PENGANTAR PSIKOLOGI TERAPI
Pengertian Psikoterapi
Psikoterapi berasal dari kata Psyche dan Therapy
Psyche:mind / jiwa
Therapy:merawat, mengobati, menyembuhkan
Wolberg dan Frank (1969, dalam Phares 1992):
"Psikoterapi adalah suatu bentuk perlakuan (treatment) terhadap masalah yang sifatnya emosional, dimana seseorang yang terlatih secara sengaja membina hubungan profesional dengan seorang klien, dengan tujuan menghilangkan, mengubah atau memperlambat simptom, untuk menegentarai pola perilaku terganggu, dan meningkatkan pertumbuhan dan perkembangan pribadi yang positif."
Definisi Frank tentang psikoterapi ialah:
"Sebagai interaksi terencana antara seseorang yang terlatih , yang mempunyai kewenangan sosial untuk melakukan terapi, dengan seseorang yang menderita, dimana dalam interaksi ini berusaha untuk meringankan penderitaan, melalui komunikasi simbolis, khususnya kata-kata maupun aktivitas fisik."
B.P.Dwiriyanti dan Hendro Prabowo (1998, dalam Psikologi Umum 2):
"Psikoterapi adalah perawatan dan penyembuhan terhadap gangguan dan penyakit jiwa dengan cara yang lebih psikologis daripada fisiologis maupun biologis."
Eysenck(1961), merumuskan psikoterapi dalam beberapa ciri, yakni:
- Hubungan antar perorangan yang berlangsung lama.
- Melibatkan seseorang yang terlatih
- Adanya ketidakpuasan pada diri klien tentang sesuatu yang emosional atau penyesuain diri.
- Pemakain metode pikologi.
- Aktivitas yang mendasarkan pada teori tentang kelainan mental.
- Melalui hubungan yang dilakukan, bertujuan memperbaiki ketidakpuasannya terhadap diri sendiri.
Tujuan Psikoterapi
Hokanson (1983, dalam Phares)membahas psikoterapi yang bertujuan untuk mengubah krisis, untuk perubahan tingkah laku, untuk mengubah pengalaman emosional, dan untuk mengubah pemahaman (insight).Phares (1992)psikoterapi dapat dibedakan dalam beberapa aspek, yakni menurut kedalamannya dan tujuannya.
Psikoterapi menurut kedalamannya dibedakan menjadi:psikoterapi suportif, psikoterapi reedukatif, psikoterapi rekonstruktif.
Psikoterapi menurut tujuannya:
Psikoterapi suportif bertujuan memperkuat perilaku penyesuaian diri klien yang sudah baik, memberi dukungan psikologis, dan menghindari diri dari usaha untuk menggali apa yang ada dalam alam-bawah sadar klien. Psikoterafi suportif biasanya dilakukan untuk memberikan dukungan pada klien untuk tetap bertahan menghadapi kesulitannya.
Psikoterapi reedukatif bertujuan untuk mengubah pikiran atau perasaan klien agar ia dapat berfungsi lebih efektif. Terapis tidak hanya memberi dukungan, tetapi juga mengajak klien untuk mengkaji ulang keyakinan klien, mendidik kembali, agar ia dapat menyesuaikan diri lebih baik setelah mempunyai pemahaman yang baru atas persoalannya. Terapis tidak hanya membatasi diri membahas kesadaran namun juga tidak terlalu menggali ketidaksadaran. Psikoterafi reedukatif ini biasanya terjadi pada konseling.
Psikoterapi rekonstruktif bertujuan mengubah keseluruhan pribadi klien, dengan menggali ketidaksadaran, meganalisis mekanisme defensif yang patologis, memberi pemahaman akan adanya proses-proses tidak sadar dan seterusnya. Psikoterafi rekonstruktif berkaitan dengan pendekatan psikoanalisis dan biasanya berlangsung intensif dalam jangka waktu yang sangat lama.
Stefflre dan Grant (1972) tujuannya usaha untuk mengubah struktur kepribadian yang mendasar, tidak hanya memperhatikan saat sekarang tetapi juga memperhatika saat yang akan datang
Unsur Psikoterapi
Unsur-unsur psikoterapi:
- Dua individu saling terikat dalam interaksi yang bersifat rahasia, dimana klien dibukakan untuk menjadi tahu.
- Interaksi umumnya terbatas pada pertukaran verbal.
- Interaksi berlangsung dalam jangka waktu yang lama.
- Hubungan bertujuan untuk mengubah perilaku tertentu pada klien,yang telah disetujui oleh kedua belah pihak.
Perbedaan antara Psikoterapi dan Konseling
Perbedaan psikoterapi dan konseling akan dibedakan menurut:tujuan,mengenai klien konselor dan penyelenggaranya,metode.
Perbedaan psikoterapi dan konseling menurut tujuannya.
Blocher (1966)membedakan konseling dan psikoterapi menurut tujuannya secara singkat:
- Konseling :developmental - edukatif - preventive.
- Psikoterapi:remediative - adjustive - therapeutic.
Blocher (1966)mengemukakan ciri-cirinya untuk membedakan antara konseling dan psikoterapi, sebagai berikut:
- Klien yang menjalani konseling tidak digolongkan sebagai penderita penyakit jiwa, tetapi dipandang sebagai seseorang yang mampu memilih tujuan-tujuannya, membuat keputusan dan secara umum bisa bertanggung jawab terhadap perbuatannya sendiri dan terhadap hari depannya.
- Konseling dipusatkan pada keadaan sekarang dan yang akan datang.
- Klien adalah klien dan bukan pasien. Konselor bukanlah sosok otoriter namun adalah seorang pendidik dan mitra dari klien dalam melangkah bersama mencapai tujuan.
- Konselor tidaklah netral secara moral atau tidak bermoral, melainkan memiliki nilai-nilai, perasaan dan normanya sendiri, meskipun konselor tidak memaksakan pada klien , tetapi tidak menutupinya.
- Konselor memusatkan pada perubahan tingkah laku, tidak hanya menumbuhkan pengertian.
Stefflre dan Grant(1972) meringkasnya sebagai berikut:
"Konseling ditandai oleh jangka waktu yang lebih singkat, lebih sedikit waktu pertemuannya,lebih banyak melakukan evaluasi psikologis, lebih memperhatikan masalah sehari-hari klien, lebih memfokuskan pada aktivitas kesadaraan, lebih memberikan nasihat, kurang berhubungan dengan transferen, lebih menekankan pada situasi yang riil, lebih kognitif dan berkurangnya intensitas emosi,lebih menjelaskan atau menerangkan dan lebih sedikit kekaburannya."
Brammer dan Shostrom (1977)mengemukakan bahwa:
- Konseling ditandai oleh adanya terminologi seperti:"educational,vocational, supportive, situasional, problem solving, conscious awareness, normal, present time, short time."
- Psikoterapi ditandai oleh:supportive (dalam keadaan krisis), reconstruktive, depth emphasis,analytical, focus on the past, neurotic and other severe emotional problems and long term."
Pendekatan Psikoterapi Terhadap Mental Illness.
J.P Chaplin berpendapat bahwa mental illness atau mental disorder (kekacauan mental, penyakit mental) merupakan
ketidakmampuan menyesuaikan diri yang serius sifatnya, yang mengakibatkan
ketidakmampuan tertentu. Sumber kekacauan tersebut bisa bersifat psikogenesis
maupun organis, dan mencakup reaksi psikotis maupun reaksi neurotis yang lebih
serius.
Ada beberapa pendekatan psikoterapi mental illness, diantaranya;
Meliputi keadaan mental organic, penyakit afektif, psikosis dan
penyalahgunaan zat. Menurut Dr. John Grey, Psikiater Amerika (1854) pendekatan
ini lebih manusiawi. Pendapat yang berkembang waktu itu adalah penyakit mental
disebabkan karena kurangnya insulin.
Psychological
Meliputi suatu peristiwa pencetus dan efeknya terhadap perfungsian yang
buruk, sekuel pasca-traumatik,
kesedihan yang tak terselesaikan, krisis perkembangan, gangguan pikiran dan
respon emosional penuh stress yang ditimbulkan. Selain itu pendekatan ini juga
meliputi pengaruh sosial, ketidakmampuan individu berinteraksi dengan
lingkungan dan hambatan pertumbuhan sepanjang hidup individu.
Sosiological
Meliputi kesukaran pada system dukungan sosial, makna sosial atau budaya
dari gejala dan masalah keluarga. Dalam pendekatan ini harus mempertimbangkan
pengaruh proses-proses sosialisasi yang berlatarbelakangkan kondisi
sosio-budaya tertentu.
Philoshopic
Kepercayaan terhadap martabat dan harga diri seseorang dan kebebasan diri
seseorang untuk menentukan nilai dan keinginannya. Dalam pendekatan ini dasar
falsafahnya tetap ada, yakni menghargai system nilai yang dimiliki oleh klien,
sehingga tidak ada istilah keharusan atau pemaksaan.
TERAPI PSIKOANALISA
Konsep Dasar Teori Psikoanalisa
Psikoanalisis
adalah sebuah model perkembangan kepribadian, filsafat tentang sifat manusia
dan metode psikoterapi.
Terapi psikoanalisa yang pertama muncul secara historis. Faktanya, selama sebagian besar paruh pertama tahun 1990-an pendekatan psikodinamik/psikoanalisa begitu dominan, banyak terapi yang muncul selama dekade-dekatde setelah itu merupakan reaksi terhadap pendekatan psikodinamik/psikoanalisa.
- Struktur Kepribadian.
- id,merupakan bagian yang paling primitif dalam kepribadian. Id merupakan sumber energi utama yang memungkinkan manusia untuk bertahan hidup. Id terdiri dari dorongan-dorongan biologis dan memperoleh kenikmatan seksual.Cara pemuasan dorongan-dorongan tersebut menuruti suatu prinsip kesenangan. Di dalam id ada dua jenis energi yang bertentangan yaitu insting kehidupan (libido) dan insting kematian.
- Ego, adalah bagian "eksekutif" berfungsi secara logis berdasarkan prinsip kenyataan dan proses sekunder yaitu suatu proses logis untuk melihat kenyataan dalam usahanya memenuhi cara pemuasan dorongan Id secara realistis. Fungsi Ego ini berguna untuk menyaring dorongan-dorongan yang ingin dipuaskan id berdasarkan kenyataan.
- Super ego adalah gambaran internalisasi nilai dan moral masyarakat yang diajarkan orangtua dan orang lain pada anak. Super ego merupakan hati nurani seseorang, yang akan menilai apakah perbuatannya benar atau salah.
- Pandangan tentang sifat manusia, pada dasarnya peministik, deterministik, mekanistik dan reduksionistik.
- Aktivitas mental manusia:
- Kesadaran (consious level), pada tingkat ini aktivitas mental bisa kita sadari setiap saat. Sebagian ego dan super ego berada pada tingkat ini.
- Tingkat prasadar (preconsious level), dimana kita bisa menyadari gejala psikis yang timbul hanya bila kita memperhatikannya. Contohnya memori, pengetahuan yang telah dipelajari, norma moral yang tidak kita butuhkan dalam kehidupan sehari-hari.
- Tingkat tidak disadari (unconscious level, dimana timbulnya gejal-gejala psikis yang sama sekali tidak disadari, sulit untuk dijelaskan.
- Mekanisme pertahanan
- Represi,ketika id mempunyai sebuah impuls dan super ego menolaknya maka ego dapat merepresi (menekan) kesadaran tentang impuls tersebut dan konflik id/super ego diseputar itu.
- Proyeksi, ketika id mempunyai impuls dan super ego menolaknya ego dapat memproyeksikan id tersebut ke orang lain di sekitar kita. Kita mencoba menyakinkan diri sendiri bahwa impuls yang tidak dapat diterima adalah milik orang lain, bukan milik kita.
- Bentuk reaksi, Ketika id mempunyai impuls dan super ego menolaknya , ego dapat membentuk sebuah reaksi melawan impuls id itu, secara esensial melakukan hal yang merupakan lawan dari impuls tersebut.
- Pengalihan, ketika id mempunyai sebuah impuls dan super ego menolaknya, maka ego dapat mengalihkan impuls tersebut ke arah target yang lebih aman.
- Sublimasi, ketika id mempunyai sebuah impuls dan super ego menolaknya , ego dapat menyublimasikannya, secara esensial mengalihkan arahnya sedemikian rupa sehingga perilaku yang dihasilkannya sebenarnya menguntungkan orang lain.
- Perkembangan psikoseksual:
- Tahap Oral, terjadi sekitar satu setengah pertama kehidupan anak, selama masa ini anak mengalami semua sensasi kenikmatan melalui mulut dan feeding (memberi makan)asi atau botol adalah isu utamanya.
- Tahap Anal, terjadi sekitar 1,5 tahun sampai 3 tahun. Latihan toilet adalah salah satu tugas utama tahap ini, tetapi bukan satu-satunya cara anak belajar untuk mengontrol dirinya sendiri. Kontrol adalah isu sentral tahap ini.
- Tahap Falik, yang terjadi pada anak umur 3 sampai 6 tahun, yaitu masa dimanawilayah genital menjadi zone erogen utama. Tahap ini ditandai pertama kalinya lewat dikotomi perkembangan pria dan wanita,yang disebabkan perbedaan anatomi oleh kedua jenis kelamin tersebut.
- Tahap Laten, pada tahun ke 6 sampai masa puber, baik anak alai-laki maupun perempuan, tetapi tidak selalu. Fase latin ini sebagian dimunculkan oleh upaya orang tua menghukum atau mencegah aktivitas seksual.
- Tahap Genital, masa puber menandai penyadaran kembali tujuan seksual dan mulai periode genital
Unsur - Unsur Psikoterapi
Tujuan Terapi Psikoanalisi- Membentuk kembali struktur karakter kepribadian individu dengan jalan membuat kesadaran yang tidak disadari di dlam diri kien.
- Focus pada upaya mengalami kembali pengalaman masa anak-anak.
- Terapis membiarkan dirinya anonim dan hanya berbagi sedikit perasaan dan pengalaman sehingga klien memproyeksikan dirinya kepada terapis.
- Peran terapis
- Membantu klien dalam mencapai kesadaran diri, kejujuran, keefektifan dalam melakukan hubungan personal dalam menangani kecemasan secara realistis.
- Membangun hubungan kerja dengan klien, dengan banyak mendengar dan menafsirkan.
- Terapis memberikan perhatian khusus pada penolakan-penolakan klien.
Hubungan Terapis dan Klien
- Mendengarkan kesenjangan-kesenjangan dan pertentangan - pertentangan pada cerita klien.
- Hubungan dikonseptualkan dalam proses tranferensi yang menjadi inti terapi psikoanalisa.
- Transferensi mendorong klien untuk mengalamtkan pada terapis "urusan yang belum selesai" yang terdapat dalam hubungan klien di masa lalu dengan orang yang berpengaruh.
- Sejumlah perasaan klien timbul konflik-konflik seperti: percaya lawan tak percaya, cinta lawan benci.
- Transferensi yang terjadi pada saat klien membangkitkan kembali konflik masa dininya yang menyangkut cinta, seksualitas, kebencian, kecemasan dan dendamnya.
- Jika analis mengembangkan pandangan yang tidak selaras yang berasal dari konflik-konflik sendiri maka akan terjadi kontra transferensi. Bentuk kontra transferensiperasaan tidak suka/ keterlibatan lebih jauh. Kontra transferensi ini dapat mengganggu kemajuan proses terapi.
Teknik - Teknik Terapi Psikoanalisa
Teknik-teknik dalam psikoanalisa disesuaikan untuk meningkatkan kesadarn, memperoleh pemahaman intelektual atas tingkah laku klien, serta untuk memahami makna dari beberapa gejala. Kemajuan terapeutik diawali dengan pembicaraan klien ke arah katarsis, pemahaman, hal-hal yang tidak disadar, sampai dengan tujuan pemahaman masalah-masalah intelektual dan emosional.
Corey (1995) teknik-teknik psikonalisa:
- Asosiasi Bebas.
- Penafsiran.
- Analisis Mimpi.
- Resistensi.
- Transferensi.
Asosiasi bebas merupakan teknik utama psikoanalisa.Terapis meminta klien agar membersihkan pikirannya dari pikiran-pikiran dan renungan-renungan sehari-hari, serta sedapat mungkin mengatakan apa saja yang terlintas dalam pikiran. Cara yang khas adalah mempersilakan klien berbaring diatas balai-balai sementara terapisnya duduk dibelakangnya, sehingga tidak mengalihkan perhatian klien pada saat asosiasinya mengalir dengan bebas.
Asosiasi bebas merupakan suatu metode pemganggilan kembali pengalaman-pengalaman masa lampau dan pelepasan emosi-emosi yang berkaitan dengan situasi trauma masa lampau, yang kemudian di kenal dengan katarsis. Katarsis hanya menghasilkan perbedaan sementara atas pengalaman-pengalaman menyakitkan klien, tetapi tidak memainkan peran utama dalam proses treatment.
Penafsiran / Interpretasi (Corey,1995)
Penafsiran merupakan proses dasar di dalam menganalisa asosiasi bebas, mimpi-mimpi, resistensi dan transferensi.
Caranya adalah dengan tindakan-tindakan terapis untuk menyatakan, menerangkan dan mengajarkan klien makna-makna tingkah laku apa yang dimanifestasikan dalam mimpi, asosiasi bebas, resistensi dan hubungan terapeutik itu sendiri.
Fungsi penafsiran ini adalah mendorong ego untuk mengasimilasikan bahan-bahan baru dan mempercepat proses pengungkapan alam bawah sadar secar lebih lanjut. Penafsiran yang diberikan terapis menyebabkan adanya pemahaman dan tidak terhalanginya alam bawah sadar pada diri klien.
Analisis Mimpi (Corey,1995)
Analisis mimpi adalah cara yang penting untuk mengungkap alam bawah sadar dan memberikan kepada klien pemahaman atas beberapa masalah yang tidak terselesaikan. Selama tidur, pertahanan melemah sehingga perasaan yng direpres akan muncul ke permukaan meski dengan bentuk lain. Freud memandang bahwa mimpi merupakan ' jalan istimewa menuju ketidaksadaran", karena melaui mimpi tersebut hasrat-hasrat, kebutuhan- kebutuhan, ketakutan tak sadar dapat diungkapkan. Beberapa motivasi sangat tidak dapat diterima oleh seseorang, sehingga akhirnya diungkapkan dalam bentuk yang disamarkan atau disimbolkan dalam bentuk yang berbeda.
Mimpi memiliki dua taraf, yaitu isi laten isi manifes.
Isi laten, terdiri dari motif-motif yang disamarkan, tersembunyi, simbolik dan tidak disadari. Karena begitu menyakitkan dan mengancam, maka dorongan-dorongan seksual dan perilaku agresif tak sadar ditransformasikan ke dalam isi manifes yang dpat diterima, yaitu impian yang tampil pada sipemimpi sebagaimana adanya.
Tugas terapis adalah mengungkap makna-makna yang disamarkan dengan mempelajari simbol-simbol yang terdapat dalam isi manifes. Didalam proses terapi, terapis juga dpat meminta klien untuk mengasosiakan secar bebas sejumlah aspek isi manifes impian untuk mengungkap makna-makna yang terselubung.
Resistensi (Corey,1995).
Resistensi adalah sesuatu yang melawan kelangsungan terapi dan mencegah klien mengemukakan bahan yang tidak disadari. Selama asosiasi bebas dan analis mimpi, klien dapat menunjukkan ketidaksediaan untuk menghubungkan pikiran, perasaan dan pengalaman tertentu.
Freud memandang bahwa resistensi dianggap sebagai dinamika tak sadar yang digunakan oleh klien sebagai pertahanan terhadap kecemasan yang tidak bisa dibiarkan, yang akan meningkat jika klien marasa sadar atas doronga yang direpres tersebut.
Di dalam proses terapi, resistensi bukanlah sesuatu yang harus diatasi, karena merupakanperwujudan dari pertahanan klien yangbiasa dilakukan sehari-hari. Resistensi ini dapat dilihat sebagai sarana untuk bertahan klien terhadap kecemasan, meski sebenarnya menghambat kemamouannya untuk menghadapi hidup yang lebih memuaskan.
Transferensi (Corey,1995).
Resistensi dan transferensi merupakan dua hal inti dlaam psikoanalisa. Transfersi dalam keadaan normal adalah pemindahan emosi dari satu objek ke objek lainnya, atau secar lebih khusus pemindahan emosi orangtua ke terapis. Dalam keadaan neurosis merupakan pemuasan libido klien yang diperoleh melalui mekanisme pengganti. Seperti ketika seorang klien menjadi lekat dan jatuh cinta pada terapis sebagai pemindahan dari orangtuanya.
Transferensi menjewantah ketika dalam proses terapi ketika "urusan yang tidak selesai" masa lalu klien dengan orang-orang yang dianggap tidak berpengaruh menyebabkan klien mendistorsi dan bereaksi terhadap terapis sebagaimana dai bereaksi terhadap orangtuanya.
Dalam hubungannya dengan terapis, klien mengalami kembali perasaan menolak dan membenci sebagaimana dulu yang dirasakan kepada orangtuanya. Tugas terapis adalah membangkitkan neurosis transferensi klien dengan kenetralan, objektifitas, keanoniman dan kepasifan yang relatif. Dengan ini , maka diharapkan klien dpaat menghidupkan kembali masa lampaunya dalam terapi dan memungkinkan klien mampu memperoleh pemahaman atas sifat-sifat dari fikasasi, konflik atau deprivasinya, serta megatakan pada klien suatu pemahaman mengenai pengaruh masa lalu terhadap kehidupannya saat ini.
DAFTAR PUSTAKA
- Feist, Jess.,Feist, Gregory J.(2014).Teori kepribadian. Jakarta: Salemba Humanika.
- Riyanti,B.R Dwi.,Prabowo,Heru.(1998). Psikologi umum 2. Jakarta: Gunadarma.
- Pomerantz,Andrew M.(2013).Clinical psychology.(2013). Singapura : SAGE publication.
- I.S,Suprapti Slamet.,Markam,Sumarmo.(2006).Pengantar psikologi klinis.Jakarta:Universitas Indonesia.
- Rini Indryawati. Psikoterapi. http://indryawati.staff.gunadarma.ac.id/Downloads/folder/0.2. Diakses 18 Maret 2016 pukul 21.00 WIB.
·
Tidak ada komentar:
Posting Komentar