Sabtu, 18 Juni 2016

Tugas 4 : Review Psikoterapi



REVIEW TEKNIK TERAPI

Psikoterapi  Psikoanalisa

Tujuan Terapi Psikoanalisa
  • Membentuk kembali struktur karakter kepribadian individu dengan jalan membuat kesadaran yang tidak disadari di dlam diri kien.
  • Focus pada upaya mengalami kembali pengalaman masa anak-anak. 
Fungsi dan Peranan Terapis 
  • Terapis membiarkan dirinya anonim dan hanya berbagi sedikit perasaan dan pengalaman sehingga klien memproyeksikan dirinya kepada terapis.
  • Peran terapis
  • Membantu klien dalam mencapai kesadaran diri, kejujuran, keefektifan dalam melakukan hubungan personal dalam menangani kecemasan secara realistis.
  • Membangun hubungan kerja dengan klien, dengan banyak mendengar dan menafsirkan.
  • Terapis memberikan perhatian khusus pada penolakan-penolakan klien.
  • Mendengarkan kesenjangan-kesenjangan dan pertentangan - pertentangan pada cerita klien.
Hubungan Terapis dan Klien
  • Hubungan dikonseptualkan dalam proses tranferensi yang menjadi inti terapi psikoanalisa.
  • Transferensi mendorong klien untuk mengalamtkan pada terapis "urusan yang belum selesai" yang terdapat dalam hubungan klien di masa lalu dengan orang yang berpengaruh.
  • Sejumlah perasaan klien timbul konflik-konflik seperti: percaya lawan tak percaya, cinta lawan benci.
  • Transferensi yang terjadi pada saat klien membangkitkan kembali konflik masa dininya yang menyangkut cinta, seksualitas, kebencian, kecemasan dan dendamnya.
  • Jika analis mengembangkan pandangan yang tidak selaras yang berasal dari konflik-konflik sendiri maka akan terjadi kontra transferensi. Bentuk kontra transferensiperasaan tidak suka/ keterlibatan lebih jauh. Kontra transferensi ini dapat mengganggu kemajuan proses terapi
Teknik  - Teknik Terapi Psikoanalisa
Teknik-teknik dalam psikoanalisa disesuaikan untuk meningkatkan kesadaran, memperoleh pemahaman intelektual atas tingkah laku klien, serta untuk memahami makna dari beberapa gejala. Kemajuan terapeutik diawali dengan pembicaraan klien ke arah katarsis, pemahaman, hal-hal yang tidak disadari sampai dengan tujuan pemahaman masalah-masalah intelektual dan emosional.
Corey (1995) teknik-teknik psikonalisa:
  1. Asosiasi Bebas.
  2. Penafsiran.
  3. Analisis Mimpi.
  4. Resistensi.
  5. Transferensi.

Kelebihan Terapi Psikoanalisa
  • Membantu klien dalam mencapai kesadaran diri, kejujuran, keefektifan dalam melakukan hubungan personal dalam menangani kecemasan secara realistis.
  • Membentuk kembali struktur karakter kepribadian individu dengan jalan membuat kesadaran yang tidak disadari di dalam diri kien.
Kekurangan Terapi Psikoanalisa.
  • Focus pada upaya mengalami kembali pengalaman masa anak-anak dan ketidaksadaran.
  • Terjadi kontra transferensi. Bentuk kontra transferensi perasaan lebih jauh. Kontra transferensi ini dapat mengganggu kemajuan proses terapi


Psikoterapi Eksistensial Humanistik

Pendekatan eksistensial-humanistik menekankan renungan-renungan filosofis tentang apa artinya menjadi manusia yang utuh. Terapi eksistensial, terutama berpijak pada premis bahwa manusia tidak bisa melarikan diri dari kebebasan dan bahwa kebebasan dan tanggung jawab itu saling berkaitan.

Konsep Dasar Pandangan Eksistensial Humanistik
Psikologi eksistensial-humanistik berfokus pada kondisi manusia. Pendekatan ini terutama adalah suatu sikap yang menekankan pada pemahaman atas manusia. Pendekatan terapi eksistensial suatu pendekatan yang mencakup terapi-terapi yang berlainan yang kesemuanya berlandaskan konsep-konsep dan asumsi-asumsi tentang manusia.

Unsur-unsur Terapi Eksistensial Humanistik

Tujuan-Tujuan Terapeutik 
Terapi eksistensial bertujuan agar klien mengalami keberadaannya secara otentik dengan menjadi sadar atas keberadaan dan potensi-potensinya serta sadar bahwa ia dapat membuka diri dan bertindak berdasarkan kemampuannya.

Bugental (1965) menyebutkan keontentikan sebagai "unsur utama" psikoterapi  nilai eksistensial pokok. Terdapat tiga karakteristik dari keberadaan otentik:
  1. Menyadari sepenuhnya keadaan sekarang
  2. Memilih bagaimana hidup pada saat sekarang 
  3. Memikul tanggung jawab untuk memilih.
Klien yang neurotik adalah orang yang kehilangan rasa ada. Tujuan terapi adalah membantunya agar ia memperoleh atau menemukan kembali kemanusiaannya yang hilang.

Fungsi dan Peran Terapis

Karena menekankan pada pengalaman klien sekarang, para terapis eksistensial menunjukkan keluasan dalam menggunakan metode-metode , dan prosedur yang digunakan oleh mereka bisa bervariasi tidak hanya dari satu klien ke lien lainnya, tetapi juga dari satu ke lain fase terapi yang dijalani oleh klien yang sama.

Buhler dan Allen (1972) para ahli psikolog humanistik memiliki orientasi bersama yang mencakup hal-hal berikut:
  1. Mengakui pentingnya pendekatan dari pribadi ke pribadi.
  2. Menyadari peran dan tanggung jawab terapi.
  3. Mengakui sifat timbal balik dari hubungan terapeutik.
  4. Berorientasi pada pertumbuhan.
  5. Menekankan keharusan terapis terlibat dengan klien sebagai suatu pribadi yang menyeluruh.
  6. Mengakui bahwa putusan dan pilihan akhir terletak di tangan klien.

Pengalaman Klien dalam Terapi
Klien mampu secara subjektif persepsi-persepsi tentang dunianya. Dia harus aktif dalam proses terapeutik sebab dia harus memutuskan ketakutan-ketakutan, perasaan-perasaan berdosa, dan kecemasan-kecemasan apa yang akan dieksplorasinya.

Hubungan Terapis dengan Klien  
Hubungan terapeutik sangat penting bagi terapis eksistensial. Penekanan diletakkan pada pertemuan antar manusia dan perjalanan bersama. Isi pertemuan terapi adalah pengalaman klien sekarang, bukan "masalah" klien. Hubungan dengan orang lain dalam kehadiran yang otentik difokuskan pada "disini dan sekarang". Masa lampau dan masa depan hanya penting bila waktunya berhubungan langsung.

Teknik-Teknik Terapi 
Metode yang berasal dari terapi Gestalt dan Analis Transaksional sering digunakan, dan sejumlah  prinsip dan prosedur psikoanalisis bisa diintegrasikan ke dalam pendekatan eksistensial-humanistik.


Kelebihan Psikoterapi Eksistensial Humanistik
Klien menjadi sadar atas keberadaan dan potensi-potensinya serta dan dapat membuka diri serta bertindak berdasarkan kemampuannya.
Terapis membantu klien  agar ia memperoleh atau menemukan kembali kemanusiaannya yang hilang.

Kekurangan Psikoterapi Eksisstensial Humanistik
Masa lampau dan masa depan hanya penting bila waktunya berhubungan langsung.
Klien harus aktif dalam proses terapeutik sebab dia harus memutuskan ketakutan-ketakutan, perasaan-perasaan berdosa, dan kecemasan-kecemasan apa yang akan dieksplorasinya.


Psikoterapi Person Centered Therapy

Pendekatan person-centered adalah cabang khusus dari terapi humanistik yang menggarisbawahi tindakan mengalami klien berikut dunia subjektif dan fenomenalnya.

Ciri-ciri Person Centered
Ciri-ciri pendekatan person centered dari pendekatan lainnya:
  • Difokuskan pada tanggung jawab dan kesanggupan klien untuk menemukan cara-cara menghadapi kenyataan secara lebih penuh.
  • Menekankan dunia fenomenal klien. Dengan empati yang cermat dan dengan usaha untuk memahami kerangka acuan klien , terapis memberikan perhatian utama pada persepsi diri klien dan persepsinya terhadap dunia.
  • Berdasarkan konsep bahwa hasrat untuk bergerak menuju kematangan psikologis berakar dalam manusia, prinsip terapi peson centered diterapkan pada individu yang fungsi psikologisnys berada pada taraf yang relatif normal maupun individu yang derajat penyimpangan psikologisnya lebih besar.
  • Psikoterapi hanyalah salah satu contoh dari hubungan pribadi yang konstruktif.
  • Hubungan  dengan konselor yang selaras, bersikap menerima dan empatik yang bertindak sebagai agen perubahan terapeutik bagi klien.
  • Hipotesis bahwa ada sikap-sikap tertentu pada pihak terapis (ketulusan, kehangatan, penerimaan yang nonposesif, dan empati yang akurat) yang membentuk kondisi-kondisi yang diperlukan dan memadai bagi keefektifan terapeutik pada klien.
  •  Fungsi terapis adalah tampil langsung dan bisa dijangkau oleh klien serta memusatkan perhatian pada pengalaman disini dan sekarang yang tercipta melalui hubungan antara klien dan terapis.
  • Teori  person-centered terapi suatu teori yang tumbuh melalui observasi-observasi  konseling bertahun-tahun dan yang secara sinambung berubah sejalan dengan peningkatan pemahaman terhadap manusia dan terhadap proses terapeutik yang dihasilkan oleh penelitian-penelitian baru.

Unsur-Unsur Terapi Person-Centered 

Tujuan Terapeutik

Tujuan dasar terapi person-centered adalah menciptakan iklim yang kondusif bagi usaha membantu klien untuk menjadi seorang pribadi yang berfungsi penuh.
                                          
Fungsi dan Peran Terapis

Peran terapis berakar pada cara-cara keberadaannya dan sikap-sikapnya, bukan pada teknik yang dirancang untuk menjadikan klien "berbuat sesuatu". Terapis menggunakan dirinya sendiri sebagai alat untuk mengubah.
Fungsi terapis adalah membangun suatu iklim terapeutik yang menunjang pertumbuhan klien.
Ada tiga ciri atau sikap pribadi terapis yang membentuk bagian dengan hubungan terapeutik
  1. Keselarasan atau kesejatian, terapis tampil nyata, terintegrasi, bersikap spontan, sanggup menyatakan kemarahan, kekecewaan, ketertarikan dll.
  2. Perhatian positif tak bersyarat, perhatian yang mendalam dan tulus tidak dicampuri oleh evaluasi atau penilaian perasaan,  emikiran dan tingkah laku klien sebagai baik dan buruk
  3. Pengertian empatik yang akurat, mengerti secara peka perasaan dan pengalaman klien.

Teknik-Teknik Terapi
Teknik-tekniknya adalah pengungkapan dan pengkomunikasian penerimaan, respek, dan pengertian, serta berbagai upaya dengan  klien dalam mengembangkan kerangka acuan internal dengan memikirkan, merasakan dan mengeksplorasi.



Kelebihan Psikoterapi Person Centered Terapi
          Dengan empati yang cermat dan dengan usaha untuk memahami kerangka acuan klien, terapis memberikan perhatian utama pada persepsi diri klien.
          Perhatian positif tanpa syarat, empati,tulus dari terapis kepada klien.

Kekurangan Psikoterapi Person Centered Terapi
          Person Centered Terapi difokuskan pada tanggung jawab dan kesanggupan klien untuk menemukan cara-cara menghadapi kenyataan secara lebih penuh. Hal tersebut  tidak dapat dilakukan oleh semua klien.
          Dibutuhkan skill terapis yang berhubungan dengan empati, penerimaan positif  tanpa syarat. 


LOGO TERAPI

Unsur-Unsur Logoterapi 

Kekurangan makna hidup, bagi Frankl merupakan suatu neourosis. Frankl menyebut kondisi noogenic neurosis, suatu keadaan yang yang bercirikan tanpa arti, tanpa maksud, tanpa tujuan, dan hampa. Orang yang tidak merasa kehidupan yang penuh dan gairah maka orang semacam itu berada dalam kekosongan eksistensial.

Tujuan Terapi

Logo terapi adalah suatu metode psikoterapi untuk menangani orang-orang yang kehidupannya kehilangan arti, membantu individu mengatasi masalah ketidakjelasan makna dan tujuan hidup , yang sering menimbulkan kehampaan dan kehilangan gairah hidup. Dalam logoterapi masalah adalah ujian hidup yang menurut Frankl harus dihadapi dengan keberanian dan kesabaran. Yakni keberanian untuk membiarkan masalah ini sementara waktu tak terpecahkan, dan kesabaran untuk tidak menyerah dan mengupayakan penyelesaian.

Peran Terapis

Frankl (1959) menjabarkan peran terapis sebagai memperluas dan memperlebar lapangan visual pasien sehingga spektrum keseluruhan dari makna dan nilai-nilai menjadi disadari dan dapat aiamati oleh pasien.

Frankl menandaskan bahwa fungsi terapis bukanlah menyampaikan kepada klien apa makna hidup yang harus diciptakannnya, melainkan menggungkapkan bahwa klien bisa menemukan makna, bahkan juga dari penderitaan, karena penderitaan manusia bisa diubah menjadi prestasi melalui sikap yang diambilnya dalam menghadapi penderitaan itu.
 
Teknik-Teknik Terapi
Victor Frankl dikenal sebagai terapis yang memiliki pendekatan klinis yang detail. Ada dua teknik yang dikenal yaitu teknik intensi paradoksal dan de-refleksi

Intensi Paradoksal
 
Intensi paradoksal, yang mampu menyelesaikan lingkaran neurotis yang  disebabkankecemasan anti sipatori dan hiper-intensi. Intensi paradoksal adalah keinginan terhadap sesuatu yang ditakuti. 

De-refleksi

Teknik terapi Frankl yang kedua adalah de-refleksi. Frankl percaya bahwa sebagian besar persoalan kejiwaan berawal dari perhatian yang terlalu terfokus pada diri sendiri. Dengan mengalihkan perhatian dari diri sendiri dan mengarahkannya pada orang lain, persoalan-persoalan itu akan hilang dengan sendirinya. 



Kelebihan Logo Terapi
Membantu individu mengatasi masalah ketidakjelasan makna dan tujuan hidup , yang sering menimbulkan kehampaan dan kehilangan gairah hidup.

Kekurangan Logo Terapi
Teknik Terapi yang kontradiksi terlalu terfokus pada diri sendiri dan  mengarahkannya pada orang lain,  dengan cara tersebut menganggap persoalan-persoalan itu akan hilang dengan sendirinya.

RATIONAL EMOTIVE BEHAVIOR THERAPHY

KONSEP UTAMA

REBT dibangun berdasarkan filosofi bahwa “ apa yang mengganggu jiwa manusia bukanlah peristiwa-peristiwa, tetapi bagaimana manusia itu bereaksi atau berprasangka terhadap peristiwa-peristiwa tersebut.

REBT tidak memusatkan perhatian kepada peristiwa  masa lalu tetapi lebih berfokus pada peristiwa yang terjadi saat ini dan bagaimana reaksi terhadap peristiwa tersebut.

REBT percaya, manusia mempunyai pilihan, mampu mengontrol ide-idenya, sikap, perasaan dan tindakannya serta mampu menyususn kehidupannya menurut pilihannya sendiri

REBT didasari asumsi bahwa manusia itu dilahirkan dengan potensi rasional dan irasional. Manusia berperilaku tertentu karena ia percaya harus bertindak dengan cara itu,. Gangguan irasional terletak pada keyakinan irasional. Berpikir dan emosi adalah dua proses yang saling terikat. Kecemasan bukanlah irasional tetapi sebagai ketidaktepatan perasaan yang dibangun secara luas dari ide-ide rasional.

Salah satu konstribusi Ellis yang paling abadi dan sangat berguna secara klinis adalah Model ABCDE. Model ini untuk memahami dan mencatat dampak kognisi pada emosi. Dengan menciptakan model ini, Ellis membingkai aspek-aspek esensial terapi kognitif ke dalam sebuah akronim yang mudah diakses, yang memungkinkan penggunaannya oleh ribuan terapis dan klien.

Model ABCDE: A (Activing Event) peristiwa pengaktif. B (Belief) keyakinan, C (emotional consequence). D (dispute) perdebatan. E (effective new belief)
Menurut Ellis keyakinan irasional “ beracun” karena berfungsi sebagai tuntutan dogmatic yang kaku yang kita terapkan pada diri sendiri. Disamping itu kita cenderung menyertai tuntutan ini dengan estimasi yang terlalu tinggi tentang konsekuensi kegagalan. Secara spesifik keyakinan irasional (B) adalah target perdebatan. Model Ellis bukan hanya membantu klien mengidentifikasi keyakinan-keyakinan irasional (B) yang mungkin memperantarai antara kejadian dalam hidupnya (A) dan perasaan yang kemudian dirasakannya (C), tetapi juga mendesak klien untuk menentang keyakinan  yang menyebabkan C dan menggantinya dengan sesuatu yang lebih rasional.
Di dalam model Ellis , perdebatan (D) sering berbentuk pertanyaan atau pertanyaan tajam yang menyerang sifat irasional keyakinan atau label yang dapat dilekatkan pada keyakinan irasional intuk mendeskreditkannya. Jika efektif ia akan member kesempatan kepada klien untuk menggantikan keyakinan awalnya yang tidak rasional dengan sebuah keyakinan yang efektif (E), yang lebih rasional dan menghasilkan perasaan yang tidak terlalu meresahkan.



Kelebihan REBT
Manusia mempunyai pilihan, mampu mengontrol ide-idenya, sikap, perasaan dan tindakannya serta mampu menyusun kehidupannya menurut pilihannya sendiri.
REBT membingkai aspek-aspek esensial terapi kognitif ke dalam sebuah akronim yang mudah diakses.

Kekurangan REBT
Berpikir dan emosi adalah dua proses yang saling terikat. Kecemasan bukanlah irasional tetapi sebagai ketidaktepatan perasaan yang dibangun secara luas dari ide-ide rasional. Terapis membutuhkan keahlian dan ketepatan dalam memprediksi masalah yang dihadapi oleh klien, apakah masalah yang dihadapi rasional atau trrasional.


TERAPI BEHAVIORAL

TUJUAN PSIKOTERAPI BEHAVIORAL
Tujuan utama psikoterapi behavioral adalah perubahan perilaku yang dapat diobservasi. Tujuan ini berlawanan dengan tujuan psikodinamik dan humanistic yang menekankan pada proses-proses mental internal.

Penekanan pada Empirisme

Terapis behavioral berpendapat bahwa kajian tentang perilaku manusia normal atau abnormal, seharusnya bersifat ilmiah.
Teori-teori tentang penanganan masalah perilaku seharusnya dinyatakan sebagai hipotesis yang dapat diuji, dengan cara ini teori dapat didukung, dibantah, dimodifikasi dan diuji-ulang.
Terapi behavioral melibatkan pengumpulan data, terapis behavioral secara regular mengumpulkan data empiris tentang klien mereka, sebagai ukuran dasar awal terapi, diberbagai titik selama terapi untuk melakukan evaluasi  perubahan-perubahan dari sesi ke sesi, dan diakhir terapi sebagai penilaian final terhadap perubahan.

Mendefinisikan Masalah Secara Behavioral

Menurut terapis behavioral, perilaku klien bukan gejala masalah yang mendasarinya tetapi perilaku itulah masalahnya.
Manfaat dari mendefinisikan masalah akan mempermudah dalam mengidentifikasikan perilaku target dan mengukur perubahan-perubahan di dalam terapi.

Mengukur Perubahan yang Dapat Diamati

Bagi terapis behavioral, mengukur hasil terapi melalui perubahan yang dapat diamati akan sejalan dengan mendefinisikan masalah klien secara perilaku sejak dari awal. Artinya, sementara jenis-jenis terapis lain mungkin  mengukur  perubahan-perubahan di dalam diri klien secara inferensial, terapis behavioral menggunakan indikasi-indikasi kemajuan yang tidak ambigu.

DUA PENGONDISIAN
Terapis Behavioral membedakan pengondisian menjadi dua jenis utama: klasik dan instrumental.

Pengkodisian Klasik

Pengkondisian klasik adalah tipe belajar yang agak pasif. Sejumlah variabel yang dapat mempengaruhi perilaku ada di seputar proses pengondisisn klasik. Sejauh mana seseorang memperlihatkan perilaku yang telah dikondisikan secara klasik akan bergantung pada sejauh mana terjadinya generalisasi dan diskriminasi. Generalisasi terjadi jika respon terkondisikan diakibatkan oleh stimulus yang serupa, tetapi tidak benar-benar sama, dengan stimulus terkondisikan. Diskriminasi terjadi jika respon terkondisikan tidak dibangkitkan oleh stimulus semacam itu.

Pengkondisian Instrumental
Pengkondisian instrumental (operant conditioning) terjadi jika organisme “beroperasi” di lingkungan, melihat akibat dari suatu perilaku, dan memasukkan konsekuensi-konsekuensi tersebut ke dalam keputusan tentang perilaku yang akan datang. Secara sederhana, prinsip dasar pendekatan operant adalah bahwa perilaku adalah fungsi dari konsekuensi-konsekuensinya
Pengkondisian instrumental adalah gaya belajar yang lebih aktif dibandingkan pengkondisian klasik. Agar pengondisisn instrumental terjadi, organisme harus mengambil tindakan tertentu.

TEKNIK-TEKNIK TERAPI YANG BERDASARKAN PENGKONDISIAN KLASIK

Terapi Paparan
Secara sedarhana, terapi paparan adalah versi “ hadapi ketakutanmu”. Fobia menurut terapis behavioral sebaiknya dipahami sebagai hasil pengkondisisn klasik: sebuah stimulus tertentu (laba-laba, ketinggian, gelap dan lain-lain) dipasangkan dengan sebuah hasil aversif (kecemasan, kesakitan). Pemasangan ini bisa memperlemah dan akhirnya ditiadakan jika klien mengalami salah satunya tanpa mengalami yang lainnya. Terapi paparan paling lazim digunakan pada klien-klien yang mengalami fobia dan gangguan kecemasan lainnya.

Disensitisasi Sistematis
Disensitisasi sistematis, sebuah penanganan yang digunakan terutama untuk fobia dan gangguan kecemasan lainnya. Disensitisasi sistematis melibatkan pemasangan-ulang (pengondisian balik) objek yang ditakuti dengan sebuah respon baru yang tidak sesuai dengan kecemasannya. Jika disensitisasi sistematis berhasil, objek yang ditakuti dipasangkan dengan respon baru yang menggantikan dan memblokir respon yang ditakuti. Yang paling sering, respon baru yang menggantikan dan memblokir respon takut adalah relaksasi.

Latihan Ketegasan
Latihan ketegasan adalah aplikasi spesifik pengondisian klasik yang menargetkan kecemasan sosial klien. Latihan ini paling cocok bagi orang-orang yang perilaku sosialnya pemalu, aprehensif atau tidak efektif memiliki dampak negative pada hidupnya.

TEKNIK-TEKNIK TERAPI YANG BERDASARKAN PENGKONDISIAN INSTRUMENTAL.

Manajemen Kontingensi
Kontingensi adalah pernyataan “jika…maka…” yang menurut terapis behavioral, mengatur perilaku kita. Jadi, jika tujuannya untuk mengubah perilaku, salah satu cara kuat untuk melakukannya adalah dengan menubah kontingensi yang mengontrolnya. Psikoterapis behavioral menyebut proses ini sebagai manajemen kontingensi.

Penguatan dan Hukuman
Konsekuensi sebuah perilaku…maka” dapat dikategorikan sebagai penguatan atau hukuman.
Penguatan didefinisikan sebagai konsekuensi tertentu yang membuat sebuah perilaku lebih berkemungkinan untuk terjadi lagi di masa yang akan mendatang. Sebaliknya, hukuman didefinisikan sebagai konsekuensi terentu yang membuat sebuah perilaku kurang berkemungkinan untuk terjadi lagi di masa yang akan datang.
Penguatan dan hukuman masing-masing dibagi lebih lanjut menjadi positif dan negative. Penguatan positif berarti “ mendapatkan sesuatu yang baik” (misalnya makanan), sementara penguatan negative berarti “kehilangan sesuatu yang buruk” (misalnya rasa sakit). Hukuman positif berarti “ mendapatkan sesuatu yang buruk” sementara hukuman negative berarti “kehilangan sesuatu yang baik”
Terapi Aversif merepresentasikan sebuah contoh penggunaan klinis hukuman, misalnya sebuah perilaku yang tidak diinginkan (misalnya minum alcohol) menghasilkan sebuah stimulus aversif (mual).

Ektingensi
Ektingensi mengacu pada penghilangan sebuah penguatan yang diharapkan, yang menghasilkan penurunan frekuensi sebuah perilaku.

Ekonomi Token
Ekonomi token adalah sebuah pengaturan ketika klien mengumpulkan token untuk berpartisipasi di dalam perilaku-perilaku target yang telah ditentukansebelumnya. Token ini dapat ditukarkan untuk sejumlah penguatan misalnya makanan, permainan, hak istimewa. Di dalam beberapa ekonomi token, klien juga bisa kehilangan token jika terlibat perilaku yang tidak diinginkan. Salah satu kekuatan ekonomi token adalah fleksibilitasnya untuk berbagai klien.


Kelebihan Psikoterapi Behavioral
Perubahan perilaku yang dapat diobservasi, fleksibilitas bagi klien sehingga bisa diterapkan dalam banyak situasi.
Kemajuan dari keberhasilan  sisi terapis dapat diamati dengan mudah dan terkontrol.

Kekurangan Psikoterapi Behavioral
Mengesampingkan kognitif manusia, terlalu menekankan pada empirisme

TERAPI KELOMPOK

Penekanan Interpersonal

Terapi kelompok ini sangat menekankan interaksi interpersonal. Intervensi terapis kelompok sering menyoroti bagaimana para anggota kelompok saling merasakan, berkomunikasi dan membentuk hubungan satu sama lain. Terapi kelompok memungkinkan jaringan hubungan yang jauh lebih kompleks untuk berkembang. Didalam terapi kelompok, seorang klien membentuk hubungan bukan hanya dengan seorang terapis, tetapi melibatkan juga orang-orang yang ada di ruang terapi. Terapi kelompok melibatkan respons interpersonal yang lebih besar.

Faktor-Faktor Tarapeutik dalam Terapi Kelompok

Yalom (2015) mendeskripsikan 11 faktor terapeutik spesifik yang bermanfaat bagi klien:
  1. Pembangkitan Harapan
  2. Universalitas
  3. Memberikan Informasi
  4. Altruisme
  5. Rekapitulasi  kolektif kelompok keluarga primer
  6. Pengembangan teknik-teknik bersosialisasi
  7. Perilaku Imitatif
  8. Pembelajaran interpersonal
  9. Kohesivitas kelompok 
  10.  Katarsis

Isu-Isu Praktis dalam Terapi Kelompok

Keanggotaan kelompok
Kelompok bisa bersifat terbuka atau tertutup.
Kelompok anggota terbuka memungkinkan para anggotanya untuk masuk atau keluar dari kelompok kapan pun.
Kelompok anggota tertutup, seluruh anggota memulai dan mengakhiri terapi bersama-sama tanpa penambahan anggota baru selama prosesnya. Di dalam tipe kelompok ini, kohesivitas dapat dibangun dan dipertahankan.

Mempersiapkan Klien untuk Terapi Kelompok
Sebagian klien mungkin keliru meyakini bahwa mereka akan serta merta dipaksa untuk mengungkapkan detil-detil intim pribadi mereka kepada orang asing, atau bahwa interaksi dengan orang lain dengan berbagai masalah psikologis akan memperburuk gejala mereka (Mac Kenzie 2002).
Di dalam pertemuan-pertemuan individual pra kelompok, terapis kelompok dapat meyakinkan klien bahwa gagasan-gagasan semacam itu salah dengan memberika data yang realistis, member semangat seberapa baik terapi mereka bekarja untuk para klien

Isu-Isu Etik dalam Terapi Kelompok

Kerahasiaan
Kerahasiaan adalah isu-isu etik yang secara khusus relevan dengan terapi kelompok.
Konsekuensi seorang klien yang melanggar kerahasiaan klien secar serius dapat mempengaruhi  kehidupan professional atau pribadi klien yang kerahasiannya dilanggar. Disamping itu, pelanggaran semacam ini membuat kelompok terapi tampak tidak aman dan tidak layak dipercaya, yang mengurangi pengungkapan diri oleh klien-klien lain.
Penting bagi terapis kelompok untuk berusaha maksimal untuk mencegah pelanggaran kerahasiaan semacam itu. Disamping meminta klien untuk meminta klien untuk berkomitmen pada kerahasiaan selama persiapan pra-kelompok, tindakan preventif terapis dapat termasuk mencontohkan perilaku yang tak tercela terkait kerahasiaan, sering mengingatkan tentang kerahasiaan, dan diskusi kelompok tentang setiap pelanggaran kerahasiaan yang benar-benar terjadi (Brabender dkk.,2004;Knauss & Knauss, 2012).



Kelebihan Terapi Kelompok
Terapi kelompok ini sangat menekankan interaksi interpersonal. Intervensi terapis kelompok sering menyoroti bagaimana para anggota kelompok saling merasakan, berkomunikasi dan membentuk hubungan satu sama lain. Terapi kelompok memungkinkan jaringan hubungan yang jauh lebih kompleks untuk berkembang.

Kekurangan Terapi Kelompok
Kerahasiaan adalah isu-isu etik yang secara khusus relevan dengan terapi kelompok.
Konsekuensi seorang klien yang melanggar kerahasiaan klien secar serius dapat mempengaruhi  kehidupan professional atau pribadi klien yang kerahasiannya dilanggar. Disamping itu, pelanggaran semacam ini membuat kelompok terapi tampak tidak aman dan tidak layak dipercaya, yang mengurangi pengungkapan diri oleh klien-klien lain.



















Tidak ada komentar:

Posting Komentar