional.
Di
dalam model Ellis , perdebatan (D) sering berbentuk pertanyaan atau pertanyaan
tajam yang menyerang sifat irasional keyakinan atau label yang dapat dilekatkan
pada keyakinan irasional intuk mendeskreditkannya. Jika efektif ia akan member
kesempatan kepada klien untuk menggantikan keyakinan awalnya yang tidak
rasional dengan sebuah keyakinan yang efektif (E), yang lebih rasional dan
menghasilkan perasaan yang tidak terlalu meresahkan.
Contoh:
Anita seorang atlet renang, minggu depan
dia akan ikut pertandingan dan harus berlatih dengan tekun. Ia didera kecemasan
berlebihan dan akibatnya ia tidak bisa berlatih dengan tekun dan serius. Hanya
memikirkan pertandingan saja membuat dia cemas. Maka Anita diajari Model ABCDE
“ Saya harus menang dalam
pertandingan renang”. “Kalau tidak menang maka itu adalah kegagalan seumur
hidup dan kehancuran karir saya selama-lamanya”.
A (
kejadian pengaktifnya) : Berlatih
C (
Konsekuensi emosional) : Kecemasan
B
(keyakinan); Saya harus menang dalam pertandingan kalu tidak itu adalah
kegagalan dan kehancuran dalam karir saya.
Di
dalam langkah berikutnya yaitu perdebatan (D) dicoba dipertanyakan
keyakinan-keyakinan tersebut.
“ Siapa yang mengatakan kalau kemenangan dalam
pertandingan adalah mutlak dan itu menyangkut hidup dan mati? Banyak atlet yang
gagal pada pertandingan pertama tapi
kemudian mereka tetap berjuang lagi dan akhirnya mereka sukses? Dan apakah
kalau gagal dalam pertandingan ini berarti tidak ada kesempatan berikutnya?
Apakah kalau anda gagal maka hidup anda hancur? Bukankah masih ada banyak cara
untuk memiliki karir dan kehidupan yang menyenangkan selain berenang?”
Anita
dengan perdebatan itu menemukan dirinya diyakinan oleh kekuatan
argument-argumen tersebut dan mulai tidak mempercayai pikiran-pikiran
irasionalnya sendiri. Akhurnya ia mampu mennganti keyakinan awalnya yang tidak
irasional dengan keyakinan baru yang efektif:
“ Saya ingin menang dalam pertandingan renang,
tetapi itu bukan keharusan mutlak. Jika saya kalah itu tidak apa-apa, saya
masih bisa berjuang di kali lain, dan kebahagian hidup saya tidak sepenuhnya
bergantung pada pertandingan renang.”
Model
ABCDE sangat cocok dengan format tertulis. Biasanya klien mengisi formulir yang
diatur dalam bentuk kolom A,B,C,D,E. Selama sesi-sesi secara retrosfektif klien
dapat menyortir pengalama-pengalaman mereka ke dalam organisasional lima-kolom
yang telah disediakan oleh formulir catatan harian tersebut. Dengan
melakukannya klien melatih dirinya untuk mengalami kehidupan dalam urutan-urutan.
Secara khusus, mereka menjadi mahir dalam mengidentifikasikan sebuah keyakinan
irasional (B), menyusun perdebatan (D) dalam merespon keyakinan tersebut, dan
menghasilkan sebuah keyakinan baru yang efektif.
TERAPI BEHAVIORAL
Psikoterapi
behavioral adalah aplikasi klinis prisnsip-prinsip perilaku, yang memiliki akar
teoritis dan eksperimental yang telah berusia ratusan tahun. Ivan Palvlov salah
satu tokoh fisiologi yang berkonstribusi dengan classical conditioningnya.
Konstibusi Ivan Palvov membuka jalan ke Amerika Serikat melalui John Watson.
Watson berpendapat bahwa psikologi seharusnya hanya mempelajari respon-respon
yang dapat dilihat dan dapat diobservasi serta stimulus yang dapat dilihat dan
diobservasi, bukan kerja batin pikiran
yang mungkin terjadi diantaranya. Perasaan, pikiran, kesadaran dan
proses-proses mental internal lain tidak cocok untuk kajian ilmiah, dan mereka
juga tidak sekuat pengkondisian dalam menentukan perilaku ( Huntz, 1993;
Kazdin;, 1978; Watson,1924).
Tokoh
lain yang berkonstibusi adalah Edward Lee Thorndike dan B.F Skinner, melalui
pengondisian instrumental. Konstibusi utama Thorndike adalah sebuah teori yang
disebut hukum efek. Hukum efek Thorndike mengatakan bahwa semua organisme
memperhatikan konsekuensi (efek) dari tindakannya. Tindakan yang diikuti oleh
konsekuensi yang menyenangkan lebih kemungkinan untuk terjadi lagi, sementara
tindakan yang diikuti oleh konsekuensi tidak menyenangkan kurang kemungkinan
untuk terjadi lagi. Skinner memberikan alasan yang kuat bahwa pengkondisian
instrumental, mekanisme bagaimana hukum efek mempengaruhi perilaku, nemiliki
pengaruh sebesar pengkondisian klasik pada peneliti manusia. Penelitian Skinner
sangat berpengaruh pada persfektif perilaku tentang awal mula berbagai masalah
dan teknik –teknik yang dapat digunakan untuk menangani masalah-masalah
tersebut.
Melalui
Pavlov, Watson, Skinner dan Thorndike, behaviorisme berkembang dari penelitian
dasar perilaku manusia menjadi sebuah bentuk psikoterapi terapan.
TUJUAN PSIKOTERAPI BEHAVIORAL
Tujuan
utama psikoterapi behavioral adalah perubahan perilaku yang dapat diobservasi.
Tujuan ini berlawanan dengan tujuan psikodinamik dan humanistic yang menekankan
pada proses-proses mental internal.
Penekanan pada Empirisme
Terapis
behavioral berpendapat bahwa kajian tentang perilaku manusia normal atau
abnormal, seharusnya bersifat ilmiah.
Teori-teori
tentang penanganan masalah perilaku seharusnya dinyatakan sebagai hipotesis
yang dapat diuji, dengan cara ini teori dapat didukung, dibantah, dimodifikasi
dan diuji-ulang.
Terapi
behavioral melibatkan pengumpulan data, terapis behavioral secara regular
mengumpulkan data empiris tentang klien mereka, sebagai ukuran dasar awal
terapi, diberbagai titik selama terapi untuk melakukan evaluasi perubahan-perubahan dari sesi ke sesi, dan
diakhir terapi sebagai penilaian final terhadap perubahan.
Mendefinisikan Masalah Secara
Behavioral
Menurut
terapis behavioral, perilaku klien bukan gejala masalahyang mendasarinya tetapi
perilaku itulah masalahnya.
Manfaat
dari mendefinisikan masalah akan mempermudah dalam mengidentifikasikan perilaku
target dan mengukur perubahan-perubahan di dalam terapi.
Mengukur Perubahan yang Dapat
Diamati
Bagi
terapis behavioral, mengukur hasil terapi melalui perubahan yang dapat diamati
akan sejalan dengan mendefinisikan masalah klien secara perilaku sejak dari
awal. Artinya, sementara jenis-jenis terapis lain mungkin mengukur
perubahan-perubahan di dalam diri klien secara inferensial, terapis
behavioral menggunakan indikasi-indikasi kemajuan yang tidak ambigu.
DUA PENGONDISIAN
Terapis
Behavioral membedakan pengondisian menjadi dua jenis utama: klasik dan
instrumental.
Pengondisian Klasik
Pengkondisian
klasik adalah tipe yang dicontohkan oleh
studi terhadap anjing oleh Ivan Palvov
Eksperiment
klasik ( abad 19 )
UCS → UCR
(
makanan ) ( air liur )
↓
CS (Bel)
+ Makanan UCR
Air liur
↓ ↓
CS (Bel) CR
Air
liur → akan muncul krn adanya proses belajar
Pengkondisian
klasik adalah tipe belajar yang agak pasif. Sejumlah variabel yang dapat
mempengaruhi perilaku ada di seputar proses pengondisisn klasik. Sejauh mana
seseorang memperlihatkan perilaku yang telah dikondisikan secara klasik akan
bergantung pada sejauh mana terjadinya generalisasi dan diskriminasi.
Generalisasi terjadi jika respon terkondisikan diakibatkan oleh stimulus yang
serupa, tetapi tidak benar-benar sama, dengan stimulus terkondisikan.
Diskriminasi terjadi jika respon terkondisikan tidak dibangkitkan oleh stimulus
semacam itu.
Pengkondisian Instrumental
Pengkondisian
instrumental (operant conditioning)
terjadi jika organisme “beroperasi” di lingkungan, melihat akibat dari suatu
perilaku, dan memasukkan konsekuensi-konsekuensi tersebut ke dalam keputusan tentang
perilaku yang akan datang. Secara sederhana, prinsip dasar pendekatan operant adalah bahwa perilaku adalah
fungsi dari konsekuensi-konsekuensinya
Pengkondisian
instrumental adalah gaya belajar yang lebih aktif dibandingkan pengkondisian
klasik. Agar pengondisisn instrumental terjadi, organisme harus mengambil
tindakan tertentu.
TEKNIK-TEKNIK TERAPI YANG
BERDASARKAN PENGKONDISIAN KLASIK
Terapi Paparan
Secara
sedarhana, terapi paparan adalah versi “ hadapi ketakutanmu”. Fobia menurut
terapis behavioral sebaiknya dipahami sebagai hasil pengkondisisn klasik:
sebuah stimulus tertentu (laba-laba, ketinggian, gelap dan lain-lain)
dipasangkan dengan sebuah hasil aversif (kecemasan, kesakitan). Pemasangan ini
bisa memperlemah dan akhirnya ditiadakan jika klien mengalami salah satunya
tanpa mengalami yang lainnya. Artinya, jika klien berulang kali “dipaparkan”
pada objek yang ditakuti dan hasil aversif yang diprakirakannya tidak terjadi,
maka klien tidak lagi mengalami proses ketakutannya, yang merupakan cara yang
lebih tepat dan rasional untuk bereaksi terhadap stimulus yang sebenarnya tidak
membahayakan tersebut ( Hazlett=Steven&Craske, 2008).
Terapi
paparan paling lazim digunakan pada klien-klien yang mengalami fobia dan
gangguan kecemasan lainnya.
Disensitisasi Sistematis
Disensitisasi
sistematis, sebuah penanganan yang digunakan terutama untuk fobia dan gangguan
kecemasan lainnya. Disensitisasi sistematis melibatkan pemasangan-ulang
(pengondisian balik) objek yang ditakuti dengan sebuah respon baru yang tidak
sesuai dengan kecemasannya. Jika disessitisasi sistematis berhasil, objek yang
ditakuti dipasangkan dengan respon baru yang menggantikan dan memblokir respon
yang ditakuti. Yang paling sering, respon baru yang menggantikan dan memblokir
respon takut adalah relaksasi.
Latihan Ketegasan
Latihan
ketegasan adalah aplikasi spesifik pengondisian klasik yang menargetkan
kecemasan sosial klien. Latihan ini paling cocok bagi orang-orang yang perilaku
sosialnya pemalu, aprehensif atau tidak efektif memiliki dampak negative pada
hidupnya.
Latihan
ketegasan sudah pasti memasukkan elemen terapi paparan dan desentisasi sistematis.
Paparannya dalam bentuk menghadapi ketakutan interpersonal. Artinya , orang
yang memiliki masalah dengan ketegasan biasanya menghindari situasi yang
membutuhkan ketegasan, sehingga dengan sekedar memapari dirinya sendiri pada
situasi semacam itu dan menghasilkan jenis respon ketegasan, berarti mereka
telah mengambil langkah maju yang signifikan. Komponen pengondisian-balik
disentasi sistematis ikut berperan
yaitu ketegasan menggantikan relaksasi sebagai respon baru yang menggantikan
dan menghambat kecemasan.
TEKNIK-TEKNIK TERAPI YANG BERDASARKAN
PENGKONDISIAN INSTRUMENTAL.
Manajemen Kontingensi
Kontingensi
adalah pernyataan “jika…maka…” yang menurut terapis behavioral, mengatur
perilaku kita. Jadi, jika tujuannya untuk mengubah perilaku, salah satu cara
kuat untuk melakukannya adalah dengan menubah kontingensi yang mengontrolnya.
Psikoterapis behavioral menyebut proses ini sebagai manajemen kontingensi.
Penguatan dan Hukuman
Konsekuensi
sebuah perilaku…maka” dapat dikategorikan sebagai penguatan atau hukuman.
Penguatan
didefinisikan sebagai konsekuensi tertentu yang membuat sebuah perilaku lebih
berkemungkinan untuk terjadi lagi di masa yang akan mendatang. Sebaliknya,
hukuman didefinisikan sebagai konsekuensi terentu yang membuat sebuah perilaku
kurang berkemungkinan untuk terjadi lagi di masa yang akan datang.
Penguatan
dan hukuman masing-masing dibagi lebih lanjut menjadi positif dan negative.
Penguatan positif berarti “ mendapatkan sesuatu yang baik” (misalnya makanan),
sementara penguatan negative berarti “kehilangan sesuatu yang buruk” (misalnya
rasa sakit). Hukuman positif berarti “ mendapatkan sesuatu yang buruk”
sementara hukuman negative berarti “kehilangan sesuatu yang baik”
Terapi
Aversif merepresentasikan sebuah contoh penggunaan klinis hukuman, misalnya
sebuah perilaku yang tidak diinginkan (misalnya minum alcohol) menghasilkan
sebuah stimulus aversif (mual)
Ektingensi
Ektingensi
mengacu pada penghilangan sebuah penguatan yang diharapkan, yang menghasilkan
penurunan frekuensi sebuah perilaku.
Ekonomi Token
Ekonomi
token adalah sebuah pengaturan ketika klien mengumpulkan token untuk
berpartisipasi di dalam perilaku-perilaku target yang telah
ditentukansebelumnya. Token ini dapat ditukarkan untuk sejumlah penguatan
misalnya makanan, permainan, hak istimewa. Di dalam beberapa ekonomi token,
klien juga bisa kehilangan token jika terlibat perilaku yang tidak diinginkan.
Ekonomi token paling sering digunakan di lingkungan unit rawat inap, LP dan
tempat-tempat lain yang terus menerus mengawasi perilaku klien. Salah satu
kekuatan ekonomi token adalah fleksibilitasnya untuk berbagai klien.
TERAPI KELOMPOK
PENEKANAN
INTERPERSONAL
Terapi
kelompok ini sangat menekankan interaksi interpersonal. Intervensi terapis
kelompok sering menyoroti bagaimana para anggota kelompok saling merasakan,
berkomunikasi dan membentuk hubungan satu sama lain. Melebihi komponen lain,
penekanan pada interaksi interpersonal inilah yang membedakan terapi kelompok
dengan terapi individual (Burlingame & Baldwin, 2011). Terapi kelompok
memungkinkan jaringan hubungan yang jauh lebih kompleks untuk berkembang. Didalam
terapi kelompok, seorang klien membentuk hubungan bukan hanya dengan seorang
terapis, tetapi melibatkan juga orang-orang yang ada di ruang terapi. Terapi
kelompok melibatkan respons interpersonal yang lebih besar.
Irvin
Yalom tokoh yang terkemuka dalam pendekatan interpersonal terapi kelompok..
Yalom (2005) melihat kecenderungan problem interpersonal ini sebagai hal yang sentral bagi masalah yang dialami klien,
terlepas dari apakah klien mengakuinya atau tidak. Faktanya, ia berpendapat
bahwa semua masalah psikologi timbul dari hubungan interpersonal yang keliru.
Menurut
Yalom gangguan seorang individu adalah produk sampingan dari cara berhubungan
dengan orang lain yang terganggu. Jika masalah hubungan interpersonal adalah
inti semua masalah psikopatologi, maka fokus utama terapi kelompok adalah
memperkuat keterampilan hubungan interpersonal.
PROSES TERAPI KELOMPOK
•
Jumlah 5 atau 6-10 orang
•
Waktu (min 1 atau 2x seminggu, 90-120 menit)
•
Format : duduk melingkar/ mengeli2ngi meja, anggota bisa
berhadapan saling melihat
•
Komposisi partisipan : homongen atau heterogen – sex,
usia, personality, background, problem (utk masalah tertentu sulit dilakukan
terapi kelompok)
•
Terapis : sendiri atau dengan ko-terapis, pria atau
wanita (terutama untuk familiy terapi/marital terapi)
•
Bentuk kelompok : open/close
•
Aturan : kerahasiaan
FAKTOR-FAKTOR TERAPEUTIK DALAM
TERAPI KELOMPOK
Yalom
(2015) mendeskripsikan 11 faktor terapeutik spesifik yang bermanfaat bagi
klien
- Pembangkitan Harapan
- Universalitas
- Memberikan Informasi
- Altruisme
- Rekapitulasi kolektif kelompok keluarga primer
- Pengembangan teknik-teknik bersosialisasi
- Perilaku Imitatif
- Pembelajaran interpersonal
- Kohesivitas kelompok
- Katarsis
- . Faktor-faktor esensial
Pembangkitkan harapan
Membangkitkan & memelihara harapan akan mendorong
klien utk tetap bertahan & mau berusaha dalam mengikuti proses terapi
Bertemu dg anggota lain yg telah mengalami
peningkatan/mampu mengatasi masalah dg efektif akan membangkitkan harapan.Terapis
harus selalu menginformasikan peningkatan yg telah dicapai ( individu
& kelompoknya) & harus yakin/optimis terhadap anggota/kelompoknya
Universalitas
Yalom mendeskripsikan masalah fenomene
universalitas. Klien dengan masalah psikologi seringkali percaya bahwa tidak
ada seorangpun yang berkutat dengan masalah yang sama dengan dirinya. Mereka
mungkin tidak menyadari persamaan masalah, gejala atau diagnosis mereka.
Menemukan dirinya di sebuah ruangan penuh orang-orang lain yang memiliki
masalah serupa itu saja dapat menggembirakan.
Universalitas
dibangun menjadi kelompok homogen. Di dalam kelompok heterogen, universalitas
mungkin tidak tampak jelas pada awalnya, tetapi seiring waktu klien-klien di
dalam kelompok heterogen sering menyadari bahwa meskipun di permukaan
gejala-gejala mereka berbeda, pada kenyataannya isu fundamental yang
mendasarinya cukup mirip
Kohesivitas Kelompok
Mengacu
pada perasaan saling terhubung diantara para anggota kelompok. Perasaan saling
terhubung satu sama lain ditandai dengan perasaan kehangatan, kepercayaan,
penerimaan, rasa memiliki dan nilai diantara kelompok. Berpartisipasi di sebuah
kelompok berkelanjutan semacam ini akan menungkatkan maslah psikologis.
Yalom
(2005) mengatakan bahwa kohesivitas kelompok tidak harus berarti bahwa setiap
interaksi kelompok harus sopan dan santun. Faktanya sebuah interaksi kelompok
berkelanjutan yang tidak ditandai dengan emosi negative mungkin sebenarnya
justru mengindikasikan bahwa kelompok itu tikurang memiliki kohesivitas
Kelompok
terapi yang benar-benar kohesif seperti keluarga, kelompok kerja atau tim yang
kohesif cukup kuat untuk menolerir kemarahan, kesedihan, kecemburuan,
kekecewaan dan semacamnya. Mereka paham bahwa ketika orang-orang menjadi
bermakna bagi satu sama lain, mereka membangkitkan perasan-perasan kuat, dan
mereka mendorong diskusi tentang perasaan-perasaan tersebut.
Kohesivitas
memainkan peran yang sama dalam terapi kelompok seperti peran yang dimainkan
hubungan / aliansi terapeutik di dalam terapi individu. Bagi teapis kelompok,
sangat penting untuk tidak hanya memelihara hubungan kolaboratif yang saling
mempercayai secara langsung dengan klien, tetapi juga mendukung pengembangan
sebuah kelompok tempat paraklien juga mengembangkan hubungan kolaboratif yang
saling mempercayai satu sama lain
.
Pembelajaran Interpersonal
Pembelajaran
interpersonal adalah jantung dari terapi kelompok. Terapis kelompok
mengaumsikan bahwa masalah interpersonal yang pertama-tama memberikan
konstibusi pada masalah klien, kecenderungan interpersonal yang sama akan tampak dalam kelompok dan
pelajaran-pelajaran yang dipetik melaui interaksi dengan sesame kelompok akan
digeneralisasikan ke kehidupan klien di luar kelompok.
Imparting information (memberi
informasi)
Saat terapis memberikan informasi, saat terapis &
anggota mendiskusikan pengalaman mereka, adanya nasehat, saran & bimbingan
dari terpis maupun anggota lainnya
Tiap klien belajar/memperoleh informasi tentang
permasalahannya, fungsi psikis, gambaran simptom, dinamika kelompok dan
interpersonal proses psikoterapi.
Altruisme
Adanya proses belajar untuk saling menerima &
terutama saling memberi membantu
dan saling memberikan dukungan, meyakinkan, memberi saran,
sharing tentang masalah yg sama / memberikan umpan balik Hal ini
sangat membantu
karena setiap orang sebenarnya butuh untuk merasa dibutuhkan
Rekapitulasi kolektif kelompok keluarga primer
Kelompok secara umum mirip keluarga dalam banyak aspek
-> banyak di pimpin tim terdiri dari 2 terapis (laki-laki & perempuan).Dalam
kelompok sangat mungkin bagi setiap anggota utk melalukan pengulangan perilaku
Diketahui konflik2 keluarga yg diulang, anggota juga diberikan koreksi.
Imitative Behavior
(perilaku meniru)
Klien selama terapi berlangsunng mungkin akan meniru
sikap, perilaku terapi & anggota lain atau bahkan cara berpikir terapis.
Catharsis
Dalam kelompok, pasien belajar mengekspresikan perasaannya, atau
perasaan mengenai/terhadap orang lain, secara jujur dan terbuka sehingga
memunculkan kondisi untuk saling mempercayai & saling pengertian
Isu-Isu Praktis dalam Terapi Kelompok
Keanggotaan kelompok
Kelompok
bisa bersifat terbuka atau tertutup.
Kelompok
anggota terbuka memungkinkan para anggotanya untuk masuk atau keluar dari
kelompok kapan pun. Anggota kelompok baru memiliki model-model pengalaman untuk diikuti.
Kelompok
anggota tertutup, seluruh anggota memulai dan mengakhiri terapi bersama-sama
tanpa penambahan anggota baru selama prosesnya. Di dalam tipe kelompok ini,
kohesivitas dapat dibangun dan dipertahankan.
Mempersiapkan Klien untuk
Terapi Kelompok
Sebagian
klien mungkin keliru meyakini bahwa mereka akan serta merta dipaksa untuk
mengungkapkan detil-detil intim pribadi mereka kepada orang asing, atau bahwa
interaksi dengan orang lain dengan berbagai masalah psikologis akan memperburuk
gejala mereka (Mac Kenzie 2002).
Di
dalam pertemuan-pertemuan individual pra kelompok, terapis kelompok dapat
meyakinkan klien bahwa gagasan-gagasan semacam itu salah dengan memberika data
yang realistis, member semangat seberapa baik terapi mereka bekarja untuk para
klien
Isu-Isu Etik dalam Terapi Kelompok
Kerahasiaan
Kerahasiaan adalah isu-isu etik yang secara khusus
relevan dengan terapi kelompok. Fokusnya disini bukan pada terapis kelompok
tetapi kemungkinan bahwa sesame anggota kelompok melanggar kerahasiaan salah
satu klien (Brabender, 2002; Brabender dkk,.2004;Lasky & Riva, 2006;Shaffer
& Galinsky, 1998).
Konsekuensi seorang klien yang melanggar kerahasiaan
klien secar serius dapat mempengaruhi kehidupan professional atau pribadi klien yang
kerahasiannya dilanggar. Disamping itu, pelanggaran semacam ini membuat
kelompok terapi tampak tidak aman dan tidak layak dipercaya, yang mengurangi
pengungkapan diri oleh klien-klien lain.
Penting bagi terapis kelompok untuk berusaha maksimal
untuk mencegah pelanggaran kerahasiaan semacam itu. Disamping meminta klien
untuk meminta klien untuk berkomitmen pada kerahasiaan selama persiapan
pra-kelompok, tindakan preventif terapis dapat termasuk mencontohkan perilaku
yang tak tercela terkait kerahasiaan, sering mengingatkan tentang kerahasiaan,
dan diskusi kelompok tentang setiap pelanggaran kerahasiaan yang benar-benar
terjadi (Brabender dkk.,2004;Knauss & Knauss, 2012).
DAFTAR PUSTAKA
Pomerantz, A. (2014). Psikologi klinis ilmu
pengetahuan, praktik dan budaya.Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Psikologi Konseling Diktat kuliah
Indrywati, R. Psikoterapi. www.indryawati.staff.gunadarma.ac.id/ diakses 25 April 2016 pukul 21.00 WIB
Tidak ada komentar:
Posting Komentar