REVIEW
TEKNIK TERAPI
Psikoterapi Psikoanalisa
Tujuan Terapi Psikoanalisa
- Membentuk kembali struktur karakter kepribadian individu dengan jalan membuat kesadaran yang tidak disadari di dlam diri kien.
- Focus pada upaya mengalami kembali pengalaman masa anak-anak.
Fungsi dan Peranan Terapis
- Terapis membiarkan dirinya anonim dan hanya berbagi sedikit perasaan dan pengalaman sehingga klien memproyeksikan dirinya kepada terapis.
- Peran terapis
- Membantu klien dalam mencapai kesadaran diri, kejujuran, keefektifan dalam melakukan hubungan personal dalam menangani kecemasan secara realistis.
- Membangun hubungan kerja dengan klien, dengan banyak mendengar dan menafsirkan.
- Terapis memberikan perhatian khusus pada penolakan-penolakan klien.
- Mendengarkan kesenjangan-kesenjangan dan pertentangan - pertentangan pada cerita klien.
Hubungan Terapis dan
Klien
- Hubungan dikonseptualkan dalam proses tranferensi yang menjadi inti terapi psikoanalisa.
- Transferensi mendorong klien untuk mengalamtkan pada terapis "urusan yang belum selesai" yang terdapat dalam hubungan klien di masa lalu dengan orang yang berpengaruh.
- Sejumlah perasaan klien timbul konflik-konflik seperti: percaya lawan tak percaya, cinta lawan benci.
- Transferensi yang terjadi pada saat klien membangkitkan kembali konflik masa dininya yang menyangkut cinta, seksualitas, kebencian, kecemasan dan dendamnya.
- Jika analis mengembangkan pandangan yang tidak selaras yang berasal dari konflik-konflik sendiri maka akan terjadi kontra transferensi. Bentuk kontra transferensiperasaan tidak suka/ keterlibatan lebih jauh. Kontra transferensi ini dapat mengganggu kemajuan proses terapi
Teknik - Teknik Terapi
Psikoanalisa
Teknik-teknik dalam psikoanalisa disesuaikan untuk
meningkatkan kesadaran, memperoleh pemahaman intelektual atas tingkah laku
klien, serta untuk memahami makna dari beberapa gejala. Kemajuan terapeutik
diawali dengan pembicaraan klien ke arah katarsis, pemahaman, hal-hal yang
tidak disadari sampai dengan tujuan pemahaman masalah-masalah intelektual dan
emosional.
Corey (1995) teknik-teknik psikonalisa:
- Asosiasi Bebas.
- Penafsiran.
- Analisis Mimpi.
- Resistensi.
- Transferensi.
Kelebihan
Terapi Psikoanalisa
- Membantu klien dalam mencapai kesadaran diri, kejujuran, keefektifan dalam melakukan hubungan personal dalam menangani kecemasan secara realistis.
- Membentuk kembali struktur karakter kepribadian individu dengan jalan membuat kesadaran yang tidak disadari di dalam diri kien.
Kekurangan
Terapi Psikoanalisa.
- Focus pada upaya mengalami kembali pengalaman masa anak-anak dan ketidaksadaran.
- Terjadi kontra transferensi. Bentuk kontra transferensi perasaan lebih jauh. Kontra transferensi ini dapat mengganggu kemajuan proses terapi
Psikoterapi
Eksistensial Humanistik
Pendekatan
eksistensial-humanistik menekankan renungan-renungan filosofis tentang apa
artinya menjadi manusia yang utuh. Terapi eksistensial, terutama berpijak pada
premis bahwa manusia tidak bisa melarikan diri dari kebebasan dan bahwa
kebebasan dan tanggung jawab itu saling berkaitan.
Konsep Dasar Pandangan Eksistensial
Humanistik
Psikologi
eksistensial-humanistik berfokus pada kondisi manusia. Pendekatan ini terutama
adalah suatu sikap yang menekankan pada pemahaman atas manusia. Pendekatan
terapi eksistensial suatu pendekatan yang mencakup terapi-terapi yang berlainan
yang kesemuanya berlandaskan konsep-konsep dan asumsi-asumsi tentang manusia.
Unsur-unsur Terapi Eksistensial Humanistik
Tujuan-Tujuan Terapeutik
Terapi eksistensial
bertujuan agar klien mengalami keberadaannya secara otentik dengan menjadi
sadar atas keberadaan dan potensi-potensinya serta sadar bahwa ia dapat membuka
diri dan bertindak berdasarkan kemampuannya.
Bugental (1965)
menyebutkan keontentikan sebagai "unsur utama" psikoterapi
nilai eksistensial pokok. Terdapat tiga karakteristik dari keberadaan otentik:
- Menyadari sepenuhnya keadaan sekarang
- Memilih bagaimana hidup pada saat sekarang
- Memikul tanggung jawab untuk memilih.
Klien yang neurotik
adalah orang yang kehilangan rasa ada. Tujuan terapi adalah membantunya agar ia
memperoleh atau menemukan kembali kemanusiaannya yang hilang.
Fungsi
dan Peran Terapis
Karena menekankan pada
pengalaman klien sekarang, para terapis eksistensial menunjukkan keluasan dalam
menggunakan metode-metode , dan prosedur yang digunakan oleh mereka bisa
bervariasi tidak hanya dari satu klien ke lien lainnya, tetapi juga dari satu
ke lain fase terapi yang dijalani oleh klien yang sama.
Buhler dan Allen (1972) para ahli psikolog humanistik memiliki orientasi bersama yang mencakup hal-hal berikut:
- Mengakui pentingnya pendekatan dari pribadi ke pribadi.
- Menyadari peran dan tanggung jawab terapi.
- Mengakui sifat timbal balik dari hubungan terapeutik.
- Berorientasi pada pertumbuhan.
- Menekankan keharusan terapis terlibat dengan klien sebagai suatu pribadi yang menyeluruh.
- Mengakui bahwa putusan dan pilihan akhir terletak di tangan klien.
Pengalaman Klien dalam Terapi
Klien mampu secara
subjektif persepsi-persepsi tentang dunianya. Dia harus aktif dalam proses
terapeutik sebab dia harus memutuskan ketakutan-ketakutan, perasaan-perasaan
berdosa, dan kecemasan-kecemasan apa yang akan dieksplorasinya.
Hubungan Terapis dengan Klien
Hubungan terapeutik
sangat penting bagi terapis eksistensial. Penekanan diletakkan pada pertemuan
antar manusia dan perjalanan bersama. Isi pertemuan terapi adalah pengalaman
klien sekarang, bukan "masalah" klien. Hubungan dengan orang lain
dalam kehadiran yang otentik difokuskan pada "disini dan sekarang".
Masa lampau dan masa depan hanya penting bila waktunya berhubungan langsung.
Teknik-Teknik Terapi
Metode yang berasal dari
terapi Gestalt dan Analis Transaksional sering digunakan, dan sejumlah
prinsip dan prosedur psikoanalisis bisa diintegrasikan ke dalam pendekatan
eksistensial-humanistik.
Kelebihan Psikoterapi Eksistensial
Humanistik
Klien menjadi sadar atas
keberadaan dan potensi-potensinya serta dan dapat membuka diri serta bertindak
berdasarkan kemampuannya.
Terapis membantu klien agar ia memperoleh atau menemukan kembali
kemanusiaannya yang hilang.
Kekurangan Psikoterapi Eksisstensial
Humanistik
Masa lampau dan masa
depan hanya penting bila waktunya berhubungan langsung.
Klien harus aktif dalam
proses terapeutik sebab dia harus memutuskan ketakutan-ketakutan,
perasaan-perasaan berdosa, dan kecemasan-kecemasan apa yang akan
dieksplorasinya.
Psikoterapi
Person Centered Therapy
Pendekatan person-centered
adalah cabang khusus dari terapi humanistik yang menggarisbawahi tindakan
mengalami klien berikut dunia subjektif dan fenomenalnya.
Ciri-ciri
Person Centered
Ciri-ciri pendekatan person centered dari pendekatan lainnya:
Ciri-ciri pendekatan person centered dari pendekatan lainnya:
- Difokuskan pada tanggung jawab dan kesanggupan klien untuk menemukan cara-cara menghadapi kenyataan secara lebih penuh.
- Menekankan dunia fenomenal klien. Dengan empati yang cermat dan dengan usaha untuk memahami kerangka acuan klien , terapis memberikan perhatian utama pada persepsi diri klien dan persepsinya terhadap dunia.
- Berdasarkan konsep bahwa hasrat untuk bergerak menuju kematangan psikologis berakar dalam manusia, prinsip terapi peson centered diterapkan pada individu yang fungsi psikologisnys berada pada taraf yang relatif normal maupun individu yang derajat penyimpangan psikologisnya lebih besar.
- Psikoterapi hanyalah salah satu contoh dari hubungan pribadi yang konstruktif.
- Hubungan dengan konselor yang selaras, bersikap menerima dan empatik yang bertindak sebagai agen perubahan terapeutik bagi klien.
- Hipotesis bahwa ada sikap-sikap tertentu pada pihak terapis (ketulusan, kehangatan, penerimaan yang nonposesif, dan empati yang akurat) yang membentuk kondisi-kondisi yang diperlukan dan memadai bagi keefektifan terapeutik pada klien.
- Fungsi terapis adalah tampil langsung dan bisa dijangkau oleh klien serta memusatkan perhatian pada pengalaman disini dan sekarang yang tercipta melalui hubungan antara klien dan terapis.
- Teori person-centered terapi suatu teori yang tumbuh melalui observasi-observasi konseling bertahun-tahun dan yang secara sinambung berubah sejalan dengan peningkatan pemahaman terhadap manusia dan terhadap proses terapeutik yang dihasilkan oleh penelitian-penelitian baru.
Unsur-Unsur Terapi
Person-Centered
Tujuan
Terapeutik
Tujuan dasar terapi person-centered adalah menciptakan iklim yang kondusif bagi usaha membantu klien untuk menjadi seorang pribadi yang berfungsi penuh.
Fungsi
dan Peran Terapis
Peran terapis berakar pada cara-cara keberadaannya dan sikap-sikapnya, bukan pada teknik yang dirancang untuk menjadikan klien "berbuat sesuatu". Terapis menggunakan dirinya sendiri sebagai alat untuk mengubah.
Fungsi terapis adalah membangun suatu iklim terapeutik yang menunjang pertumbuhan klien.
Ada tiga ciri atau sikap pribadi terapis yang membentuk bagian dengan
hubungan terapeutik
- Keselarasan atau kesejatian, terapis tampil nyata, terintegrasi, bersikap spontan, sanggup menyatakan kemarahan, kekecewaan, ketertarikan dll.
- Perhatian positif tak bersyarat, perhatian yang mendalam dan tulus tidak dicampuri oleh evaluasi atau penilaian perasaan, emikiran dan tingkah laku klien sebagai baik dan buruk
- Pengertian empatik yang akurat, mengerti secara peka perasaan dan pengalaman klien.
Teknik-Teknik
Terapi
Teknik-tekniknya adalah
pengungkapan dan pengkomunikasian penerimaan, respek, dan pengertian, serta
berbagai upaya dengan klien dalam mengembangkan kerangka acuan internal
dengan memikirkan, merasakan dan mengeksplorasi.
Kelebihan Psikoterapi Person Centered
Terapi
•
Dengan
empati yang cermat dan dengan usaha untuk memahami kerangka acuan klien,
terapis memberikan perhatian utama pada persepsi diri klien.
•
Perhatian
positif tanpa syarat, empati,tulus dari terapis kepada klien.
Kekurangan Psikoterapi Person Centered
Terapi
•
Person
Centered Terapi difokuskan pada tanggung jawab dan kesanggupan klien untuk
menemukan cara-cara menghadapi kenyataan secara lebih penuh. Hal tersebut tidak dapat dilakukan oleh semua klien.
•
Dibutuhkan
skill terapis yang berhubungan dengan empati, penerimaan positif tanpa syarat.
LOGO
TERAPI
Unsur-Unsur Logoterapi
Kekurangan makna hidup, bagi Frankl merupakan suatu neourosis. Frankl menyebut kondisi noogenic neurosis, suatu keadaan yang yang bercirikan tanpa arti, tanpa maksud, tanpa tujuan, dan hampa. Orang yang tidak merasa kehidupan yang penuh dan gairah maka orang semacam itu berada dalam kekosongan eksistensial.
Tujuan Terapi
Logo terapi adalah suatu
metode psikoterapi untuk menangani orang-orang yang kehidupannya kehilangan
arti, membantu individu mengatasi masalah ketidakjelasan makna dan tujuan hidup
, yang sering menimbulkan kehampaan dan kehilangan gairah hidup. Dalam
logoterapi masalah adalah ujian hidup yang menurut Frankl harus dihadapi dengan
keberanian dan kesabaran. Yakni keberanian untuk membiarkan masalah ini
sementara waktu tak terpecahkan, dan kesabaran untuk tidak menyerah dan
mengupayakan penyelesaian.
Peran Terapis
Frankl (1959)
menjabarkan peran terapis sebagai memperluas dan memperlebar lapangan visual
pasien sehingga spektrum keseluruhan dari makna dan nilai-nilai menjadi
disadari dan dapat aiamati oleh pasien.
Frankl menandaskan bahwa
fungsi terapis bukanlah menyampaikan kepada klien apa makna hidup yang harus
diciptakannnya, melainkan menggungkapkan bahwa klien bisa menemukan makna,
bahkan juga dari penderitaan, karena penderitaan manusia bisa diubah menjadi
prestasi melalui sikap yang diambilnya dalam menghadapi penderitaan itu.
Teknik-Teknik Terapi
Victor Frankl dikenal
sebagai terapis yang memiliki pendekatan klinis yang detail. Ada dua teknik
yang dikenal yaitu teknik intensi paradoksal dan de-refleksi
Intensi Paradoksal
Intensi paradoksal, yang
mampu menyelesaikan lingkaran neurotis yang disebabkankecemasan anti
sipatori dan hiper-intensi. Intensi paradoksal adalah keinginan terhadap
sesuatu yang ditakuti.
De-refleksi
Teknik terapi Frankl yang kedua adalah de-refleksi. Frankl percaya bahwa sebagian besar persoalan kejiwaan berawal dari perhatian yang terlalu terfokus pada diri sendiri. Dengan mengalihkan perhatian dari diri sendiri dan mengarahkannya pada orang lain, persoalan-persoalan itu akan hilang dengan sendirinya.
Kelebihan
Logo Terapi
Membantu individu mengatasi masalah ketidakjelasan makna dan tujuan hidup
, yang sering menimbulkan kehampaan dan kehilangan gairah hidup.
Kekurangan
Logo Terapi
Teknik Terapi yang kontradiksi terlalu
terfokus pada diri sendiri dan mengarahkannya
pada orang lain, dengan cara tersebut menganggap persoalan-persoalan itu akan hilang dengan sendirinya.
RATIONAL
EMOTIVE BEHAVIOR THERAPHY
KONSEP UTAMA
REBT dibangun
berdasarkan filosofi bahwa “ apa yang mengganggu jiwa manusia bukanlah peristiwa-peristiwa,
tetapi bagaimana manusia itu bereaksi atau berprasangka terhadap
peristiwa-peristiwa tersebut.
REBT tidak memusatkan
perhatian kepada peristiwa masa lalu
tetapi lebih berfokus pada peristiwa yang terjadi saat ini dan bagaimana reaksi
terhadap peristiwa tersebut.
REBT percaya, manusia
mempunyai pilihan, mampu mengontrol ide-idenya, sikap, perasaan dan tindakannya
serta mampu menyususn kehidupannya menurut pilihannya sendiri
REBT didasari asumsi
bahwa manusia itu dilahirkan dengan potensi rasional dan irasional. Manusia
berperilaku tertentu karena ia percaya harus bertindak dengan cara itu,.
Gangguan irasional terletak pada keyakinan irasional. Berpikir dan emosi adalah
dua proses yang saling terikat. Kecemasan bukanlah irasional tetapi sebagai
ketidaktepatan perasaan yang dibangun secara luas dari ide-ide rasional.
Salah satu konstribusi
Ellis yang paling abadi dan sangat berguna secara klinis adalah Model ABCDE.
Model ini untuk memahami dan mencatat dampak kognisi pada emosi. Dengan
menciptakan model ini, Ellis membingkai aspek-aspek esensial terapi kognitif ke
dalam sebuah akronim yang mudah diakses, yang memungkinkan penggunaannya oleh
ribuan terapis dan klien.
Model ABCDE: A (Activing Event) peristiwa pengaktif. B (Belief) keyakinan, C (emotional consequence). D (dispute) perdebatan. E (effective new belief)
Menurut Ellis keyakinan
irasional “ beracun” karena berfungsi sebagai tuntutan dogmatic yang kaku yang
kita terapkan pada diri sendiri. Disamping itu kita cenderung menyertai
tuntutan ini dengan estimasi yang terlalu tinggi tentang konsekuensi kegagalan.
Secara spesifik keyakinan irasional (B) adalah target perdebatan. Model Ellis
bukan hanya membantu klien mengidentifikasi keyakinan-keyakinan irasional (B)
yang mungkin memperantarai antara kejadian dalam hidupnya (A) dan perasaan yang
kemudian dirasakannya (C), tetapi juga mendesak klien untuk menentang
keyakinan yang menyebabkan C dan
menggantinya dengan sesuatu yang lebih rasional.
Di dalam model Ellis ,
perdebatan (D) sering berbentuk pertanyaan atau pertanyaan tajam yang menyerang
sifat irasional keyakinan atau label yang dapat dilekatkan pada keyakinan
irasional intuk mendeskreditkannya. Jika efektif ia akan member kesempatan
kepada klien untuk menggantikan keyakinan awalnya yang tidak rasional dengan
sebuah keyakinan yang efektif (E), yang lebih rasional dan menghasilkan
perasaan yang tidak terlalu meresahkan.
Kelebihan REBT
Manusia mempunyai
pilihan, mampu mengontrol ide-idenya, sikap, perasaan dan tindakannya serta
mampu menyusun kehidupannya menurut pilihannya sendiri.
REBT membingkai
aspek-aspek esensial terapi kognitif ke dalam sebuah akronim yang mudah diakses.
Kekurangan REBT
Berpikir dan emosi
adalah dua proses yang saling terikat. Kecemasan bukanlah irasional tetapi
sebagai ketidaktepatan perasaan yang dibangun secara luas dari ide-ide rasional.
Terapis membutuhkan keahlian dan ketepatan dalam memprediksi masalah yang
dihadapi oleh klien, apakah masalah yang dihadapi rasional atau trrasional.
TERAPI
BEHAVIORAL
TUJUAN PSIKOTERAPI BEHAVIORAL
Tujuan utama psikoterapi
behavioral adalah perubahan perilaku yang dapat diobservasi. Tujuan ini
berlawanan dengan tujuan psikodinamik dan humanistic yang menekankan pada
proses-proses mental internal.
Penekanan pada Empirisme
Terapis behavioral
berpendapat bahwa kajian tentang perilaku manusia normal atau abnormal,
seharusnya bersifat ilmiah.
Teori-teori tentang
penanganan masalah perilaku seharusnya dinyatakan sebagai hipotesis yang dapat
diuji, dengan cara ini teori dapat didukung, dibantah, dimodifikasi dan
diuji-ulang.
Terapi behavioral
melibatkan pengumpulan data, terapis behavioral secara regular mengumpulkan
data empiris tentang klien mereka, sebagai ukuran dasar awal terapi, diberbagai
titik selama terapi untuk melakukan evaluasi
perubahan-perubahan dari sesi ke sesi, dan diakhir terapi sebagai
penilaian final terhadap perubahan.
Mendefinisikan Masalah Secara
Behavioral
Menurut terapis
behavioral, perilaku klien bukan gejala masalah yang mendasarinya tetapi
perilaku itulah masalahnya.
Manfaat dari
mendefinisikan masalah akan mempermudah dalam mengidentifikasikan perilaku
target dan mengukur perubahan-perubahan di dalam terapi.
Mengukur Perubahan yang Dapat Diamati
Bagi terapis behavioral,
mengukur hasil terapi melalui perubahan yang dapat diamati akan sejalan dengan
mendefinisikan masalah klien secara perilaku sejak dari awal. Artinya,
sementara jenis-jenis terapis lain mungkin
mengukur perubahan-perubahan di
dalam diri klien secara inferensial, terapis behavioral menggunakan
indikasi-indikasi kemajuan yang tidak ambigu.
DUA PENGONDISIAN
Terapis Behavioral
membedakan pengondisian menjadi dua jenis utama: klasik dan instrumental.
Pengkodisian Klasik
Pengkondisian klasik
adalah tipe belajar yang agak pasif. Sejumlah variabel yang dapat mempengaruhi
perilaku ada di seputar proses pengondisisn klasik. Sejauh mana seseorang
memperlihatkan perilaku yang telah dikondisikan secara klasik akan bergantung
pada sejauh mana terjadinya generalisasi dan diskriminasi. Generalisasi terjadi
jika respon terkondisikan diakibatkan oleh stimulus yang serupa, tetapi tidak
benar-benar sama, dengan stimulus terkondisikan. Diskriminasi terjadi jika
respon terkondisikan tidak dibangkitkan oleh stimulus semacam itu.
Pengkondisian Instrumental
Pengkondisian
instrumental (operant conditioning)
terjadi jika organisme “beroperasi” di lingkungan, melihat akibat dari suatu
perilaku, dan memasukkan konsekuensi-konsekuensi tersebut ke dalam keputusan tentang
perilaku yang akan datang. Secara sederhana, prinsip dasar pendekatan operant adalah bahwa perilaku adalah
fungsi dari konsekuensi-konsekuensinya
Pengkondisian
instrumental adalah gaya belajar yang lebih aktif dibandingkan pengkondisian
klasik. Agar pengondisisn instrumental terjadi, organisme harus mengambil
tindakan tertentu.
TEKNIK-TEKNIK TERAPI YANG BERDASARKAN
PENGKONDISIAN KLASIK
Terapi Paparan
Secara sedarhana, terapi
paparan adalah versi “ hadapi ketakutanmu”. Fobia menurut terapis behavioral
sebaiknya dipahami sebagai hasil pengkondisisn klasik: sebuah stimulus tertentu
(laba-laba, ketinggian, gelap dan lain-lain) dipasangkan dengan sebuah hasil
aversif (kecemasan, kesakitan). Pemasangan ini bisa memperlemah dan akhirnya
ditiadakan jika klien mengalami salah satunya tanpa mengalami yang lainnya. Terapi
paparan paling lazim digunakan pada klien-klien yang mengalami fobia dan
gangguan kecemasan lainnya.
Disensitisasi Sistematis
Disensitisasi
sistematis, sebuah penanganan yang digunakan terutama untuk fobia dan gangguan
kecemasan lainnya. Disensitisasi sistematis melibatkan pemasangan-ulang
(pengondisian balik) objek yang ditakuti dengan sebuah respon baru yang tidak
sesuai dengan kecemasannya. Jika disensitisasi sistematis berhasil, objek yang
ditakuti dipasangkan dengan respon baru yang menggantikan dan memblokir respon
yang ditakuti. Yang paling sering, respon baru yang menggantikan dan memblokir
respon takut adalah relaksasi.
Latihan Ketegasan
Latihan ketegasan adalah
aplikasi spesifik pengondisian klasik yang menargetkan kecemasan sosial klien.
Latihan ini paling cocok bagi orang-orang yang perilaku sosialnya pemalu,
aprehensif atau tidak efektif memiliki dampak negative pada hidupnya.
TEKNIK-TEKNIK TERAPI YANG BERDASARKAN
PENGKONDISIAN INSTRUMENTAL.
Manajemen Kontingensi
Kontingensi adalah
pernyataan “jika…maka…” yang menurut terapis behavioral, mengatur perilaku
kita. Jadi, jika tujuannya untuk mengubah perilaku, salah satu cara kuat untuk
melakukannya adalah dengan menubah kontingensi yang mengontrolnya. Psikoterapis
behavioral menyebut proses ini sebagai manajemen kontingensi.
Penguatan dan Hukuman
Konsekuensi sebuah
perilaku…maka” dapat dikategorikan sebagai penguatan atau hukuman.
Penguatan didefinisikan
sebagai konsekuensi tertentu yang membuat sebuah perilaku lebih berkemungkinan
untuk terjadi lagi di masa yang akan mendatang. Sebaliknya, hukuman
didefinisikan sebagai konsekuensi terentu yang membuat sebuah perilaku kurang
berkemungkinan untuk terjadi lagi di masa yang akan datang.
Penguatan dan hukuman masing-masing
dibagi lebih lanjut menjadi positif dan negative. Penguatan positif berarti “
mendapatkan sesuatu yang baik” (misalnya makanan), sementara penguatan negative
berarti “kehilangan sesuatu yang buruk” (misalnya rasa sakit). Hukuman positif
berarti “ mendapatkan sesuatu yang buruk” sementara hukuman negative berarti
“kehilangan sesuatu yang baik”
Terapi Aversif
merepresentasikan sebuah contoh penggunaan klinis hukuman, misalnya sebuah
perilaku yang tidak diinginkan (misalnya minum alcohol) menghasilkan sebuah
stimulus aversif (mual).
Ektingensi
Ektingensi mengacu pada
penghilangan sebuah penguatan yang diharapkan, yang menghasilkan penurunan
frekuensi sebuah perilaku.
Ekonomi Token
Ekonomi token adalah
sebuah pengaturan ketika klien mengumpulkan token untuk berpartisipasi di dalam
perilaku-perilaku target yang telah ditentukansebelumnya. Token ini dapat
ditukarkan untuk sejumlah penguatan misalnya makanan, permainan, hak istimewa.
Di dalam beberapa ekonomi token, klien juga bisa kehilangan token jika terlibat
perilaku yang tidak diinginkan. Salah satu kekuatan ekonomi token adalah
fleksibilitasnya untuk berbagai klien.
Kelebihan Psikoterapi Behavioral
Perubahan perilaku yang
dapat diobservasi, fleksibilitas bagi klien sehingga bisa diterapkan dalam
banyak situasi.
Kemajuan dari
keberhasilan sisi terapis dapat diamati
dengan mudah dan terkontrol.
Kekurangan Psikoterapi Behavioral
Mengesampingkan kognitif
manusia, terlalu menekankan pada empirisme
TERAPI
KELOMPOK
Penekanan Interpersonal
Terapi kelompok ini
sangat menekankan interaksi interpersonal. Intervensi terapis kelompok sering
menyoroti bagaimana para anggota kelompok saling merasakan, berkomunikasi dan
membentuk hubungan satu sama lain. Terapi kelompok memungkinkan jaringan
hubungan yang jauh lebih kompleks untuk berkembang. Didalam terapi kelompok,
seorang klien membentuk hubungan bukan hanya dengan seorang terapis, tetapi
melibatkan juga orang-orang yang ada di ruang terapi. Terapi kelompok
melibatkan respons interpersonal yang lebih besar.
Faktor-Faktor Tarapeutik dalam Terapi
Kelompok
Yalom (2015)
mendeskripsikan 11 faktor terapeutik spesifik yang bermanfaat bagi klien:
- Pembangkitan Harapan
- Universalitas
- Memberikan Informasi
- Altruisme
- Rekapitulasi kolektif kelompok keluarga primer
- Pengembangan teknik-teknik bersosialisasi
- Perilaku Imitatif
- Pembelajaran interpersonal
- Kohesivitas kelompok
- Katarsis
Isu-Isu Praktis dalam Terapi Kelompok
Keanggotaan kelompok
Kelompok bisa bersifat
terbuka atau tertutup.
Kelompok anggota terbuka
memungkinkan para anggotanya untuk masuk atau keluar dari kelompok kapan pun.
Kelompok anggota
tertutup, seluruh anggota memulai dan mengakhiri terapi bersama-sama tanpa
penambahan anggota baru selama prosesnya. Di dalam tipe kelompok ini,
kohesivitas dapat dibangun dan dipertahankan.
Mempersiapkan Klien untuk Terapi
Kelompok
Sebagian klien mungkin
keliru meyakini bahwa mereka akan serta merta dipaksa untuk mengungkapkan
detil-detil intim pribadi mereka kepada orang asing, atau bahwa interaksi
dengan orang lain dengan berbagai masalah psikologis akan memperburuk gejala
mereka (Mac Kenzie 2002).
Di dalam
pertemuan-pertemuan individual pra kelompok, terapis kelompok dapat meyakinkan
klien bahwa gagasan-gagasan semacam itu salah dengan memberika data yang
realistis, member semangat seberapa baik terapi mereka bekarja untuk para klien
Isu-Isu
Etik dalam Terapi Kelompok
Kerahasiaan
Kerahasiaan adalah isu-isu etik yang secara khusus relevan dengan terapi
kelompok.
Konsekuensi seorang klien yang melanggar kerahasiaan klien secar serius
dapat mempengaruhi kehidupan
professional atau pribadi klien yang kerahasiannya dilanggar. Disamping itu,
pelanggaran semacam ini membuat kelompok terapi tampak tidak aman dan tidak
layak dipercaya, yang mengurangi pengungkapan diri oleh klien-klien lain.
Penting bagi terapis kelompok untuk berusaha maksimal untuk mencegah
pelanggaran kerahasiaan semacam itu. Disamping meminta klien untuk meminta
klien untuk berkomitmen pada kerahasiaan selama persiapan pra-kelompok,
tindakan preventif terapis dapat termasuk mencontohkan perilaku yang tak
tercela terkait kerahasiaan, sering mengingatkan tentang kerahasiaan, dan
diskusi kelompok tentang setiap pelanggaran kerahasiaan yang benar-benar
terjadi (Brabender dkk.,2004;Knauss & Knauss, 2012).
Kelebihan
Terapi Kelompok
Terapi kelompok ini
sangat menekankan interaksi interpersonal. Intervensi terapis kelompok sering
menyoroti bagaimana para anggota kelompok saling merasakan, berkomunikasi dan
membentuk hubungan satu sama lain. Terapi kelompok memungkinkan jaringan
hubungan yang jauh lebih kompleks untuk berkembang.
Kekurangan Terapi Kelompok
Kerahasiaan adalah isu-isu etik yang secara khusus relevan dengan terapi
kelompok.
Konsekuensi seorang klien yang melanggar kerahasiaan klien secar serius
dapat mempengaruhi kehidupan
professional atau pribadi klien yang kerahasiannya dilanggar. Disamping itu,
pelanggaran semacam ini membuat kelompok terapi tampak tidak aman dan tidak
layak dipercaya, yang mengurangi pengungkapan diri oleh klien-klien lain.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar